DEMOCRAZY.ID — Gelombang kemarahan publik terhadap eksistensi politik mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo kian membara di akar rumput.
Politisi senior Ferdinand Hutahean melontarkan kecaman terbuka, menilai bahwa pelbagai persoalan krusial dan kerusakan struktural yang mendera Indonesia hari ini merupakan buah pahit dari warisan kebijakan satu dekade rezim terdahulu.
Kritik tajam tersebut merespons aksi demonstrasi masif yang diggelar oleh Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak (ARIB) langsung di depan kediaman pribadi Jokowi di Solo.
Ferdinand menyerukan agar perlawanan politik serupa tidak berhenti di satu titik saja, melainkan direplikasi secara masif di berbagai daerah manapun sang mantan presiden melawat.
“Indonesia rusak karena Jokowi. Lakukan apa yang dilakukan massa kemarin di setiap daerah ketika dia datang, lakukan itu. Semua harus lakukan itu karena dia harus diberi hukuman politik,” tegas Ferdinand, dikutip Sabtu (12/9/2026).
Ia juga mengingatkan masyarakat agar waspada dan tidak kembali terperangkap dalam muslihat pencitraan politik yang dinilainya semata-mata demi melanggengkan kepentingan dinasti keluarga.
“Jangan mau diperdaya Jokowi. Jangan mau ditipu muslihat oleh dia hanya untuk politik dan keluarganya,” tuturnya.
Menurutnya, kesadaran kolektif publik yang kian terbuka akan memicu gelombang penolakan yang semakin meluas di masa mendatang.
“Yang mau kita lihat adalah bahwa hal seperti ini ke depan akan banyak terjadi karena masyarakat semakin paham, semakin tahu dia yang sesungguhnya,” imbuhnya, seraya menegaskan bahwa gerakan tersebut murni sebagai bentuk sanksi moral dan politik, bukan kekerasan fisik.
kerumunan di depan gang dekat rumah Jokowi di Solo. Di lokasi itu, massa aksi demo dan massa pendukung Jokowi sempat saling berhadapan dan tegang.
Pendemo dihadang pendukung yang juga sedang melakukan aksi protes. Suasana terlihat ramai, ada bendera merah-putih, poster, dan… pic.twitter.com/quwl9v9Off— Jawa (@independentjawa) September 10, 2026
Gelombang protes di depan rumah Jokowi di Solo sebelumnya diwarnai oleh aksi unjuk rasa beruntun dari ARIB yang membentangkan berbagai spanduk bernarasi keras, seperti “Jokowi Jongos Oligarki”, “Jokowi Power Syndrome”, “Jokowi dan Dinasti Haus Kuasa”, hingga tuntutan untuk “Bubarkan Geng Solo dan Dinasti Jokowi”.
Koordinator Aksi Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak, Bangun Sutoto, menjelaskan bahwa aksi tersebut tidak lepas dari akumulasi kekecewaan publik terhadap manuver-manuver politik pasca-purna tugas, termasuk polemik pernyataan bernuansa indikasi makar yang sempat dilontarkan oleh Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi, di mana Jokowi tampak berada di sampingnya.
Sebagai bentuk protes simbolik, massa bahkan membawa sepucuk surat serta sebuah plakat khusus untuk dikirimkan langsung kepada sang mantan presiden.
“Kami ingin menyampaikan sepucuk surat dan satu buah plakat untuk Bapak Jokowi karena menurut kami Bapak Jokowi belum lama ini duduk di sebelah kiri saudara Budi Arie yang menyampaikan indikasi adanya makar. Karena itu kami sebagai anak bangsa mewakili seluruh rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam,” ujar Bangun.