Politikus Senior: Nggak Peduli Lewat Cara Halal Atau Haram, Jokowi Bakal Terus Kejar Kekuasaan, Berhenti Kalau Sudah Makan Tanah!

DEMOCRAZY.ID — Serangan terbuka terhadap sisa-sisa cengkeraman kekuasaan mantan Presiden Joko Widodo dilayangkan oleh tokoh sentral reformasi sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat, Amien Rais.

Ia melontarkan peringatan keras bahwa Jokowi merupakan figur politikus yang tidak pernah kenyang akan kekuasaan dan takkan pernah rela melepaskan kendali pengaruh politik yang telah dibangunnya selama satu dekade.

Menurut Amien, segala manuver dan intrik politik yang dimainkan saat ini tidak lain adalah upaya sistematis untuk merebut dan mengontrol kembali poros kekuasaan nasional dengan menghalalkan segala cara.

“Saya ingin mengingatkan Mas Jokowi tentang bahaya politik dari move-move politiknya yang berbahaya. Jokowi adalah sosok politik yang haus dan lapar kekuasaan tanpa batas,” kata Amien dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

“Dalam konteks ini, Jokowi saya yakin sosok yang tidak akan pernah berhenti mengejar kekuasaan kecuali kalau nanti sudah makan tanah,” imbuhnya tajam.

Proyek Dinasti dan Isu Percepatan Pemilu

Amien menilai, ambisi tak bertepi tersebut dibuktikan dengan berbagai upaya kasatmata untuk menempatkan anggota keluarga di puncak piramida kekuasaan, termasuk ambisi melanggengkan posisi Gibran Rakabuming Raka untuk ditarik menuju kursi kepemimpinan tertinggi di masa depan.

Bagi Amien, prinsip politik yang dipegang lingkaran tersebut sangat pragmatis dan destruktif.

“Nah Jokowi memegang teguh ilmu pokoknya, pokoknya saya harus tetap bisa mengendalikan Indonesia, pokoknya anak saya harus berada di puncak piramid kekuasaan, pokoknya dengan segala cara halal atau haram tujuan politik saya harus tercapai,” tutur Amien.

Lebih jauh, ia mengaitkan indikasi makar politik tersebut dengan gelagat yang belakangan dipertontonkan oleh barisan pendukung setia, termasuk pernyataan Ketua Umum Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi yang sempat melontarkan wacana percepatan pemilu di luar jadwal konstitusional 2029.

Meskipun yang bersangkutan sempat meralat atau meminta maaf, Amien menilai pesan politik di balik narasi tersebut sudah terbaca secara terang-terangan oleh publik.

“Nah omongan Budi Arie yang tidak begitu cerdas didampingi Jokowi bahwa kalau bisa pilpres dipercepat tidak usah menunggu tahun 2029, saya rasa itu sangat mengerikan,” ujar tokoh senior reformasi itu.

“Sehari kemudian penjahat judol ini minta maaf tetapi tidak ada gunanya. Karena masyarakat sudah menyimpulkan ada makar besar yang sudah disiapkan Jokowi,” tambahnya.

Ancaman People Power Jilid II

Menutup peringatannya, Amien Rais melayangkan alarm bahaya kepada pihak-pihak yang mencoba merekayasa konstelasi politik secara ugal-ugalan demi ambisi sempit.

Ia memperingatkan bahwa rekayasa politik yang mencederai akal sehat rakyat berisiko memantik kemarahan massa di tingkat akar rumput yang tak lagi terkendali.

Ia bahkan menarik garis pararel dengan momentum kejatuhan rezim Orde Baru pada Mei 1998 silam, manakala ketidakadilan dan rekayasa kekuasaan menemui jalan buntu.

“Tetapi kalau kondisi dan situasinya makin gemuruh akibat political engineering para pendukung Jokowi yang kebelet ingin berkuasa kembali, perkembangan di lapangan bisa lepas kendali,” tegasnya.

“Bisa saja terjadi kembali semacam people power yang memuncak pada 21 Mei tahun 1998. Kalau sampai ini terjadi lagi, mungkin akan memakan korban jiwa yang jauh lebih besar,” pungkas Amien.

Artikel terkait lainnya