Peristiwa KM 50 Hingga Tragedi Kanjuruhan Diungkit Lagi: Jokowi Itu Pembunuh, Tapi Lagaknya Kayak Orang Benar!

DEMOCRAZY.ID — Kecaman keras tanpa kompromi dilayangkan oleh Aktivis ’98, Rustam Effendi, terhadap mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Reaksi pedas tersebut menyusul pernyataan moral yang sempat dilontarkan Jokowi terkait penggunaan kekuasaan yang tidak boleh dipakai untuk menekan atau menjatuhkan lawan politik.

Pernyataan retoris sang mantan kepala negara itu dinilai Rustam sebagai bentuk kemunafikan akut, kontras dengan rekam jejak kekuasaannya selama satu dekade memimpin Indonesia.

“Seolah-olah kan kayak dia orang bener gitu, kan. Jadi penguasa kalau berkuasa tidak boleh menekan, membunuh. Padahal dia kan pembunuh yang banyak,” kata Rustam dalam keterangannya, dikutip Jumat (11/9/2026).

Deretan Luka Sejarah dan Korban Jiwa

Rustam merinci sejumlah tragedi kemanusiaan berdarah serta rentetan peristiwa kelam yang terjadi di bawah payung kekuasaan rezim terdahulu.

Ia menyebut berbagai insiden yang merenggut nyawa warga sipil, mulai dari kasus penembakan laskar FPI di KM 50, kerusuhan pascapilpres di depan gedung Bawaslu, Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan puluhan suporter sepak bola, hingga jatuhnya korban jiwa dari kelompok penyelenggara pemilu (KPPS).

Selain tragedi dengan korban jiwa massal, ia juga menyoroti gelombang pembungkaman suara kritis melalui penangkapan sewenang-wenang terhadap para aktivis pro-demokrasi serta tokoh nasional.

“KM 50, Bawaslu, Kanjuruhan, KPPS, ribuan yang dibunuh. Tapi dengan seolah-olah dia orang bersih, orang baik, berani ngomong begitu,” cetus Rustam.

“Semenjak rezim Jokowi, kita tahu berapa banyak orang yang meninggal. Dan berapa banyak aktivis yang ditangkap-tangkap, gitu kan? Termasuk juga anak Soekarno ditangkap juga,” imbuhnya.

Sentil Proyek Mangkrak dan Janji Kosong

Tidak hanya isu pelanggaran hak asasi dan pembungkaman politik, Rustam turut membongkar kembali sederet proyek mercusuar serta janji-janji populis yang kerap menjadi bahan sorotan publik sepanjang era kepemimpinan Jokowi, mulai dari megaproyek Ibu Kota Nusantara (IKN), polemik membengkaknya utang kereta cepat, hingga romantisme purba mobil Esemka.

Deretan narasi pembangunan tersebut dinilainya sebagai rangkaian kebohongan publik berskala masif yang mencederai akal sehat bangsa.

“Pembohongan apa yang nggak dibohongin dari Jokowi? IKN, kereta cepat, Esemka, kan pembohongan juga. Luar biasa orang ini,” ketusnya.

Berangkat dari akumulasi kekecewaan tersebut, Rustam menegaskan bahwa faksi aktivis dari berbagai daerah telah satu suara untuk merapatkan barisan guna membongkar serta menghentikan sisa-sisa pengaruh politik keluarga istana.

“Makanya kami aktivis, nasional maupun daerah, berupaya sepakat untuk menghilangkan dinasti Jokowi,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya