DEMOCRAZY.ID – Agak sulit dipercaya nalar, sejumlah investor asing menyatakan minat membenamkan modalnya di Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim).
Beberapa waktu lalu, Kepala Otorita IKN (OIKN), Basuki Hadimuljono membanggakan masuknya sejumlah investor China (Tiongkok).
Salah satunya PT Star Bright International Investment, perusahaan terafiliasi Zhongda Jiancheng Engineering Management Group Co, Ltd.
Pengembang ini tertarik membangun apartemen di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Nilai investasi yang ditancapkan mencapai Rp1,27 triliun.
“Ini investor asing pertama yang membangun hunian di KIPP. Kami berharap proyek ini memicu masuknya investasi lain,” kata Basuki di Jakarta, dikutip Rabu (22/7/2026)
Basuki menyebut, proyek hunian yang berada di Wilayah Perencanaan 1B KIPP, dirancang sebagai kawasan apartemen terintegrasi dengan fasilitas restoran, ritel, pusat kebugaran, dan area komersial.
Basuki menegaskan, pembangunan hunian oleh investor asing menjadi bagian dari percepatan pembentukan ekosistem permukiman dan aktivitas ekonomi di kawasan inti IKN.
“Kami ingin kawasan ini segera hidup. Kehadiran hunian akan mendukung operasional pemerintahan dan kegiatan ekonomi,” katanya.
Dari penelusuran jejak digital, cukup banyak investor asing yang menyatakan tertarik berinvestasi di IKN. Namun semuanya hanya ‘omong-omong’ belaka. Tak ada wujudnya hingga detik ini.
Ya, wajarlah. Setiap membelanjakan duitnya, para investor pasti menggunakan kalkulator ekonominya.
Bahwa setiap investasi yang dikeluarkan haruslah menghasilkan cuan alias untung.
Masalahnya, IKN adalah kota yang infrastruktur ekonominya masih jauh dari memadai.
Terutama jumlah penduduk dan tingkat konsumsi yang masih minim. Keduanya bak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Berdasarkan hasil Pendataan Penduduk Ibu Kota Nusantara (PPIKN) Tahun 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), jumlah penduduk IKN hanya 147,43 ribu jiwa, atau setara 43.293 kepala keluarga (KK). Dengan luas wilayah kira-kira 4 kali Jakarta.
Masih jauh dari mencukupi di mata investor. Ekonom (Alm) Faisal Basri pernah menyebut, jumlah penduduk di IKN harus di atas 2 juta baru IKN menarik di mata investor.
Kalau penduduknya masih sedikit, jangan percaya ada investor yang serius masuk ke IKN.
Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio mengatakan, wajar jika investor asing enggan masuk ke IKN yang penduduknya masih kecil.
Pemilik modal tentunya berpandangan bahwa proyek tersebut kurang prospektif secara bisnis.
“Indikator utama dalam berinvestasi adalah imbal hasil ada atau tidak? Kalau ada, berapa? Nah, jadi buat apa investasi kalau merugi. Kan gitu,” tandasnya.
Imbal hasil investasi tersebut salah satunya yang paling besar didapatkan dari tingkat konsumsi oleh populasi di wilayah tersebut.
Sementara itu, populasi penduduk IKN untuk beberapa tahun ke depan belum dapat diperkirakan. Sebab hanya ASN tertentu saja yang akan pindah.
“Kalau masih greenfield itu mana ada investor mau. Kalau infrastruktur tidak ada, masa suruh investasi? Mau bikin apa, kan masih belum tahu di situ berapa orang yang akan tinggal, kelas apa, kan belum ada,” kata Agus.
Presiden Direktur PT Star Bright International Investment, Lu Keming mengatakan, pembangunan tahap awal, mencakup dua menara apartemen.
Dua menara berikutnya dijadwalkan mulai dibangun pada 2028.
“Totalnya empat menara dengan sekitar 680 unit. Kami melihat prospek besar di IKN,” ujarnya.
Unit yang ditawarkan terdiri dari tipe satu hingga tiga kamar dengan kisaran harga Rp600 juta hingga Rp1,2 miliar.
Lu Keming menambahkan, Star Bright aktif mempromosikan peluang investasi IKN kepada pelaku usaha di China.
Dia mengklaim, IKN akan menjadi kota terindah di dunia.
“Pembangunan dimulai setelah proses land clearing selesai pada awal Juli. Bila kelak sudah berdiri, dari apartemen tersebut akan terlihat hamparan perbukitan, Istana Garuda, dan kawasan yudikatif yang saat ini masih dalam tahap pembangunan,” ujarnya.