

DEMOCRAZY.ID – Hubungan FX Hadi Rudyatmo dengan Joko Widodo ibarat dua sisi mata uang yang pernah menyatu dalam kepemimpinan Kota Solo selama dua periode (2005–2012).
Rudy, demikian ia akrab disapa, adalah wakil wali kota yang mendampingi Jokowi, sebelum akhirnya menggantikan posisi tersebut ketika Jokowi melanjutkan karier ke Jakarta.
Dia adalah Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Solo dan mantan Wali Kota Solo periode 2012–2015 serta 2016–2021.
Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Wali Kota Solo mendampingi Jokowi pada 2005–2010 dan 2010–2012.
Namun, dalam sebuah wawancara eksklusif di podcast Akbar Faizal Uncensored di Jakarta, Senin (27/7/2026), mantan Wali Kota Solo yang kini menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Solo itu membongkar sejumlah narasi yang selama ini melekat pada diri Presiden ke-7 RI tersebut.
Dengan nada tegas dan tanpa ragu, Rudy menyebut beberapa di antaranya sebagai kebohongan.
Berikut enam klaim kontroversial yang diluruskan FX Rudy.
Selama bertahun-tahun, publik mengenal kisah perjuangan Jokowi yang konon tiga kali mengalami penggusuran rumah pada masa kecil.
Narasi ini bahkan sering dikutip sebagai pembentuk karakter kepemimpinan Jokowi. FX Rudy membantah keras klaim tersebut.
“Yang digusur tiga kali itu saya, bukan Pak Jokowi.”
Rudy memaparkan riwayat pahit yang ia alami sendiri.
Pertama, pada 1967, ia harus pindah dari Makersari ke Desa Badran setelah ayahnya meninggal dunia.
Kedua, ia kembali digusur akibat proyek normalisasi Bengawan Solo.
Ketiga, ia terusir dari tempat tinggal di sebuah kampung, di mana setiap hari rumahnya dilemari batu oleh warga setempat.
“Bohong, memang bohong,” tegas Rudy menanggapi klaim bahwa Jokowi yang menjadi korban penggusuran.
Pengakuan ini bukan pertama kali disampaikan Rudy. Pada 2021, ia pernah menuturkan pengalaman serupa.
“Selama hidup saya mulai usia 5 hingga 15 tahun, saya pernah tergusur tiga kali tanpa mendapatkan ganti rugi,” ungkapnya kala itu. Namun, baru kali ini ia secara terbuka mengaitkan pengalaman pribadinya dengan narasi yang selama ini diklaim oleh Jokowi.
Kisah pertemuan Jokowi dengan pedagang kaki lima (PKL) sebanyak 54 kali menjadi salah satu cerita heroik yang sering diulang dalam berbagai kesempatan.
FX Rudy mengklarifikasi bahwa angka tersebut tidak mencerminkan kenyataan.
“Tanya wartawan! Hanya 2 kali beliau (Jokowi) yang hadir. Sisanya saya sendiri yang turun.”
Menurut Rudy, angka 54 dipilih semata-mata karena angka 9 dianggap angka terbaik, bukan karena frekuensi pertemuan yang sesungguhnya.
Angka sembilan itu, hasil penjumlahan angka lima dan empat.
“Itu yang diklaim karena waktu itu telepon saya sampaikan saja kita bertemu itu 54 kali. Namun saya kan enggak tahu kondisinya seperti begini ini. Kalau tahu seperti begini ngapain saya harus ngomong seperti itu?”
Rudy mengaku sebagai pihak yang benar-benar turun ke lapangan, bahkan hingga larut malam.
Ia menceritakan pengalamannya menyusuri kawasan Banjarsari dengan sepeda motor, bertemu dengan para pedagang dan waria, hingga harus berlari ketika helmnya terlepas dan identitasnya diketahui.
Mobil bernama SMK (atau Esemka) yang pernah menjadi simbol kebanggaan nasional dan dikaitkan dengan inovasi Jokowi saat menjabat Wali Kota Solo, ternyata bukanlah karya orisinal sang presiden.
FX Rudy mengungkapkan bahwa mobil tersebut adalah mobil pendidikan dari program Menteri Pendidikan untuk siswa SMK praktik. Bukan hasil rancangan Jokowi.
“Itu mobil dari Cina. Mobil SMK itu sebetulnya mobil pendidikan yang dipakai oleh anak-anak siswa sekolah SMK ini untuk praktek.”
Proses pembuatannya pun jauh dari glamor. Sasis mobil dipotong oleh seorang tukang cet bernama Pak Joko Sutresna, lalu dicat ulang.
Mobil itu kemudian dijadikan kendaraan dinas Wali Kota dan Wakil Wali Kota dengan nomor polisi AD 1 dan AD 2.
Bahkan, perjalanan mobil SMK ke Jakarta untuk uji emisi pun dilakukan oleh Rudy, bukan Jokowi.
Hal ini juga dibenarkan oleh Roy Suryo, yang saat itu menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga.
Roy mengklarifikasi bahwa dirinyalah yang menyopiri mobil SMK dari Solo ke Jakarta bersama FX Rudy, bukan Jokowi.
“Itu kita bawa ke Jakarta untuk membuat minta untuk uji emisi itu bisa lulus. Dan saya memanfaatkan waktu itu Roy Suryo,” kenang Rudy.
Kekecewaan Rudy memuncak ketika Jokowi, setelah menjadi presiden, justru menggandeng pabrikan Malaysia, Proton, untuk pengembangan mobil nasional.
Padahal, menurut Rudy, Solo Technopark telah menjalin komunikasi dengan Jerman dan Korea.
“Saya sangat kecewa dengan kerja sama itu, perjuangan mobil nasional Esemka tidak ada artinya,” ujar Rudy dalam kesempatan lain.
Fakta lain yang diungkap Rudy adalah keterlibatan Jokowi dalam partai politik di luar PDI Perjuangan.
Menurutnya, pada Pemilu 2009, di Solo dibentuk kepengurusan Partai Gerindra.
Jokowi, yang saat itu masih menjabat Wali Kota, turut terlibat di dalamnya.
“Setelah itu ada pemilu yang ke-2 2009, itu sudah ada pengurus Gerindra yang ada di Solo. … Pak Jokowi? Iya.”
Namun, Rudy menegaskan bahwa Jokowi tidak masuk dalam struktur kepengurusan, hanya membantu.
“Dia sebagai wali kota. … Dia tidak masuk ke pengurusan, hanya mungkin membantu saja.”
Pengakuan ini mengundang pertanyaan besar mengingat Jokowi kemudian maju sebagai calon presiden dari PDI Perjuangan dan berhadapan dengan Prabowo Subianto, pendiri Gerindra, dalam dua pemilihan presiden berturut-turut.
“Saya agak begitu terkejut juga ketika lawannya dengan Pak Prabowo, mereka tuh selalu melawan terus itu kan. Loh dulu ngapain membentuk kayak begitu itu,” ujar Rudy.
FX Rudy mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam ketika Jokowi mendorong putranya, Gibran Rakabuming Raka, untuk maju sebagai Wali Kota Solo.
Ada dua alasan utama yang dikemukakan Rudy.
Pertama, Jokowi pernah berjanji anak-anaknya tidak akan terjun ke dunia politik.
“Pak Jokowi sudah menyampaikan anaknya tidak akan berpolitik. Pertama kali di situ.”
Kedua, Gibran dinilai belum memiliki pengalaman yang memadai.
“Satu belum belajar. Yang kedua, Gibran kan belum pernah menjadi pengurus RT, pengurus RW, ketua LPMK kan belum pernah.”
Meskipun Rudy menolak, ia tetap menjalankan rekomendasi partai karena loyalitasnya pada Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
“Saya menolak, namun kalau ketua umum memberikan rekomendasi kepada Gibran itu pasti akan saya jalankan.”
Rudy juga mengingatkan bahwa pencalonan Gibran sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 merupakan pelanggaran konstitusi.
“Konstitusi mengatakan harus pernah jadi gubernur, bukan wali kota.”
Gibran sendiri, menurut Rudy, pernah mengungkapkan kekhawatirannya sendiri.
“Nanti takut kena kutukan Tuhan,” kata Rudy menirukan pernyataan Gibran terkait kemungkinan pindah partai.
Puncak keretakan hubungan antara FX Rudy dan Jokowi terjadi ketika Gibran dimajukan sebagai calon wali kota.
Sejak saat itu, Rudy mengaku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Jokowi.
“Sejak beliau minta anaknya jadi wali kota itu saya sudah tidak berkomunikasi sampai sekarang.”
Bahkan ketika diundang dalam berbagai acara kenegaraan, Rudy memilih menghindar.
Ia menceritakan sebuah insiden ketika dirinya diundang sebagai ayatur pembahagiaan, ia keluar dari ruangan tepat sebelum Jokowi masuk.
“Untung saja saya keluar, beliau masuk. Saya keluar, ya masuk ke parkir, beliau datang.”
Jika terpaksa bertemu, Rudy menyatakan akan menyampaikan pesan tegas.
“Saya sudah berkali-kali menyampaikan jangan mengkhianati ketua umum. Kalau mengkhianati ketua umum itu hukumannya tidak ringan.”
Meski demikian, Jokowi di sisi lain masih menyebut hubungan mereka baik.
Dalam sebuah pernyataan pada Desember 2024, Jokowi mengatakan, “Semuanya kan teman, sahabat baik. (Dengan FX Rudy), sudah lama terjalin, bestie. Saya tidak pernah takut mau dijelek-jelekkan. Mereka punya hak, saya juga punya hak. Tuhan tidak tidur,” pungkasnya.
Sumber: AFU