

DEMOCRAZY.ID — Bola panas polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo kian merembet ke ranah pertahanan dan keamanan nasional.
Tokoh militer senior yang juga mantan Danjen Kopassus, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Soenarko, secara terbuka melontarkan pernyataan mengejutkan dengan membongkar adanya jaringan kekuatan besar yang pasang badan melindungi Jokowi dari segala upaya pengusutan hukum.
Menurut Soenarko, pertarungan membongkar kasus ijazah palsu ini bukan lagi sekadar urusan selembar dokumen akademik, melainkan pintu gerbang utama untuk menuntut pertanggungjawaban atas kerusakan struktural yang dituding terjadi selama satu dekade kepemimpinan rezim sebelumnya.
“Kita tahu yang melakukan kelakuan si Jokowi ini adalah sekelompok orang. Para pengkhianat yang merusak bangsa ini. Ya, di dalamnya ada PKI, ada anasir-anasirnya atau tokoh-tokohnya yang ada di dalam pemerintahan dia,” tegas Soenarko.
Lebih jauh, ia membeberkan bahwa tembok perlindungan yang mengitari lingkaran Jokowi berlapis-lapis dan melibatkan berbagai elemen elite berpengaruh, mulai dari purnawirawan jenderal TNI-Polri, tokoh sipil berkuasa, hingga dugaan intervensi kekuatan asing.
Hal inilah yang dinilai membuat proses penegakan hukum dan pengusutan skandal tersebut jalan di tempat dan mendapat perlawanan sistematis.
“Baik itu purnawirawan jenderal TNI, Polri, maupun tokoh-tokoh lain. Nah, inilah yang melindungi sekarang sehingga setiap ada pengusutan tentang ijazah palsu Jokowi, begitu besar kekuatannya. Ada yang bergerak untuk menjaganya, melindunginya. Termasuk ada kekuatan asing yang melindungi dia,” bebernya blak-blakan.
Di tengah jalan terjal dan gelombang kriminalisasi yang menimpa para pengkritik di pengadilan, Mayjen Purn Soenarko menyerukan kepada seluruh elemen rakyat untuk tidak pernah mengendurkan semangat perlawanan.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menyerah di tengah cengkeraman oligarki dan sistem yang dinilai telah merusak sendi-sendi bernegara.
“Apa kita mau menyerah, rakyat? Kita sudah merasakan bagaimana dirusak oleh manusia yang namanya Jokowi ini,” ucapnya penuh geram.
Ia menyadari bahwa menuntaskan persoalan besar ini mungkin tidak akan selesai dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, ia menitipkan pesan moral agar api perlawanan dan pencarian kebenaran terus diwariskan kepada generasi penerus bangsa, sekiranya perjuangan tersebut belum tuntas di masa kepemimpinan hari ini.
“Pejuang atau pahlawan belum tentu bisa menyelesaikan tugas ini secara tuntas. Tapi kalau kita sudah dipanggil Yang Mahakuasa, meninggalkan dunia ini, kita berharap generasi di bawah kita, anak-anak kita, melanjutkan sampai terbongkar,” pungkasnya.
Ketika lingkaran pelindung kekuasaan lama beradu kuat dengan barisan oposisi jalanan dan purnawirawan militan, babak akhir drama politik nasional ini dipastikan masih menyimpan banyak rahasia besar.