Peringatan Keras Purnawirawan Jenderal: Bongkar Kasus 74 Kg Emas Febrie, Prabowo Potensi Jadi Target Berikutnya!

DEMOCRAZY.ID — Geliat penegakan hukum yang mendadak beringas pasca-penetapan tersangka mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah membuka kotak Pandora baru yang jauh lebih mengerikan.

Di tengah kehebohan penemuan tumpukan uang tunai dan emas batangan seberat 74 kilogram di rumah Sentul, bayang-bayang ancaman serius justru diarahkan langsung ke jantung kekuasaan istana.

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo melontarkan peringatan keras dan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.

Ia membongkar adanya potensi skenario hukum berbahaya yang sewaktu-waktu bisa diarahkan untuk “menelanjangi” lingkaran inti kekuasaan, termasuk menyasar kediaman pribadi sang presiden di Jalan Kertanegara Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Gatot, pola penegakan hukum yang kini dimotori oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri menyimpan celah kerawanan politis yang luar biasa tinggi.

Dengan preseden penegakan hukum yang ada, bukan tidak mungkin kediaman elite di Kertanegara turut dijadikan sasaran penggeledahan demi membangun framing jahat yang menyudutkan Presiden Prabowo sebagai pelaku korupsi.

“Tetapi ingat yurisprudensi bisa juga masuk sebelahnya mana rumahnya Pak Prabowo itu Kertanegara. Kertanegara dibongkar ada diekspos ini Prabowo mau apa diframing Prabowo korupsi iya kan, bisa terjadi, ini bisa makan tuan, sudah diingatkan gini kalau dibiarin lagi kan gitu,” ujar Gatot dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Kamis (23/7/2026).

Kortastipidkor Warisan Jokowi: Simbol “Kemenangan Mutlak” Atas Prabowo?

Lebih jauh, Gatot membedah lanskap kekuasaan hari ini dengan sudut pandang yang sangat telanjang.

Ia mengklaim bahwa keberadaan dan taring tajam Kortastipidkor—yang dibentuk melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 122 Tahun 2024 yang diteken Joko Widodo sesaat sebelum lengser pada 15 Oktober 2024—pada praktiknya menjelma menjadi instrumen “teror psikologis” bagi para menteri dan pengusaha.

Ketakutan massal yang melanda para pembantu presiden dan kalangan ring satu istana dibaca Gatot sebagai bukti sahih bahwa kekuatan bayangan rezim lama masih mencengkeram kuat, membuat kepala negara seolah tidak berkutik di atas panggung kekuasaannya sendiri.

“Saya ulangi ya kan yang menang adalah Jokowi kan dengan tipidkor ini dan semua orang akan takut. Menterinya Jokowi takut, menterinya Prabowo takut kok semua dibuat tipidkor gimana coba?” ucap Gatot tajam.

Pernyataan blak-blakan ini semakin memanaskan temperatur politik nasional.

Di saat publik terfokus pada mega-skandal pencucian uang yang menyeret nama besar di koridor penegakan hukum—mulai dari kasus pasokan batu bara PLTU, PT Asabri, hingga PT Krakatau Steel—peringatan Gatot Nurmantyo membuka mata publik bahwa perang urat syaraf di lingkaran elite sedang berada pada titik paling krusial.

Apakah istana akan berdiam diri membiarkan instrumen negara menjadi bumerang, atau justru mengambil kendali penuh sebelum skenario “Kertanegara digoyang” benar-benar menjadi kenyataan?

Artikel terkait lainnya