DEMOCRAZY.ID – Aksi penyampaian pendapat di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, yang digelar oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) diwarnai insiden mengejutkan.
Rekening Bank Mandiri milik Koordinator AMPB, Supriyono alias Botok, mendadak diblokir secara sepihak saat dirinya tengah memimpin massa aksi pada Jumat (21/8/2026) lalu.
Rekening perbankan yang dibekukan tersebut menampung dana operasional bernilai sekitar Rp80,9 juta.
Dana tersebut berasal dari akumulasi tabungan pribadi Supriyono serta donasi publik yang digalang untuk menopang kebutuhan logistik, konsumsi, dan transportasi puluhan demonstran asal daerah yang bertahan di Ibu Kota.
Merespons peristiwa ini, pihak korporasi perbankan akhirnya buka suara.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menyampaikan permohonan maaf resmi atas ketidaknyamanan yang dialami oleh nasabahnya tersebut.
“Bank Mandiri memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan kepada nasabah terkait pemblokiran rekening,” kata Adhika melalui keterangan tertulis yang diterima media, Minggu (23/8/2026).
Adhika menegaskan bahwa pemblokiran rekening atas nama Supriyono bukan merupakan keputusan internal sepihak tanpa dasar legalitas, melainkan bentuk pelaksanaan atas perintah dari otoritas hukum.
“Pemblokiran tersebut merupakan tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum, dan telah dilakukan sesuai prosedur serta ketentuan yang berlaku. Bank Mandiri berkomitmen untuk terus mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG), kepatuhan, dan kehati-hatian dalam menjalankan layanan perbankan,” jelas Adhika.
Langkah pembekuan rekening ini menjadi pukulan telak bagi operasional lapangan AMPB.
Sebelum rekeningnya tidak dapat diakses, Supriyono mengaku mengalami serangan siber berupa peretasan dan pembatasan pada sejumlah akun media sosial miliknya.
Tekanan ganda berupa pemblokiran finansial dan pembatasan komunikasi digital ini berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan dasar para peserta aksi yang datang jauh-jauh dari Pati, Jawa Tengah.
“Saat ini, hari ini, saya di Jakarta dan teman-teman sangat merasa terzalimi. Tadi malam akun TikTok saya diblokir. Lebih parah lagi, rekening saya ya, uang pribadi saya dan uang donasi dari teman-teman Rp80 juta sekian juga diblokir,” ujar Supriyono kepada awak media di area Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Sambil menunjukkan bukti transaksi serta notifikasi pemblokiran dari aplikasi perbankan di ponselnya, Botok mengungkapkan kekecewaannya.
Ia menilai ada upaya sistematis untuk meredam gerakan massa dengan cara memutus rantai logistik di lapangan.
Meski demikian, kendala finansial tidak langsung memadamkan niat para demonstran.
Massa aksi asal Pati yang bergabung bersama jaringan gerakan pendukung dari Bogor dan Tangerang memilih tetap bertahan di Jakarta.
Untuk bertahan hidup, mereka memanfaatkan bantuan solidaritas dan pasokan bahan pangan darurat dari warga lokal Jakarta yang simpati terhadap perjuangan mereka.
Saat ditanya mengenai strategi bertahan hidup di Jakarta tanpa akses ke dana operasional, Botok menjawab pasrah namun tetap optimistis.
“Ya nanti kita sak mlaku-mlakune lah (sejalan-jalannya/mengalir saja),” ungkapnya singkat.
Botok menilai pemblokiran rekening dan akun media sosial ini sebagai bentuk tekanan serta intimidasi terhadap kelompok masyarakat sipil yang bersuara kritis.
Ia pun mengimbau dan berharap Presiden RI, Prabowo Subianto, dapat memantau secara langsung kondisi represi yang dialami oleh masyarakat daerah saat menyampaikan aspirasi di Ibu Kota.
Ia menegaskan, kedatangan rombongan AMPB ke Ibu Kota dilaksanakan secara damai dan bertanggung jawab. Maksud kedatangan mereka murni untuk mengawal agenda kebangsaan, bukan untuk memicu bentrokan atau membuat kerusuhan di Jakarta.
“InsyaAllah. Karena ini kan aspirasi rakyat Indonesia. Perampasan RUU perampasan aset koruptor dan hukuman mati koruptor ini kan aspirasi seluruh rakyat Indonesia. Jadi kami teman-teman dari Pati datang ke Jakarta itu tidak ada niat untuk membuat kerusuhan ya. Kami di sini murni mengawal aspirasi rakyat Indonesia dengan tertib, aman, dan damai,” tegasnya.
Botok juga membandingkan pengalaman aksi di daerah asalnya dengan apa yang ia hadapi di Jakarta saat ini.
Menurutnya, tindakan represif semacam ini baru pertama kali ia rasakan.
“Kita bukan teroris, kita bukan pelaku kriminal, koruptor. Teman-teman di sini ini datang ke Jakarta ya untuk mengawal aspirasi masyarakat Indonesia. Tidak ada niatan untuk membuat kerusuhan,” tambahnya.
Kendati menghadapi tekanan finansial dan digital, AMPB memastikan tetap akan bergerak dalam koridor hukum yang berlaku.
Botok mengonfirmasi bahwa pasukannya tidak berencana menggelar aksi menginap atau mendirikan tenda (camping) di sekitar kompleks parlemen.
Massa AMPB berkomitmen untuk mematuhi aturan pembatasan waktu penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana diatur dalam undang-undang.
“Rencana untuk camping kita nggak ada ya. Kita aksi mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore atau jam 6 sore lah paling lambat, sesuai dengan undang-undang penyampaian pendapat,” pungkas Botok.
Hingga berita ini diturunkan, massa masih bertahan di sekitar kawasan Senayan dengan mengandalkan dapur umum dan bantuan swadaya dari masyarakat sipil Jakarta.