Pengamat Militer Minta Prabowo Waspada: Jokowi Sedang Lancarkan Strategi Menjatuhkan Kekuasaan Tanpa Pertumpahan Darah!

DEMOCRAZY.ID — Ekskalasi politik nasional kembali memanas menyusul analisis mengejutkan dari mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra.

Ia mengklaim bahwa operasi senyap yang diarahkan untuk menggoyang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto oleh lingkaran Joko Widodo (Jokowi) kini telah menginjak fase yang sangat membahayakan.

Dalam pandangannya, manuver politik bawah tanah tersebut tidak lagi dijalankan secara setengah-setengah, melainkan sudah masuk pada tahapan sistematis untuk melumpuhkan pusat kepemimpinan nasional tanpa melalui instrumen kudeta militer terbuka.

“Operasi garis dalam Jokowi terhadap kekuasaan presiden ini sudah memasuki tahap empat, pemenggalan kepala tanpa kudeta,” ungkap Sri Radjasa Chandra melalui kanal YouTube Speak Up Abraham Samad, Senin (7/9/2026).

Indikasi Kerusuhan dan Keterlibatan “Orang Dalam”

Sebagai bukti nyata dari operasi senyap tersebut, Sri Radjasa menyoroti rangkaian kerusuhan dalam aksi unjuk rasa berdarah pada 27 Agustus 2026 lalu.

Peristiwa yang berujung pada gugurnya seorang pedagang cermin bernama Bambang Setyawan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, dinilainya bukan sekadar bentrokan spontan antarwarga di jalanan.

Ia mencurigai adanya kendali tersembunyi yang mengatur jalannya massa pengunjuk rasa maupun pihak keamanan.

Kecurigaan itu diperkuat oleh mudahnya fasilitas strategis seperti pos polisi dibakar dan dirusak massa, yang menurut kalkulasi intelijen tidak mungkin terjadi tanpa adanya keterlibatan atau pembiaran dari “orang dalam”.

“Ini demo 27 Agustus 2026 yang dua pihak dikendalikan. Yang ini dikendalikan, yang ngerusuh ini. Polisi dikendalikan. Kenapa bisa begitu mudahnya pos polisi dibakar?” beber Sri Radjasa.

Selain itu, ia turut menyinggung adanya eskalasi penyerangan di lapangan yang melibatkan kelompok tertentu, seperti yang dikaitkannya dengan ormas GRIB Jaya, hingga bermuara pada jatuhnya korban jiwa yang menimpa almarhum Bambang.

Syahwat Kekuasaan Elite dan Ancaman People Power

Lebih lanjut, Sri Radjasa memperingatkan bahwa mobilisasi massa atau gelaran people power di jalanan tidak akan pernah bergerak secara mandiri tanpa adanya kepentingan kelompok elite di belakang layar.

Ketika para pemegang kekuasaan bayangan memiliki hasrat besar untuk merebut atau mereduksi kedaulatan pemerintah sah, gerakan sosial dapat dengan mudah dipelintir menjadi instrumen politik yang mematikan.

“Itu tadi melalui kerusuhan, people power. Elite punya syahwat untuk merebut kekuasaan sangat besar,” tegasnya.

Ia menutup analisisnya dengan mengingatkan publik bahwa pertarungan memperebutkan pengaruh di tingkat lingkar utama kekuasaan saat ini sudah terjadi secara kasatmata di balik layar, sehingga menuntut kewaspadaan penuh dari seluruh elemen negara agar stabilitas nasional tidak runtuh.

“Artinya pertarungan itu sudah terjadi saat ini. Ini bahaya,” pungkasnya.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya