DEMOCRAZY.ID — Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, melontarkan analisis tajam terkait konstelasi kekuasaan saat ini.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto sebenarnya telah mengantongi peta kekuatan serta mengetahui persis identitas pihak-pihak yang berupaya mendongkel posisinya dari kursi kekuasaan.
Namun, sikap diam dan dingin yang ditunjukkan oleh kepala negara di tengah berbagai terpaan isu dinilai bukan tanpa kalkulasi.
Prabowo sengaja menahan diri untuk tidak merespons secara reaktif di ruang publik.
“Prabowo tahu persis siapa yang ingin menjatuhkan. Persoalannya, mengapa sampai sekarang belum bersikap secara terbuka?” ujar Amir, Senin (7/9/2026).
Tanpa ragu, Amir membeberkan bahwa salah satu kekuatan politik bawah tanah yang diidentifikasi sedang bermanuver untuk menjatuhkan Prabowo adalah apa yang disebutnya sebagai sindikasi “Solo, Singapura, and Bandung” atau disingkat SSB.
Jaringan politik bayangan ini disebut-sebut memiliki garis keterhubungan langsung dengan lingkaran mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Sebagai indikator, Amir menyoroti pernyataan kontroversial Ketua Umum Relawan Pro Jokowi (Projo), Budi Arie.
Beberapa waktu lalu, Budi Arie secara terbuka melontarkan wacana percepatan Pemilu 2029 hingga spekulasi mengenai skenario menjatuhkan Prabowo Subianto sebelum masa jabatannya berakhir.
Bagi seorang analis intelijen, pernyataan terbuka tersebut dinilai mustahil keluar sebagai celetukan spontan tanpa desain politik yang matang.
Amir memandangnya sebagai bagian dari operasi jaringan SSB yang sengaja dilempar ke ruang publik untuk menguji ombak (testing the water).
“Terdapat dinamika politik yang melibatkan sejumlah kelompok, termasuk partai politik dan jaringan relawan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Amir membedah kerumitan relasi antara Prabowo Subianto dan pendahulunya, Joko Widodo, yang saat ini tengah berada di persimpangan jalan.
Ia mengingatkan publik agar tidak terjebak membaca situasi politik nasional secara sederhana atau hitam putih.
Hubungan kedua elite tersebut dinilai tengah mengalami gesekan kepentingan yang laten, memunculkan pertanyaan besar apakah mereka masih berjalan dalam satu garis aliansi strategis atau justru telah memasuki fase perenggangan konstelasi.
Kendati demikian, Prabowo diyakini sangat paham membaca arah angin dan kekuatan lawan di balik layar.
Sikap tenang yang dipilih sang presiden menunjukkan bahwa ia sedang menghitung setiap langkah secara cermat sebelum mengambil keputusan besar demi mengamankan stabilitas pemerintahannya.
DEMOCRAZY.ID — Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, membeberkan sejumlah alasan di balik gelagat dan gelombang upaya kelompok yang kerap disebut sebagai “Geng Solo” yang dinilai begitu bernafsu merebut kekuasaan sebelum masa jabatan Presiden Prabowo Subianto berakhir pada 2029 mendatang.
Melalui catatan yang dibagikannya lewat akun TikTok pribadinya, Said Didu merinci lima poin utama yang mendasari manuver politik tersebut:
Keengganan Melepas Dinasti
Jokowi dinilai tidak pernah rela untuk melepaskan kendali kekuasaan dari genggaman lingkaran dinastinya.
Sinyal Ketidakpastian dari Prabowo
Hingga saat ini, Presiden Prabowo Subianto belum menunjukkan tanda-tanda positif atau kepastian apakah ia bersedia kembali berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.
Kalkulasi Waktu dan Hambatan Politik
Geng Solo memperhitungkan bahwa jika harus menunggu hingga tahun 2029, jalan bagi Gibran untuk kembali maju dalam kontestasi nasional akan menjadi jauh lebih berat.
Membaca Celah Ketidakpuasan Publik
Kelompok tersebut melihat adanya celah dan peluang untuk menjatuhkan Prabowo, yang diklaim berlandaskan pada hasil survei bahwa tingkat kepuasan rakyat menurun serta kondisi perekonomian nasional yang dinilai semakin memburuk.
Doktrin “Sekarang atau Tidak Sama Sekali”
Akumulasi dari berbagai faktor tersebut akhirnya melahirkan sebuah kesimpulan dan opini internal di lingkaran mereka: “Kalau bukan sekarang, tidak akan mungkin lagi.”
👇👇
@muhsaiddidu♬ suara asli – Muhammad Said Didu