Pengamat Beberkan Analisis Tajam: ‘Londo Ireng’ Yang Dituding Prabowo Justru Ada Pada Dirinya Sendiri!

DEMOCRAZY.IDPolemik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung istilah “londo ireng” terus memicu respons dari berbagai kalangan.

Kali ini, Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah, menyebut sosok yang dimaksud dalam pernyataan tersebut justru mengarah kepada Prabowo sendiri.

Tudingan ke Jurnalis Berlebihan

Menurut Rizal, tudingan terhadap jurnalis maupun kelompok kritis sebagai “londo ireng” tidak memiliki dasar dan justru menjadi bumerang bagi Presiden.

“Bukan Prabowo jika dalam pidatonya tidak terselip diksi kontroversi. Mungkin ini gambaran sepuh yang sudah sulit untuk berpikir ajeg, rasional, dan bermanfaat,” ujar Rizal, Kamis (30/7/2026).

Ia menilai tuduhan terhadap jurnalis sebagai “londo ireng” terlalu dipaksakan.

“Mewanti-wanti bahkan menuduh jurnalis sebagai londo ireng nampaknya terlalu mengada-ada. Londo ireng itu pengkhianat negara, antek asing, kolaborator negara lain. Dulu Belanda, kini bisa Amerika, Perancis, Cina, atau lainnya,” ucapnya.

Menurut Rizal, perilaku yang lebih tepat disebut sebagai “londo ireng” justru terlihat pada pihak yang tunduk kepada kepentingan oligarki dan mengabaikan kedaulatan rakyat.

“Tunduk kepada oligarki dan menjauh dari kedaulatan rakyat adalah perilaku londo ireng kontemporer,” tutur Rizal.

“Rakyat diperas lewat bermacam-macam pajak, sementara oligarki dimanjakan dan diberi kesempatan untuk mengeruk kekayaan negara sebesar-besarnya,” tambahnya.

Ia juga menganggap tudingan terhadap jurnalis justru mencoreng citra pemerintah sendiri.

“Tuduhan jurnalis kritis sebagai londo pengabdi asing sangat melecehkan dan justru memperburuk wajah sendiri,” cetusnya.

Rizal kemudian mengaitkan pernyataan tersebut dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto.

“Prabowo sedang menunjuk sang guru Jokowi dan dirinya. Duo londo penggadai negara. Jokowi kepada Cina dan Prabowo untuk Amerika,” imbuhnya.

Ungkit Sejumlah Proyek hingga Asal-usul

Tidak berhenti di situ, Rizal turut menyinggung sejumlah proyek strategis nasional yang menurutnya mencerminkan keberpihakan kepada kepentingan asing.

“Proyek Rempang, IKN, BOR Jokowi adalah contoh penggadaian ke Cina, sedangkan BOP, ATR, dan MDCP itu menjadi jualan Prabowo ke Amerika,” jelasnya.

Ia juga mengungkit isu asal-usul keluarga Jokowi dan Prabowo.

“Soal asal usul menjadi pertanyaan serius atas keduanya. Meski dibantah berulang-ulang, tetap saja ada yang meyakini ibu Jokowi adalah Yip Mey Hwa, agen Komunis Tiongkok,” bebernya.

Kata dia, jurnalis Bambang Tri harus menjalani hukuman penjara atas keyakinan dan bukunya yang berjudul Jokowi Undercover.

“Sebagai Presiden, Jokowi jelas mampu menggunakan jaringannya untuk menepis tuduhan terkait Cina dan PKI. Semua tahu bahwa PKI itu adalah cino ireng, pengkhianat bangsa,” timpalnya.

Sementara terhadap Prabowo, Rizal mengaitkannya dengan riwayat keluarga dari garis ibu.

“Prabowo londo ireng disasar asal usul keturunannya dari jalur ibu Dora Marie Sigar. Buyutnya Benjamin Thomas Sigar adalah pimpinan pasukan Hulptroepen yang membantu Belanda menipu dan menangkap Pangeran Diponegoro,” ucapnya.

“Kakek Prabowo Philip Frederik Laurens Sigar menjadi pejabat kolaborator Belanda di Manado. Prabowo memang turunan dan potensial menjadi londo ireng,” sambung Rizal.

Pemerintahan Disebut Antikritik

Rizal melihat pidato Prabowo pada peringatan Harlah PKB, 23 Juli 2026, memperlihatkan sikap pemerintahan yang antikritik.

“Pidato dalam acara Harlah PKB 23 Juli 2026 itu menuai kecaman sekaligus dinilai bahwa pemerintahan Prabowo itu sesungguhnya antikritik. Mengintimidasi media dengan tuduhan menjalankan kepentingan dan dibiayai asing,” terangnya.

Ia juga menilai tudingan tersebut justru berbalik kepada Prabowo sendiri.

“Boomerang pada diri yang punya catatan pengkhianatan, baik kepada keluarga Cendana, pada TNI hingga dipecat, kepada umat atas ijtima ulama, serta kepada rakyat pendukung saat Prabowo menerima dan bahagia untuk menjadi Menteri Jokowi,” sesalnya.

Lebih jauh, Rizal kembali melontarkan kritik terhadap kepemimpinan Prabowo.

“Prabowo Presiden omon-omon yang jika pidato berapi-api namun melempem di tataran aksi. Plin-plan dan tidak tegas dalam bertindak,” imbuhnya.

Rizal mengatakan, saat ini rakyat dipaksa memahami bahwa semua kebijakan adalah strategi, padahal bertentangan dengan aspirasi masyarakat.

“Jangan sakiti rakyat, teriaknya. Rakyat sendiri sedang berteriak tersakiti. Waspadai londo ireng, itu berbahaya. Tapi nyatanya londo ireng itu tidak di Antartika atau di media, tetapi pada dirinya,” tandasnya.

“Sudahlah Pak, Bapak kan sudah menjadi Presiden seperti ambisinya. Ketika nyatanya tidak lagi mampu untuk menjalankan amanah, ya mundur saja. Tidak perlu menunggu lama rakyat yang terpaksa harus memundurkan,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya