Pengakuan Mengejutkan Ahok! Sempat Ditolak Jokowi, Dirinya Ngaku Cuma Jadi ‘Kartu Mati’ Demi Singkirkan Sandiaga di Pilkada DKI 2012

DEMOCRAZY.ID — Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membongkar kisah di balik layar pencalonannya sebagai calon wakil gubernur dalam bursa Pilkada DKI Jakarta 2012.

Secara blak-blakan, Ahok mengaku bahwa pada mulanya Joko Widodo (Jokowi) sama sekali tidak menghendaki dirinya untuk menjadi pendamping dalam kontestasi politik tersebut.

Pengakuan mengejutkan itu disampaikannya ketika berbincang santai bersama mantan Menko Polhukam Mahfud MD dan jurnalis Rizal Mustary dalam tayangan kanal YouTube Mahfud MD Official, dengan tajuk “MAHFUD-AHOK BLAK-BLAKAN: KORUPSI MASIH AMBURADUL”, yang dirilis pada 7 Maret 2026.

“Kartu Mati” yang Berujung Skenario Megawati

Ahok menuturkan, ketika proses lobi-lobi koalisi antara Partai Gerindra dan PDIP berlangsung, namanya sama sekali tidak diperhitungkan sebagai kandidat kuat.

Dari total 12 nama hasil survei bursa wakil gubernur kala itu, posisi Ahok justru berada di dasar jurang, yakni peringkat ke-12.

Sementara itu, dua nama teratas yang menjadi kandidat favorit untuk mendampingi Jokowi adalah aktor senior Deddy Mizwar serta pengusaha sukses Sandiaga Uno.

Sadar dengan latar belakang identitasnya, Ahok sempat merasa pencalonannya sebagai lelucon politik yang mustahil terwujud.

“Sama saya pasti kartu mati dong. Udah Chinese turunan, Kristen, bukan Betawi, enggak ada duit. Enggak masuk akal,” kenang Ahok.

Namun, konstelasi berubah drastis ketika penentuan akhir harus diputuskan oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Ahok mengungkapkan, kubu penyusun strategi kala itu berupaya menyingkirkan Sandiaga Uno yang tidak dikehendaki oleh Jokowi.

Sebagai siasat untuk menjegal kandidat lain, nama Ahok yang berada di urutan buncit sengaja dimajukan untuk disandingkan dengan Deddy Mizwar sebelum akhirnya diajukan ke hadapan Megawati.

Kalkulasi awalnya sederhana: Megawati diprediksi tidak akan memilih Deddy Mizwar, sementara Ahok dianggap sebagai “pilihan aman” karena diyakini mustahil dipilih oleh sang ketua umum.

Di luar dugaan, skenario pelik tersebut berbalik 180 derajat.

Megawati justru memilih Ahok sebagai pendamping Jokowi di panggung Pilkada DKI Jakarta 2012.

“Enggak tahu Ibu Mega, enggak tahu dari Bali, dari mana. Pilih Ahok,” ungkapnya.

Keputusan mutlak tersebut sontak membuat kaget lingkaran internal partai.

Jokowi maupun almarhum Tjahjo Kumolo disebut sempat terkejut dan bahkan merasa kesal lantaran hasil akhir di luar skenario awal yang dirancang.

Strategi Kampanye Unik di Tengah Identitas Minoritas

Setelah resmi ditetapkan sebagai calon wakil gubernur mendampingi Jokowi, Ahok langsung dihadapkan pada realitas peta elektoral.

Menyadari latar belakangnya berpotensi menggerus lumbung suara dari kelompok mayoritas di wilayah tertentu, tim pemenangan merancang strategi kampanye yang sangat spesifik.

Beberapa alat peraga kampanye sengaja tidak menampilkan wajahnya di kawasan-kawasan tertentu.

Sebagai gantinya, Ahok diarahkan untuk menggarap basis pemilih dari kelompok minoritas dengan cara blusukan secara senyap dari satu rumah makan atau restoran ke restoran lainnya.

Siasat politik yang awalnya diciptakan untuk menjadikannya “kartu mati” guna menyingkirkan figur kuat justru berbuah manis, membawa Ahok melenggang ke kursi DKI-2 dan mencatat sejarah baru dalam konstelasi politik ibu kota.

Artikel terkait lainnya