DEMOCRAZY.ID – Wacana pasangan Dedi Mulyadi dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi perhatian.
Isu tersebut turut mendapat sorotan dari Ketua Korlabi sekaligus aktivis 212, Damai Hari Lubis.
Damai menilai wacana duet Dedi Mulyadi-Ahok perlu dilihat lebih jauh.
Menurutnya, isu tersebut bisa saja sekadar mengukur respons publik atau justru menjadi bagian dari upaya kelompok politik tertentu membangun konfigurasi menuju Pilpres 2029.
“Apakah isu KDM-Ahok hanya sekadar testing the water, atau memang ada kelompok politik tertentu yang sedang mencoba membangun wacana tersebut?” ujar Damai.
Menurut Damai, pembahasan mengenai figur potensial untuk Pilpres 2029 tidak hanya berkutat pada Dedi Mulyadi dan Ahok.
Nama mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad juga disebut dalam sejumlah diskusi mengenai kandidat potensial.
Dari sisi karakter politik, Damai menilai Dedi Mulyadi dan Ahok memiliki latar belakang yang berbeda.
Dedi dikenal memiliki basis dukungan kuat di Jawa Barat dengan pendekatan yang banyak mengangkat budaya lokal dan persoalan masyarakat.
Sementara Ahok memiliki pengalaman pemerintahan dan dikenal dengan gaya kepemimpinan tegas serta pendekatan birokrasi yang kuat.
Jika benar-benar dipasangkan, keduanya dinilai dapat menghadirkan kombinasi karakter politik lokal dan pengalaman pemerintahan.
“Secara politik, keduanya bisa dipandang sebagai kombinasi antara rakyat dan birokrasi, serta budaya lokal dan politik nasional,” katanya.
Namun, Damai mengingatkan adanya potensi politik identitas apabila wacana duet Dedi Mulyadi-Ahok berkembang menjadi pencalonan resmi pada Pilpres 2029.
Ia merujuk pada sejumlah kontestasi politik sebelumnya, termasuk Pilkada DKI Jakarta 2017 serta Pilpres 2019 dan 2024.
Menurutnya, isu sosial, agama, dan etnis masih berpotensi digunakan sebagai bagian dari strategi mobilisasi politik.
Damai menilai karakter dan latar belakang Dedi Mulyadi maupun Ahok dapat menjadi bahan bagi pihak tertentu untuk membangun narasi tandingan apabila keduanya benar-benar masuk dalam kontestasi Pilpres 2029.
“Semakin kuat pasangan KDM-Ahok dipromosikan, semakin besar pula kemungkinan munculnya counter-narrative yang menjadikan identitas sebagai alat mobilisasi elektoral,” ujarnya.
Meski demikian, wacana duet Dedi Mulyadi-Ahok untuk Pilpres 2029 hingga kini masih sebatas spekulasi politik.
Belum ada keputusan resmi mengenai pasangan calon yang akan diusung dalam kontestasi Pilpres 2029.