DEMOCRAZY.ID – Pakar Hukum Tata Negara Denny Indrayana menyoroti orasi yang dilakukan oleh Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Fatimah Azzahra.
Menurutnya orasi itu memiliki daya dorong perjuangan yang lebih kuat dibandingkan pidato Presiden Prabowo Subianto.
Denny secara khusus menyoroti keberanian mahasiswa itu menyuarakan kritik terhadap kekuasaan serta gagasan mengenai nasionalisme dan pemberantasan korupsi.
Ia mengaku terkesan melihat keberanian mahasiswa tersebut dalam menyampaikan kritik.
“Fatimah saya tidak mengenalnya. Kami tidak pernah bertemu. Tapi hari-hari ini saya melihat kami bersatu dalam semangat perlawanannya. Dalam sikap kritisnya ketika berhadapan dengan kekuasaan,” ungkap Denny, dikutip Jumat (21/8/2026).
Bagi Denny, kekuatan sebuah pesan politik tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang menyampaikannya atau seberapa lama seseorang berpidato.
Ketulusan dan konsistensi antara ucapan dengan tindakan justru menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.
Gadis muda itu bernama Fatimah az-zahra..
Keberaniannya berjuang luar biasa
Tubuhnya Mungil tapi suaranya menggelegar dengan lantang
Membela teman-temannya agar tidak menjadi korban keangkuhan aparatNamanya sudah sohor di seantero negeri
Bahkan mancanegaraBaca JugaTutur katanya… pic.twitter.com/EIxbYDxZ44
— Ommi de Queen👑 (@ommi_siregar) August 19, 2026
Denny kemudian membuat perbandingan langsung antara orasi Fathimah dengan pidato Presiden Prabowo.
Menurutnya, Fatimah hanya berbicara selama beberapa menit namun pesan yang disampaikan justru mampu membangkitkan semangat perjuangan.
“Mendengar beberapa menit dia dengan orasinya, saya rasakan lebih punya kekuatan perjuangan dibandingkan pidato berjam-jam presiden yang cenderung membosankan,” kata Denny.
Ia bahkan melanjutkan kritiknya dengan menyinggung sejumlah kesalahan penyebutan angka maupun hitungan dalam pidato Prabowo.
Namun, inti kritiknya bukan sekadar membandingkan kemampuan berpidato.
Ia menilai ada perbedaan energi moral yang dirasakan ketika mendengar pesan Fathimah.
“bukan saya takut, bukan saya nurut kepada anda, tapi bagi saya teman-teman saya lebih berharga. karna saya tau BAGI ANDA NYAWA TEMAN-TEMAN SAYA TIDAK ADA ARTINYA”
FATHIMAH AZZAHRA OMG THE GIRL YOU ARE 😭🤍 pic.twitter.com/As4h5hFBMN
— fin (@awaaannnn__) August 18, 2026
Menurutnya, mahasiswa tersebut membawa isu kecintaan terhadap negara melalui kritik terhadap berbagai persoalan yang dianggap menyangkut kepentingan publik.
“Jadi ketika Fathimah menyampaikan teriakannya, yang kita dengar adalah perjuangan yang tulus tentang Indonesia antikorupsi,” kata Denny.
Ia menyebut perjuangan tersebut antara lain berkaitan dengan persoalan pemilu, pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), korupsi gizi, hingga koperasi.
Denny juga mengapresiasi keberanian Fathimah. Menurutnya mahasiswa memiliki posisi penting sebagai kekuatan pengawas kekuasaan.
Ia juga menilai kekuatan kritik publik sangat bergantung pada kesesuaian antara perkataan dan tindakan.
“Kuncinya adalah pada kejujuran, pada konsistensi, pada kesamaan antara orasi dan aksi. Sedikit saja terlihat ada warna kemunafikan, maka kekuatan dan wibawa pesan itu pasti menghilang,” tuturnya.
Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia dan Front Mahasiswa Nasional (FMN) menggelar demonstrasi dan menyampaikan delapan tuntutan, pada Selasa (18/08).
Hingga akhir demo, para mahasiswa tak berhasil mencapai tujuan lokasi aksi mereka di Bundaran Hotel Indonesia.
Hal itu karena barisan aparat mengadang mereka sekitar satu kilometer dari Bundaran Hotel Indonesia.
Beberapa kali terdengar perintah polisi agar mahasiswa tidak memaksa maju.
Namun, para mahasiswa terus berjalan dan bergerak maju, sembari berorasi dan menyanyikan yel-yel “pembunuh, pembunuh, pembunuh”, disusul “buka, buka jalannya sekarang juga”.
Dalam aksinya, mereka mengajukan delapan tuntutan yang terpampang dalam poster bergambar sindiran maupun kritikan terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto.