Kronologi Lengkap ‘Kericuhan’ Peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Baiturrahman, Situasi Tiba-Tiba Panas Akibat Teriakan ‘Merdeka’

DEMOCRAZY.ID – Peringatan Hari Damai Aceh XXI 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), yang semula berlangsung khidmat melalui zikir dan doa bersama berubah menjadi kericuhan.

Ketegangan terjadi setelah sejumlah massa mengibarkan bendera Bulan Bintang hingga terjadi aksi saling lempar dengan aparat keamanan.

Dari informasi yang diterima RedaksiSabtu malam, ribuan warga dari berbagai wilayah Aceh datang ke Banda Aceh untuk mengikuti rangkaian peringatan tersebut.

Sebagian massa bahkan sudah datang ke Banda Aceh sejak 14 Agustus.

Sejak salat Subuh, halaman Masjid Raya Baiturrahman mulai dipadati warga.

Mereka datang untuk mengikuti zikir akbar, doa bersama, serta mendengarkan orasi yang disampaikan terkait kondisi Aceh terkini.

Zikir dan doa bersama dipimpin sejumlah ulama Aceh. Kegiatan tersebut berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB hingga 09.00 WIB.

Massa mengikuti rangkaian kegiatan dengan khidmat, meski sebagian harus duduk di bawah terik matahari pagi.

Sejumlah warga yang hadir membawa bendera putih, bendera Bulan Bintang, serta bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Meski demikian pada awal kegiatan, tidak tampak bendera yang dikibarkan di dalam kawasan Masjid Raya.

Situasi mulai berubah ketika massa semakin banyak meneriakkan kata “merdeka”.

Sekitar pukul 09.00 WIB, sejumlah massa mengeluarkan bendera Bulan Bintang dan mengibarkannya di tengah kerumunan.

Panitia kemudian meminta massa menurunkan bendera tersebut untuk sementara dan mengikuti rangkaian acara hingga selesai.

Imbauan serupa disampaikan aparat keamanan yang berada di lokasi.

Namun, permintaan tersebut tidak sepenuhnya diindahkan.

Massa yang sebagian telah berdiri di bawah panas matahari terus meneriakkan kata “merdeka” dan mempertahankan bendera yang mereka bawa.

Ketegangan antara massa dan aparat kemudian meningkat.

Sekitar pukul 09.00 WIB, massa meminta personel TNI dan kepolisian meninggalkan area dalam kompleks Masjid Raya Baiturrahman.

Personel keamanan selanjutnya bergerak keluar dari kawasan masjid.

Sejumlah massa kemudian mengejar petugas dan melempari mereka menggunakan botol air mineral.

Salah seorang personel TNI bahkan sempat tersangkut di pagar masjid ketika berupaya meninggalkan lokasi.

Meski terjadi ketegangan, kegiatan zikir dan doa bersama tetap dilanjutkan hingga berakhir sekitar pukul 11.00 WIB.

Sebagian massa masih bertahan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.

Situasi kembali memanas sekitar pukul 11.11 WIB. Salah seorang massa terlihat memanjat tiang bendera yang berada di halaman Masjid Raya Baiturrahman.

Massa tersebut kemudian menurunkan bendera Merah Putih.

Setelah itu, seorang massa lainnya naik dan menyerahkan bendera Bulan Bintang untuk dikibarkan di tiang tersebut.

Pengibaran bendera Bulan Bintang membuat suasana semakin tegang. Tidak lama kemudian, terdengar suara tembakan peringatan.

Aparat berupaya mengendalikan situasi. Namun, ketegangan kembali meningkat hingga petugas menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Kericuhan kemudian meluas ke sejumlah ruas jalan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Warga yang berada di lokasi berhamburan menyelamatkan diri.

Massa yang sebelumnya berada di kawasan Simpang Kodim hingga Jalan Muhammad Jam berpencar ke sejumlah titik, termasuk kawasan pertokoan di jalan Diponegoro.

Sejumlah kendaraan warga terlihat mengalami kerusakan. Beberapa warga juga tampak terluka dan kemudian dibawa meninggalkan lokasi.

Situasi perlahan mereda sekitar pukul 11.42 WIB setelah lantunan ayat suci Alquran terdengar melalui pengeras suara Masjid Raya Baiturrahman.

Massa yang sebelumnya berhadapan dengan aparat mulai surut dan kembali bergerak ke arah masjid.

Pangdam Iskandar Muda bersama Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan lalu hadir ke lokasi.

Keduanya melakukan upaya untuk meredakan ketegangan. Proses komunikasi antara aparat dan massa berlangsung cukup alot.

Dalam upaya meredakan situasi, dilakukan pembicaraan antara pihak keamanan dan perwakilan massa.

Setelah melalui pembicaraan panjang, Kapolda Aceh menyampaikan pembebasan sejumlah peserta aksi yang sempat ditahan.

Wakil Gubernur Aceh, Fadlullah, juga hadir di Masjid Raya Baiturrahman dan menemui massa. Ia datang setelah mendapat informasi mengenai adanya massa yang ditahan.

Di hadapan massa, Fadlullah meminta persoalan yang terjadi diselesaikan melalui pembicaraan dan tidak berlanjut menjadi kericuhan.

Menurutnya, persoalan tersebut harus diselesaikan dengan duduk bersama dan membicarakannya secara langsung.

“Baru saya hendak duduk dengan Kapolda sudah ribut lagi. Jadi saya panggil duduk di sini dan apa masalahnya. Kita duduk, kita bicarakan masalah semua. Kalau hanya teriak-teriak ke sana ke sini, kapan selesai masalah?” ujarnya.

“Ini rumah Allah, masjid. Sekarang kita panggil dan duduk, apa saja masalahnya,” lanjut Fadlullah.

Setelah situasi di Masjid Raya mulai mereda, massa kemudian terpecah.

Sebagian masih bertahan di kawasan masjid, sementara sebagian lainnya bergerak menuju Pendopo Gubernur Aceh yang berjarak tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman.

Massa yang tiba di Pendopo Gubernur Aceh kemudian masuk ke halaman rumah dinas resmi Gubernur Aceh.

Mereka menurunkan bendera Merah Putih yang terpasang di kawasan tersebut dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang.

Sejumlah massa juga menaiki bagian serambi depan pendopo dan menurunkan lambang Garuda yang terpasang di lokasi.

Lambang negara tersebut kemudian dirusak dan diseret keluar pendopo.

Dari Pendopo Gubernur Aceh, massa kembali bergerak menuju Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Terkait dengan dampak kerusuhan, Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Joko Krisdiyanto memberikan keterangannya.

“Kami masih mendata dampak kejadian tersebut. Jika data dan informasinya ada, nanti kami sampaikan. Kami berharap Aceh tetap aman dan kondusif,” kata Joko Krisdiyanto sebagaimana dilansir dari Antara.

Artikel terkait lainnya