DEMOCRAZY.ID – Menteri Sosial sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama (NU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, membantah tuduhan adanya aliran dana Rp400 miliar lebih dalam pelaksanaan Muktamar NU.
Tuduhan tersebut mencuat setelah beredar konten podcast yang menampilkan sosok bernama Gus Lilur R. Abdullah Sahlawi.
Gus Ipul menyampaikan bantahan tersebut saat menjadi narasumber dalam podcast Akbar Faizal Uncensored di Jakarta, Senin (28/9/2026) malam.
Dalam perbincangan itu, Gus Ipul ditanya mengenai tuduhan adanya dana ratusan miliar yang beredar dalam Muktamar NU.
“Emang ada duit 400 miliar lebih itu yang beredar pada Muktamar? Saya pastikan tidak ada,” kata Gus Ipul.
Ia juga membantah tuduhan bahwa dana sekitar Rp450 miliar yang dikaitkan dengan Muktamar NU berasal dari hasil korupsi.
Menurut Gus Ipul, tuduhan tersebut perlu diklarifikasi karena telah beredar luas di media sosial dan membuat sebagian masyarakat mempercayainya.
“Ini hal yang perlu diklarifikasi. Lebih-lebih dalam konteks yang isu beredar, 450 miliar dari hasil korupsi, itu saya pastikan enggak ada,” ujarnya.
Dalam podcast tersebut, Akbar Faizal menyinggung pernyataan Gus Lilur yang menceritakan dugaan aliran uang ratusan miliar secara detail.
“Ada duit 400 berapa miliar itu, 460 sekian miliar, diangkut melalui dua mobil, dan dua mobil itu tidak dipacu seperti mobil, tapi dinaikkan mobil towing. Towing itu adalah pengangkut mobil. Kok seperti film-film yang seru-seru itu,” kata Akbar.
Akbar kemudian mempertanyakan sumber data yang digunakan Gus Lilur untuk menyampaikan cerita tersebut.
Menanggapi hal itu, Gus Ipul mengaku tidak mengetahui sumber data yang digunakan.
“Pertama saya gak tau datanya dari mana. Dan dia punya cerita yang meruntun seperti itu, itu dari mana sumbernya. Itu yang terus terang saya juga bertanya-tanya,” katanya.
Gus Ipul mengatakan tuduhan tersebut harus disertai bukti.
Ia menilai penyampaian tuduhan secara rinci tanpa bukti dapat menimbulkan fitnah dan kecurigaan terhadap pihak-pihak yang disebut.
“Ini kan sesuatu yang bisa menimbulkan fitnah. Dan bisa membuat orang saling curiga satu dengan yang lain. Maka itu pilihannya ini harus dibuktikan,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut tuduhan tersebut sebagai tuduhan yang brutal karena menyangkut organisasi Islam dan sejumlah tokoh.
“Saya menyebutnya brutal. Betul. Setuju saya ini. Ini brutal,” kata Gus Ipul.
Menurutnya, tuduhan tersebut juga telah memunculkan pertanyaan dari berbagai pihak, termasuk keluarganya.
“Tidak usah orang lain, ibu saya tanya. Anak saya, istri saya tanya semua. Apalagi yang lain. Tanya semua. Ini benar nih. Kok uangnya banyak banget,” tuturnya.
Gus Ipul mengatakan pihaknya akan menempuh langkah hukum terkait tuduhan tersebut.
Langkah awal yang akan dilakukan adalah melayangkan somasi.
Jika pihak yang menyampaikan tuduhan tidak dapat memberikan klarifikasi dan bukti yang cukup, perkara akan dilanjutkan ke proses hukum.
“Pertama, kami akan lakukan somasi. Kemudian kita lanjut ke proses hukum. Kalau mereka enggak bisa menjawab, tidak bisa menyertakan bukti-bukti yang cukup, ya kita teruskan ke proses hukum,” tegasnya.
Selain itu, Gus Ipul mengaku telah mendatangi Dewan Pers untuk mengadukan sejumlah konten yang menurutnya tidak memenuhi kode etik jurnalistik.
“Kita laporkan itu konten-konten yang ada di Madilog tanggal 12 September dan 22 September. Dua kali loh. Tanpa ada konfirmasi, tanpa ada katakanlah tabayun kepada kami yang disebut-sebut di situ,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah ulama dan tokoh turut dicantumkan dalam konten tersebut, termasuk dirinya.
Gus Ipul juga menantang pihak yang menyampaikan tuduhan untuk menunjukkan bukti.
Ia mengatakan pembuktian dapat dimulai dari satu atau dua contoh untuk menguji kebenaran klaim yang disampaikan.
“Kasih contoh aja, satu atau dua gitu. Kalau misalnya satu dua itu ada buktinya, bisa dikatakan pernyataan yang lain valid. Tapi kalau enggak bisa gimana?” katanya.
Gus Ipul juga menyoroti klaim bahwa terdapat pihak yang mengembalikan uang.
Ia meminta informasi tersebut dibuktikan secara rinci, termasuk siapa yang mengembalikan, kepada siapa uang diberikan, lokasi, waktu, serta bukti transaksi.
“Itu sudah ada yang mengembalikannya. Seperti itu pengakuannya. Ya dijawab, siapa yang mengembalikan? Kepada siapa? Dimana? Jam berapa? Apa buktinya? Tapi kalau enggak ada bukti sama sekali, hanya cuma ngomong, ya ini fitnah ya. Membual,” tegasnya.
Menurut Gus Ipul, apabila tuduhan tersebut dapat dibuktikan, pihaknya akan mengakui dan menindaklanjutinya.
Namun, jika tidak terdapat bukti, ia menilai tuduhan tersebut merugikan pihak-pihak yang namanya disebut.
“Kalau memang ada bukti-bukti yang sebagaimana dituduhkan, mari kita adu bukti. Tapi kalau tidak ada, ini bualan. Kalau tidak ada bukti sama sekali, berarti ini fitnah,” ujarnya.
Ia memastikan proses hukum akan tetap dilanjutkan dan meminta masyarakat tidak langsung mempercayai tuduhan yang belum disertai bukti.
“Kita akan lanjutkan ini ke proses hukum. Itu pasti,” pungkasnya.