DEMOCRAZY.ID — Darah perjuangan Reformasi 1998 kembali mendidih!
Aktivis senior Jayadi Santoso melontarkan kecaman paling brutal dan tanpa kompromi terhadap Joko Widodo (Jokowi) beserta sang putra mahkota, Gibran Rakabuming Raka.
Tanpa tedeng aling-aling, Jayadi secara terbuka menobatkan dinasti Solo tersebut sebagai “Musuh Rakyat” yang telah menghancurkan fondasi moral dan tatanan bernegara Indonesia.
Jayadi membongkar bagaimana kepemimpinan Jokowi selama satu dekade penuh meninggalkan warisan kerusakan sistemik yang sangat parah.
Mulai dari hancurnya marwah penegakan hukum, pelecehan terhadap konstitusi, hingga misteri keabsahan ijazah Jokowi yang terus menjadi duri dalam daging bagi kepercayaan publik.
Sebagai mantan penggerak Reformasi ’98, Jayadi mengingatkan bahwa seorang kepala negara seharusnya menjadi teladan tertinggi dalam menjunjung integritas.
Namun yang terjadi justru sebaliknya: panggung kekuasaan digunakan untuk membangun kerajaan keluarga di atas reruntuhan etika demokrasi.
“Jokowi selama 10 tahun berkuasa telah merusak tatanan kehidupan bernegara. Persoalan ijazahnya juga terus menjadi polemik dan menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat,” tegas Jayadi Santoso, Ahad (18/10/2026).
Jayadi juga mengungkit kembali sandiwara politik paling memuakkan di awal kemunculan Gibran—ketika Jokowi dengan wajah polos berdusta kepada rakyat bahwa anaknya sama sekali tidak tertarik politik dan hanya ingin fokus berjualan martabak.
Kebohongan publik yang berlanjut pada pengkhianatan konstitusi lewat drama Mahkamah Konstitusi membuktikan bahwa dinasti ini dibangun di atas fondasi tipu-tipu kekuasaan.
“Dulu Jokowi mengatakan anaknya tidak tertarik masuk politik dan hanya ingin berjualan martabak. Namun, kenyataannya Gibran masuk politik hingga menjadi wakil presiden. Ini yang kami persoalkan sebagai bagian dari kebohongan publik,” tandasnya.
Proses pelengseran nilai-nilai demokrasi ini mencapai puncaknya melalui skandal Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023.
Jayadi menilai karpet merah yang digelar demi meloloskan Gibran ke kursi Istana adalah bentuk perampokan terang-terangan terhadap prinsip kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law).
Aturan negara yang semestinya sakral diinjak-injak sekadar demi memuaskan nafsu birahi kekuasaan seorang ayah yang ingin mewariskan takhta kepada putranya yang terbukti cacat administrasi dan nir-kompetensi.
Pernyataan keras Jayadi Santoso ini menjadi alarm pengingat bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa perlawanan terhadap tirani dinasti belum selesai.
Cita-cita Reformasi 1998 yang menuntut pembersihan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) kini dikhianati secara vulgar oleh rezim yang lahir dari rahim reformasi itu sendiri.
Ketika penguasa menganggap kepercayaan rakyat adalah komoditas murahan yang bisa dipermainkan setelah kekuasaan digenggam, maka perlawanan rakyat adalah harga mati.
Jokowi dan Gibran telah menempatkan diri mereka sebagai musuh utama kedaulatan rakyat—dan sejarah Reformasi akan mencatat bagaimana dinasti penipu ini akhirnya tumbang di tangan amuk keadilan bangsa!