Pendidikan Gibran Disorot Profesor Singapura, Ini Penjelasan Soal O-Level, Insearch dan MDIS

DEMOCRAZY.ID – Riwayat pendidikan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi perhatian publik.

Kali ini, sorotan datang dari penjelasan Prof Zulfikar, dosen Nanyang Technological University (NTU), Singapura, yang membahas sistem pendidikan di Singapura serta sejumlah tahapan pendidikan yang pernah dikaitkan dengan Gibran.

Penjelasan tersebut dibagikan politikus Partai Demokrat Yan Harahap melalui akun media sosial X pada Senin, 12 Oktober 2026.

Yan mengunggah video yang menampilkan Prof Zulfikar bersama Abraham Samad.

Dalam video tersebut, Prof Zulfikar menjelaskan sistem pendidikan berbasis Inggris, termasuk posisi sertifikat O-Level, program Insearch, hingga keberadaan institusi pendidikan tinggi swasta seperti Management Development Institute of Singapore (MDIS).

“Biar lebih paham soal sistem pendidikan di Singapore,” tulis Yan Harahap dalam unggahannya.

O-Level Tidak Otomatis Setara Ijazah SMA

Salah satu hal yang menjadi sorotan Prof Zulfikar adalah posisi kualifikasi O-Level dalam sistem pendidikan yang mengadopsi model Inggris.

Menurutnya, O-Level tidak dapat begitu saja dipersamakan dengan ijazah SMA di Indonesia.

Dalam sistem tersebut, masih terdapat tahapan pendidikan lanjutan sebelum seseorang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Setara dengan SMP plus SMA kelas 1. Harus ada lanjutannya untuk masuk ke universitas,” ujar Prof Zulfikar dalam video tersebut.

Namun, ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan Inggris memiliki sejumlah jalur alternatif.

Dalam kondisi tertentu, lulusan O-Level dengan capaian akademik yang memenuhi persyaratan dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi melalui program persiapan seperti foundation atau pathway.

Jalur tersebut memungkinkan seseorang tidak mengikuti pendidikan menengah atas dengan pola konvensional, tetapi tetap harus melewati tahapan persiapan akademik sebelum memasuki perguruan tinggi.

“Jadi sebenarnya di sistem British, sistem Inggris itu ada kasus-kasus tertentu yang memungkinkan anak-anak lulus O-Level itu bisa langsung masuk kuliah. Sebenarnya dia bypass SMA,” katanya.

Prof Zulfikar menegaskan bahwa istilah “langsung kuliah” dalam konteks tersebut bukan berarti seseorang melewati seluruh tahapan pendidikan begitu saja.

Biasanya, peserta harus memenuhi persyaratan nilai tertentu dan mengikuti program pathway atau foundation selama periode tertentu sebelum resmi masuk ke program universitas.

“Biasanya nilai O-Level-nya itu tinggi, lalu kemudian dia mengikuti program pathway itu yang memberi dia semacam persiapan selama satu tahun sebelum akhirnya masuk kuliah yang menyelenggarakan pathway tadi,” ujarnya.

Program Insearch Gibran Ikut Disorot

Selain O-Level, Prof Zulfikar menyoroti program pendidikan yang disebut pernah diikuti Gibran di Insearch.

Ia mempertanyakan secara spesifik program apa yang ditempuh Gibran di lembaga tersebut.

Menurutnya, informasi itu penting untuk memahami apakah Insearch berfungsi sebagai kursus bahasa Inggris atau justru sebagai program foundation/pathway menuju perguruan tinggi.

“Nah, itu yang kurang jelas di Insearch dia ngapain, apakah sekadar kursus bahasa Inggris atau dia mengikuti program foundation sebelum masuk ke UTS sebagai mahasiswa,” kata Prof Zulfikar.

Pertanyaan tersebut muncul karena program foundation atau pathway dapat menjadi salah satu jalur bagi siswa dengan kualifikasi tertentu untuk memenuhi persyaratan masuk perguruan tinggi.

Dalam konteks riwayat pendidikan Gibran, Prof Zulfikar kemudian menyinggung rencana pendidikan di University of Technology Sydney (UTS).

Menurutnya, jika tujuan mengikuti program Insearch adalah untuk melanjutkan pendidikan ke UTS melalui jalur tersebut, berdasarkan informasi yang dibahas dalam video, jalur itu tampaknya tidak berlanjut hingga tujuan tersebut.

“Kalau memang dia tujuannya itu untuk masuk kuliah di UTS melalui program Insearch, sepertinya tidak tercapai,” ujarnya.

Gibran Kemudian Melanjutkan Pendidikan melalui MDIS

Riwayat pendidikan Gibran kemudian dikaitkan dengan Management Development Institute of Singapore atau MDIS.

Prof Zulfikar menegaskan bahwa perdebatan mengenai pendidikan Gibran sebenarnya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai perguruan tinggi tempat ia memperoleh pendidikan tinggi.

Menurutnya, persoalan yang menjadi perhatian adalah tahapan pendidikan sebelum kuliah, khususnya terkait pemenuhan syarat pendidikan sebagaimana dipersyaratkan dalam pencalonan Wakil Presiden.

“Betul, tapi kan yang jadi isu bukan soal di mana dia kuliah, tetapi SMA-nya di mana. Itu yang dipertanyakan, karena itu kan syarat konstitusi,” ujarnya.

Dengan demikian, menurut penjelasan tersebut, pembahasan mengenai MDIS dan University of Bradford perlu dipisahkan dari pertanyaan mengenai kualifikasi pendidikan menengah yang menjadi dasar sebelum seseorang memasuki perguruan tinggi.

Prof Zulfikar Jelaskan Posisi MDIS

Dalam video yang sama, Prof Zulfikar juga memberikan gambaran mengenai sistem pendidikan tinggi di Singapura.

Ia menjelaskan bahwa selain universitas yang dikenal sebagai institusi pendidikan tinggi utama, Singapura juga memiliki institusi pendidikan swasta yang menyelenggarakan program melalui kerja sama dengan perguruan tinggi asing.

Ia menyebut sejumlah universitas seperti National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), Singapore Management University (SMU), Singapore University of Technology and Design (SUTD), Singapore University of Social Sciences (SUSS), serta University of the Arts Singapore.

Di luar institusi tersebut terdapat private institution yang menyelenggarakan program pendidikan tinggi melalui kerja sama dengan universitas dari negara lain.

“Selain enam universitas ini, itu juga sebenarnya ada private institution. Jadi semacam akademi atau institut yang menyelenggarakan program pendidikan tinggi, tetapi mereka tidak diberi izin untuk memberi gelar,” jelas Prof Zulfikar.

Menurutnya, lembaga seperti itu dapat bekerja sama dengan universitas di Inggris atau Amerika Serikat.

Dalam kerja sama tersebut, institusi mitra menyediakan kurikulum, sedangkan kegiatan perkuliahan dapat diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di Singapura.

“Nah, MDIS ini bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Inggris sama di Amerika, di mana mereka menyewa kurikulumnya, lalu kemudian kurikulumnya mereka pakai dan memberikan layanan kuliah dengan pengajar dari Singapura kepada anak-anak yang mau mengambil program sarjana di bidang itu,” katanya.

Gelar Akademik Disebut Berasal dari Universitas Mitra

Prof Zulfikar menjelaskan bahwa dalam model kerja sama tersebut, institusi penyelenggara di Singapura tidak menjadi pihak yang menerbitkan gelar akademik.

Menurutnya, gelar diberikan oleh universitas mitra yang memiliki program atau kurikulum tersebut.

“Jadi MDIS ini tidak mengeluarkan ijazah, jadi mereka cuma menyelenggarakan kuliah di mana ijazahnya itu diberikan oleh perguruan tinggi yang memiliki kurikulum ini,” ujarnya.

Penjelasan tersebut kemudian dikaitkan dengan pendidikan Gibran di MDIS.

University of Bradford Disebut dalam Riwayat Pendidikan Gibran

Prof Zulfikar menyebut bahwa dalam kasus Gibran, program yang ditempuh di MDIS berkaitan dengan University of Bradford, Inggris.

“Kalau tidak salah di kasusnya Gibran, dia mengambil program yang kurikulumnya itu dibuat oleh Universitas Bradford,” tuturnya.

Ia kemudian menjelaskan mekanisme kerja sama antara MDIS dan universitas mitra tersebut.

“MDIS itu sebenarnya membayar ke Bradford untuk menyewa kurikulum, sehingga anak-anak yang ikut kuliah sesuai dengan kurikulum itu mendapat ijazah yang dikeluarkan oleh Bradford, bukan dari MDIS,” jelasnya.

👇👇

Artikel terkait lainnya