DEMOCRAZY.ID – Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi kembali mencuat.
Tersangka dalam perkara dugaan fitnah terkait ijazah Jokowi, Roy Suryo, mengaku menemukan hal yang dinilainya sebagai kejanggalan setelah membandingkan dokumen Jokowi dengan ijazah mahasiswa lain yang memiliki nomor berdekatan.
Roy menyebut telah memeriksa ijazah dengan nomor 1115 yang disebut milik Frono Jiwo. Sementara ijazah Jokowi disebut memiliki nomor 1120.
“Saya barusan cek lagi dan saya sudah menemukan ijazah Frono Jiwo yang utuh, ijazah Nomor 1115. Jokowi disebut-sebut ijazahnya 1120,” kata Roy, Jumat (21/8/2026).
Menurut Roy, perbandingan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pada sejumlah bagian dokumen.
Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah bentuk huruf “A”.
Roy mengatakan bentuk huruf “A” pada ijazah yang diklaim sebagai milik Jokowi terlihat berbeda dibandingkan dengan ijazah lain yang ia periksa.
Menurut dia, huruf “A” pada ijazah Frono Jiwo terlihat masuk ke bagian dalam, sedangkan huruf yang sama pada ijazah Jokowi disebut tampak lebih menonjol ke luar.
“Jadi A-nya ini masuk ke dalam, A-nya kalau punya Jokowi itu A-nya mencorot,” ujar Roy.
Ia juga membandingkannya dengan ijazah bernomor 1116 yang disebut milik almarhum Hari Mulyono.
Menurut Roy, bentuk huruf “A” pada dokumen tersebut memiliki kemiripan dengan ijazah Frono Jiwo.
“Adalah ijazah 1116 milik Almarhum Hari Mulyono ini hampir sama dengan ijazahnya Frono Jiwo. A-nya masuk ke dalam,” katanya.
Roy kemudian kembali menunjukkan perbedaan yang menurutnya terdapat pada dokumen Jokowi.
“Sedangkan ijazahnya Jokowi ya lihat ke mana, hanya mencorot keluar, hanya keluar menonjol,” ujarnya.
Roy mengatakan perbandingan tersebut belum berhenti pada ijazah bernomor 1115 dan 1116.
Ia menyatakan akan memeriksa dokumen lain yang memiliki nomor urut berdekatan.
Namun, Roy juga mengakui pentingnya proses verifikasi terhadap dokumen yang menjadi objek perdebatan.
Ia menyatakan mengikuti pandangan kuasa hukumnya, Refly Harun, bahwa dokumen tersebut perlu diverifikasi terlebih dahulu sebelum kesimpulan mengenai keasliannya dibuat.
“Jadi itu penting banget hari ini dan itu diakui malah oleh alat bukti yang tadi ada, tentu ijazah-ijazah yang lain nanti akan kita cek juga. Tapi sekali lagi saya ikuti statement dari kuasa hukum kami Pak Refly Harun, ijazah ini pun harusnya diverifikasi dulu,” kata Roy.
Dengan demikian, klaim mengenai perbedaan bentuk huruf atau nomor ijazah tersebut masih merupakan temuan dan penilaian dari pihak Roy.
Perbedaan tampilan dokumen, tanpa pemeriksaan autentikasi oleh pihak yang berwenang, belum dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah ijazah palsu.
Polemik mengenai dokumen pendidikan Jokowi telah berlangsung cukup lama dan melibatkan sejumlah pihak.
Perdebatan tidak hanya berkaitan dengan bentuk fisik ijazah, tetapi juga menyentuh riwayat pendidikan serta dokumen akademik Jokowi.
Dalam perkembangan terbaru, sejumlah pihak yang mempersoalkan dokumen pendidikan keluarga Jokowi juga menempuh jalur hukum.
Andi Azwan, salah satu pihak yang menyoroti dinamika tersebut, menilai kelompok yang mengkritik Jokowi memiliki fokus yang berbeda meski isu yang dibahas masih berada dalam lingkaran yang sama.
Ia menyebut Roy Suryo dan dokter Tifauzia Tyassuma lebih banyak berkonsentrasi pada persoalan ijazah Jokowi.
“Roy Suryo dan Dr. Tifa itu konsentrasinya adalah membahas mengenai ijazah asli Pak Jokowi yang dituduh palsu,” kata Andi.
Sementara itu, menurut Andi, kelompok purnawirawan TNI lebih banyak menyoroti isu pemberhentian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ia juga menyebut adanya sejumlah perkara yang diajukan ke pengadilan terkait persoalan pendidikan Gibran.
“Nah yang menarik buat kita apa yang dilakukan mereka di beberapa PN di ruang pengadilan itu banyak yang ditolak sampai saat ini,” ujar Andi.
Andi kemudian menyinggung gugatan lain yang berkaitan dengan surat keterangan penyetaraan pendidikan Gibran.
Isu tersebut juga menjadi bagian dari polemik yang mendapat perhatian sejumlah tokoh, termasuk Denny Indrayana.
Di tengah perdebatan tersebut, persoalan mengenai keaslian ijazah Jokowi tetap perlu dibedakan antara klaim, hasil perbandingan dokumen, dan kesimpulan berdasarkan pemeriksaan resmi.
Verifikasi menjadi penting agar perbedaan pada dokumen tidak langsung dianggap sebagai bukti pemalsuan.