DEMOCRAZY.ID – Peneliti ISEAS Yosuf-Ishak Institute, Made Supriatma, menyoroti rencana menggantikan tabung LPG 3 kilogram subsidi atau gas melon dengan CNG Merah Putih.
“Pemerintah akan mengganti gas LPG 3kg yang dikenal dengan sebutan “gas melon” warna hijau dengan gas CNG. LPG adalah liquified petroleum gas atau gas yang diubah menjadi cairan,” kata Made dikutip dari akun Facebook pribadinya, Rabu (19/8/2026).
Dia menjelaskan, LPG adalah produk sampingan minyak bumi. Sementara CNG adalah compressed natural gas.
“Ia adalah gas alam seperti metana yang banyak ada di mana-mana. Indonesia memiliki cadangan sangat besar untuk gas ini,” jelasnya.
Namun menurut Made Supriatma, CNG lebih cepat habis. Borosnya bahkan lebih dua kali lipat.
“Masalahnya adalah LPG punya kalori lebih besar. Lebih dari 2 kali lipat CNG. Jika satu tabung gas Melon ini bisa dipakai 7 hari, gas CNG hanya 3 hari,” terangnya.
“Juga tabung CNG 2 kali lebih berat. Satu tabung beratnya bisa 15 kg lebih. Ini karena CNG adalah gas dengan tekanan tinggi. Tabungnya terbuat dari baja tanpa sambungan,” imbuhnya.
Hingga kini, dia mengungkapkan Indonesia belum bisa bikin sendiri tabung gasnya. Padahal Indonesia negara kaya penghasil nikel, bahan pembuat baja.
“Kekayaan negeri ini selalu dirampok asing. Itulah sebabnya, tabung CNG ini harus diimpor. Itu yang sering Anda dengar dari presidenmu kan?” ucapnya.
Di sisi lain, CNG dinamai CNG Merah Putih. Nama yang banyak digunakan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Tabung CNG ini diberi nama? Ya tidak salah: Tabung Merah Putih. Semuanya merah putih di jaman sekarang ini,” ujarnya.
Sayangnya, tabung tersebut malah diimpor dari China.
“Pemerintah mengimpor 100 ribu Ibu tabung ini dari China. Kabarnya untuk percobaan. Harga satu tabung gas CNG ini nantinya sama dengan gas melon 3kg yakni Rp16,000,” terangnya.
“Selamat menikmati Tabung Merah Putih dari China,” tambah Made Supriatma.
Wacana tersebut sebelumnya dikonfirmasi Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman.
Dia mengatakan rencana itu telah diumumkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
“Oh, Pak Menteri kan mengumumkan kemarin tabung Merah Putih,” kata Laode kepada jurnalis di DPR RI, Jakarta, Senin (29/6/2026) lalu.
Menurutnya, saat ini pihaknya tengah menyiapkan prototype tabung CNG untuk uji coba. Targetnya, CNG Merah Putih bisa diedarkan tahun ini.
“Jadi diuji itu. Belasan lah mungkin sekitar 15 (tabung). Satu tahap lagi sudah bisa di-implement, di-edarkan tahun ini,” ucapnya.
Laode menjelaskan, tabung CNG Merah Putih ini berbeda dengan LPG 3 kg konvensional. Seperti teknologi tabungnya yang berbahan komposit.
Karenanya, dibanding LPG, bobornya lebih ringan. Sehingga mudah dipidanhkan.
“Jadi ini saya ingin jelaskan sekali lagi ya bahwa material tabung ini itu sudah sampai ke tipe 4,” jelas Laode.
Soal harga, Laode bilang harganya sama dengan LPG subsidi alias tabung melon.
“Sama dengan harganya sama. Sekarang simulasinya masih disamakan, dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai dengan 30%. Kalau jumlahnya masif kan kita punya bargaining untuk minta mereka bangun di sini,” ungkap Laode.
Ke depan, dia bilang pendistribusiannya didahulukan untuk kota besar di Pulau Jawa yang memiliki jaringan infrastruktur pipa gas memadai.
“Iya, kita prioritaskan dulu yang dari pipa lah. Makanya uji cobanya kan Pak Menteri sudah sampaikan di kota-kota besar di Pulau Jawa dulu yang memang jalur gas dari pipanya lebih banyak,” ucapnya.
Dia mengaku pihaknya juga telah berkoordinasi dengan SKK Migas.
“Kita sudah bahas sama SKK Migas once itu jalan nanti gasnya bisa tersedia,” pungkas Laode.