Jokowi Sudah Gaspol, Elektabilitas PSI Cuma 1,9 Persen, Pengamat Sentil Menohok: Makin Sering Dicolok Makin Drop!

DEMOCRAZY.ID – Upaya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) meningkatkan elektabilitas melalui safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai belum membuahkan hasil signifikan.

Pegiat politik, ekonomi, dan sosial Arif Wicaksono menyoroti elektabilitas PSI yang masih berada di angka 1,9 persen.

Menurutnya, tingginya aktivitas politik Jokowi bersama PSI belum otomatis meningkatkan tingkat keterpilihan partai tersebut.

Arif bahkan menyebut Jokowi telah melakukan safari politik selama sekitar dua bulan.

Namun, berdasarkan hasil survei terbaru, elektabilitas PSI justru masih berada di level yang sama.

“Jokowi dua bulan full safari. Elektabilitas PSI turun ke 1,9 persen,” ujar Arif dikutip pada Rabu (26/8/2026).

Arif mempertanyakan mengapa elektabilitas PSI belum menunjukkan peningkatan meski partai tersebut mendapat dukungan dan eksposur politik dari Jokowi.

Menurut dia, masyarakat tetap memiliki penilaian sendiri terhadap partai politik.

Popularitas seorang tokoh, kata Arif, belum tentu langsung berubah menjadi dukungan terhadap partai.

“Kenapa belum naik-naik? Mungkin rakyatnya masih ingat mana yang beneran kerja, mana yang cuma numpang eks Presiden,” katanya.

Arif kemudian menggunakan analogi untuk menggambarkan kondisi elektabilitas PSI.

“Ternyata efeknya sama kayak charger rusak, makin sering dicolokin, makin drop,” ujarnya.

Sebelumnya, hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan elektabilitas PSI masih berada di angka 1,9 persen.

Survei tersebut dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026.

Dalam simulasi pilihan partai politik untuk DPR RI, PSI belum mengalami perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan elektabilitas PSI masih bertahan di angka 1,9 persen meski Jokowi telah melakukan roadshow ke sejumlah daerah.

“Partai Solidaritas Indonesia tidak mengalami perubahan di satu setengah tahun ini. Masih tetap di 1,9 persen, meskipun Joko Widodo (Jokowi) melakukan roadshow ke sejumlah daerah,” kata Dedi.

Dedi menjelaskan, persoalan PSI bukan hanya terkait tingkat pengenalan masyarakat terhadap partai.

Dalam survei yang sama, sebanyak 70,2 persen responden mengaku mengetahui atau pernah melihat logo PSI.

Namun, tingkat pengenalan tersebut belum berbanding lurus dengan dukungan elektoral.

“Namun, tingkat pengenalan tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan. Dalam simulasi yang sama, PSI hanya meraih 1,9 persen suara,” ujar Dedi.

Meski demikian, Dedi menilai peluang PSI untuk meningkatkan elektabilitas menuju Pemilu 2029 masih terbuka.

Menurutnya, survei tersebut dilakukan ketika aktivitas roadshow Jokowi masih berlangsung.

Karena itu, dampak politik dari safari tersebut belum dapat diukur secara keseluruhan.

“Mungkin dampaknya baru terlihat setelah roadshow selesai, atau dalam satu tahun ke depan. Kalau dilakukan secara konsisten, bisa saja elektabilitasnya naik,” katanya.

Dalam survei IPO tersebut, Partai Gerindra menempati posisi teratas dengan elektabilitas 17,5 persen.

PDI Perjuangan berada di posisi berikutnya dengan 12,8 persen, disusul Partai Golkar 10,4 persen dan Partai Demokrat 8,1 persen.

Selanjutnya, PKB memperoleh 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan NasDem 4,4 persen.

Sementara itu, PSI masih berada di angka 1,9 persen.

Survei IPO menggunakan metode multistage random sampling.

Penentuan Primary Sampling Unit (PSU) dilakukan di sejumlah kelurahan atau desa, kemudian pemilihan RT dilakukan secara acak menggunakan random kish grid paper.

Survei melibatkan 1.200 responden dan dilaksanakan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026.

Tingkat kepercayaan survei mencapai 95 persen dengan margin of error sekitar 2,9 persen.

Dengan hasil tersebut, efektivitas safari politik Jokowi terhadap elektabilitas PSI masih menjadi pertanyaan.

IPO menilai dampaknya masih mungkin terlihat setelah rangkaian roadshow tersebut berlangsung lebih lama.

Artikel terkait lainnya