Skenario Mengejutkan Pilpres 2029: Dibuang Gerindra, Dedi Mulyadi Disebut Bakal Duet Dengan Sosok Ini!

DEMOCRAZY.ID — Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai diwarnai oleh berbagai spekulasi dan analisis menarik dari para pengamat.

Salah satu skenario yang kini hangat diperbincangkan adalah potensi terbentuknya koalisi antara Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan Anies Baswedan.

Kemungkinan skenario tersebut diungkapkan oleh Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga.

Menurutnya, peluang itu bisa terbuka lebar apabila posisi Dedi di internal Partai Gerindra mulai terpinggirkan—terutama jika tren elektabilitas Dedi terus berada di atas Ketua Umum Gerindra sekaligus Presiden RI, Prabowo Subianto.

Jamiluddin menilai, dinamika internal partai bisa saja membuat Gerindra mengambil sikap tertentu jika ada kader yang elektabilitasnya melampaui sang ketua umum.

“Gerindra bisa saja tidak menginginkan bila ada kader Gerindra yang elektabilitasnya lebih tinggi dari Prabowo. Kader seperti itu bisa saja akan diasingkan di internal Gerindra. Dedi bisa saja tidak diberi peran strategis di Gerindra,” ujar Jamiluddin dalam keterangannya, dikutip Senin (17/8/2026).

Jika situasi tersebut benar-benar terjadi, Dedi diprediksi tidak akan tinggal diam.

Pengalamannya yang pernah berpindah haluan dari Partai Golkar ke Gerindra menunjukkan bahwa opsi untuk mencari kendaraan politik baru bukanlah hal yang mustahil baginya demi mempertahankan langkah politiknya.

Peluang Terbuka Lewat Wacana Ambang Batas Nol Persen

Peluang tersebut dinilai akan semakin mulus apabila wacana penghapusan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold benar-benar terealisasi.

Dengan syarat pencalonan menjadi nol persen, ruang gerak bagi tokoh-tokoh politik untuk mencari partai pengusung dan membangun koalisi alternatif akan terbuka sangat luas tanpa hambatan administratif yang berat.

Dalam situasi yang cair tersebut, Jamiluddin melihat kans Dedi untuk bergandengan tangan dengan Anies Baswedan sangat mungkin terjadi.

Duet kedua tokoh ini dinilai memiliki potensi kekuatan elektoral yang besar karena mampu merepresentasikan dan memadukan basis massa dari kalangan nasionalis serta religius.

“Salah satunya bisa saja Dedi bergabung dengan Anies Baswedan untuk maju pada Pilpres 2029. Dua sosok ini akan sangat kuat bila bersatu. Setidaknya dua sosok ini dapat membius kalangan religius dan nasionalis untuk mendukung mereka,” tambahnya.

Meski demikian, arah pelabuhan politik Dedi Mulyadi pada akhirnya akan sangat bergantung pada bagaimana perlakuan dan dinamika internal yang ia terima di dalam tubuh Partai Gerindra ke depan.

Lonjakan Elektabilitas Dedi Mulyadi dalam Berbagai Survei

Spekulasi mengenai posisi tawar Dedi Mulyadi ini tentu bukan tanpa dasar.

Sejumlah lembaga riset dan survei independen mencatat tren elektabilitas Dedi yang melesat tajam dan menduduki posisi teratas.

Berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada akhir Juli 2026, Dedi memuncaki simulasi semi terbuka dengan raihan elektabilitas mencapai 35%, sementara Prabowo berada di urutan berikutnya dengan 14,5%.

Dalam simulasi head to head, keunggulan tersebut bahkan semakin kentara dengan perolehan Dedi di angka 59% berbanding 28,3% milik Prabowo.

Tren positif serupa juga terekam dalam data Indikator Politik Indonesia.

Walaupun tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo masih sedikit lebih unggul (98,8% berbanding 88,2%), tingkat kesukaan (favorability) masyarakat terhadap Dedi justru jauh lebih tinggi, yakni menyentuh angka 88,3%, sedangkan tingkat kesukaan publik kepada Prabowo berada di kisaran 68,1%.

Kendati berbagai skenario koalisi dan angka survei ini telah memicu diskursus hangat di ruang publik, konstelasi menuju Pilpres 2029 masih terbentang cukup panjang.

Dinamika partai politik, pergerakan elektabilitas para tokoh, serta kepastian regulasi pemilu dipastikan masih akan terus berubah seiring berjalannya waktu.

Artikel terkait lainnya