Apakah Jokowi Lebih Baik dari Prabowo? Ini Jawabannya!

DEMOCRAZY.ID — Menilai siapa yang “lebih baik” antara kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden saat ini Prabowo Subianto tentu bukan perkara hitam dan putih.

Perbandingan ini harus ditarik dari ranah personal menuju substansi kebijakan, orientasi politik, serta dampaknya terhadap tata kelola negara.

Berikut adalah bedah komparatif dari berbagai dimensi krusial:

1. Isu Radikalisme dan Hubungan Negara dengan Kelompok Islam

  • Era Jokowi: Isu penanganan radikalisme agama menjadi salah satu diskursus paling menonjol. Pemerintahan Jokowi kerap dinilai mengambil langkah tegas, bahkan cenderung represif terhadap kelompok-kelompok Islam tertentu, yang dibuktikan dengan pencabutan badan hukum dan pembubaran dua organisasi massa Islam besar di Indonesia pada masanya.
  • Era Prabowo: Dinamika di bawah kepemimpinan Prabowo sejauh ini menunjukkan pendekatan yang terasa lebih lunak (soft approach) dalam mengelola isu-isu keagamaan dan polarisasi identitas, tanpa tensi penindakan ormas seketat dekade sebelumnya.

2. Arah Kebijakan dan Stabilitas Ekonomi

  • Era Jokowi: Pertumbuhan ekonomi relatif terjaga di kisaran 5%, ditopang oleh mega proyek infrastruktur masif seperti jalan tol, pelabuhan, hingga Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Kendati demikian, kebijakan ekonomi ini tetap menyisakan kritik tajam, terutama terkait lonjakan beban utang luar negeri dan transparansi pembiayaan proyek.
  • Era Prabowo: Tantangan ekonomi dirasakan jauh lebih kompleks dan berat. Tekanan fiskal yang kian menghimpit, polemik keberlanjutan proyek warisan masa lalu, hingga carut-marut tata kelola program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) membuat performa ekonomi era ini kerap mendapat sorotan kritis dari para ekonom independen.

3. Arsitektur Politik dan Dinamika Oposisi

  • Era Jokowi: Pada periode pertama, keseimbangan kekuasaan (checks and balances) masih relatif hidup karena kubu Prabowo berada di luar lingkaran pemerintah sebagai oposisi. Namun, konstelasi berubah drastis di periode kedua ketika sebagian besar kekuatan politik ditarik masuk ke koalisi, ditutup dengan puncak manuver kontroversial melalui putusan Mahkamah Konstitusi yang memuluskan jalan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden.
  • Era Prabowo: Sejak hari pertama memegang kendali, Prabowo memilih merangkul hampir seluruh faksi partai politik ke dalam gerbong kekuasaan, menciptakan koalisi jumbo yang sangat gemuk. Konsekuensinya, fungsi pengawasan dari parlemen melemah, diperparah dengan gaya komunikasi politik sang presiden yang kerap meledak-ledak dan temperamental dalam beberapa kesempatan pidatonya.

4. Lanskap Informasi dan Penggunaan “Buzzer”

Baik di era Jokowi maupun Prabowo, instrumen media sosial kerap diidentifikasi melibatkan pengerahan pendukung bayaran atau buzzer untuk meredam gelombang kritik, mendiskreditkan aktivis, serta membentuk narasi positif demi melindungi kebijakan pemerintah dari perdebatan publik yang objektif.

Kesimpulan: Memilih Sisi Kacamata

Menjawab pertanyaan mana yang lebih baik berpulang pada prioritas yang dipegang oleh publik:

  • Jika yang diutamakan adalah redaman terhadap polarisasi ideologis dan pendekatan sosial yang lebih lunak, sebagian kalangan mungkin melihat Prabowo lebih longgar.
  • Namun, jika tolok ukurnya adalah stabilitas fiskal, kalkulasi ekonomi makro, atau dinamika oposisi di masa awal, rezim Jokowi di periode awal kerap dianggap memiliki ruang perimbangan yang lebih sehat sebelum akhirnya terkonsolidasi penuh di ujung masa jabatannya.

Keduanya meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi demokrasi Indonesia, di mana tantangan terbesar tetap terletak pada bagaimana memastikan suara kritis masyarakat tidak tergerus oleh hegemon kekuasaan yang terlalu pekat.

Artikel terkait lainnya