Pengamat Kuliti Habis KDM: Cuma Politikus Kelas ‘Ayam Sayur’, Mentalnya Belum Siap Hadapi Pilpres 2029!

Gugat ‘Panggung Sandiwara’ Dedi Mulyadi, Mahasiswa Jabar Berhenti Poles Citra!

DEMOCRAZY.IDPengamat politik Heru Subagia mengaku kecewa karena tantangan yang dilayangkannya kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM terkait pemberantasan korupsi belum mendapat respons.

Sebelumnya, Heru menantang Dedi Mulyadi membuat sayembara untuk menangkap atau mengungkap kasus korupsi kelas kakap.

Namun, setelah beberapa hari menunggu, Heru mengaku tidak melihat adanya respons langsung dari KDM terhadap tantangan tersebut.

Kondisi itu membuat Heru menarik kesimpulan. Ia menilai Dedi belum menunjukkan keberanian untuk keluar dari isu-isu politik lokal Jawa Barat dan menghadapi persoalan yang lebih besar dalam konteks nasional.

Heru Sebut KDM ‘Ayam Sayur’

Heru bahkan menggunakan istilah ‘ayam sayur’ untuk menggambarkan sikap Dedi Mulyadi yang menurutnya tidak merespons tantangan tersebut.

“Terkait sayembara KDM yang sekali lagi saya katakan dia tidak lebih sebagai ayam sayur,” ujar Heru, Selasa (11/8/2026).

Menurut Heru, sikap tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran ketika Dedi dihadapkan pada isu pemberantasan korupsi kelas kakap.

“Mungkin sekali lagi saya katakan KDM ternyata mempunyai ketakutan luar biasa untuk menggebrak koruptor kelas kakap,” ucapnya.

Heru mengaku telah memperhatikan bagaimana tim Dedi mempelajari latar belakang dirinya sebelum memberikan respons atas berbagai tantangan yang dilontarkannya.

“Saya melihat tim kreatifnya sangat teliti sudah mempelajari diri saya, pendidikan, koneksitas, pengalaman, organisasi, bahkan relawan,” tukasnya.

Tantangan Tangkap Koruptor Tak Digubris

Heru mengatakan dirinya menilai KDM memilih tidak melayani tantangan yang diajukannya.

Ia bahkan menganggap sikap diam tersebut sebagai tanda bahwa KDM berada dalam tekanan menghadapi tantangan pemberantasan korupsi.

“Dalam konteks ini, KDM sepertinya tidak mau melayani tantangan saya, dan mungkin juga masyarakat secara umum berkaitan dengan melawan koruptor,” tutur Heru.

“KDM lebih memilih diam atau mungkin saya anggap sudah menyerah, membiarkan dirinya ada dalam tekanan berat terhadap tantangan tangkap koruptor,” tambahnya.

Heru pun kembali melontarkan penilaian keras terhadap mentalitas Dedi.

“Saya yakin bahwa mentalitas KDM ini sejatinya betul ayam sayur,” tegasnya.

Heru juga menyoroti respons para pendukung Dedi Mulyadi di media sosial.

Ia menduga para pendukung KDM menggunakan alasan bahwa pemberantasan korupsi kelas kakap bukan merupakan kewenangan gubernur.

“Melihat militansi para pembelanya, tentu mereka berdalih pemberantasan korupsi kelas kakap bukan menjadi ranah dan wewenang dari KDM,” ucapnya.

Menurut Heru, alasan tersebut muncul setelah dirinya melontarkan gagasan agar Dedi membuat sayembara untuk menangkap koruptor.

“Itu yang saya tangkap setelah mengeluarkan ide tentang KDM harus melakukan sayembara tangkap koruptor,” katanya.

Heru juga menilai sebagian pendukung Dedi Mulyadi memberikan pembelaan berlebihan terhadap idolanya.

“Tentunya, dalam hati saya konteks lalulintas komentar pendukung KDM memberikan kesimpulan bahwa mereka justru melindungi KDM melampaui apa yang saat ini menjadi kegiatan KDM di Jabar,” imbuhnya.

Pendukung KDM Dinilai Masih ‘Main Kandang’

Heru mengaku mencermati percakapan yang berkembang di media sosial terkait tantangannya tersebut.

Menurut dia, reaksi para pendukung Dedi menunjukkan bahwa basis pendukung KDM belum siap membawa figur tersebut ke arena politik nasional.

“Tapi dengan melihat percakapan di Medsos, memperlihatkan para penggemarnya belum siap, masih main kandang,” kata Heru.

Ia menilai kondisi tersebut justru dapat menjadi beban bagi Dedi apabila ingin memperluas kiprah politiknya menuju kontestasi nasional.

“Inilah yang menurut saya adalah bagian paling membebani bagi KDM untuk melangkah dalam kontestasi politik nasional,” timpalnya.

Heru kemudian menilai kiprah Dedi Mulyadi selama ini masih lebih banyak berkutat pada persoalan kebijakan politik lokal di Jawa Barat.

“Saya juga menyadari pada akhirnya KDM hanya berani mengomentari isu-isu berkaitan dengan kebijakan politik lokal,” terangnya.

Ia mencontohkan ketika muncul kritik terhadap kebijakan maupun kinerja Dedi sebagai Gubernur Jawa Barat.

“Salah satunya jika ada kritik dari Pengamat yang saat ini sedang mendapatkan tanggapan dari KDM, yang tentu mengkritisi masalah kebijakan dan prestasi KDM yang dinyatakan gagal,” lanjutnya.

Menurut Heru, sikap tersebut memperlihatkan adanya batasan yang dibuat Dedi ketika berhadapan dengan isu politik nasional.

Cabut Dukungan untuk Pilpres 2029

Heru bahkan menyatakan tidak lagi memiliki komitmen moral untuk mendukung Dedi Mulyadi sebagai calon presiden pada Pilpres 2029.

Ia mengaku sebelumnya memberikan dukungan karena melihat peluang KDM untuk masuk dalam pertarungan politik nasional.

Namun, setelah menunggu respons selama dua hingga tiga hari terhadap tantangan yang diberikan, Heru merasa telah memperoleh kesimpulan sendiri.

“Saya sudah tidak punya tanggung jawab moral lagi, komitmen saya mendukung KDM menjadi bagian Capres 2029, karena dua tiga hari saya menunggu, saya pikir ini cukup mengambil kesimpulan, bahwa mentalitas KDM belum siap bertarung di Pilpres,” tegasnya.

Lebih jauh, Heru menilai Dedi Mulyadi masih sebatas figur lokal yang populer melalui aktivitasnya di media sosial.

“Saya menutup diri tidak memberikan ruang bagi KDM, saya pikir yang saya inginkan sudah terjawab, KDM hanya pemain kandang, sosok konten kreator lokal,” tandasnya.

Ia menambahkan, kerja-kerja politik Dedi menurutnya masih berfokus di Jawa Barat dan tidak terlepas dari kritik sejumlah pihak.

“Kerja-kerja politiknya hanya sebatas di wilayah Jabar, itupun mendapatkan kritik dari berbagai pihak,” kuncinya.

Berawal dari Sayembara Dedi Mulyadi

Sebelumnya, Dedi Mulyadi (KDM) mengadakan sayembara berhadiah Rp5 juta hingga Rp50 juta bagi warga yang berhasil menangkap pelaku kejahatan jalanan seperti begal, copet, atau perampok.

Syaratnya, pelaku harus diserahkan kepada polisi dalam keadaan hidup dan tidak babak belur, serta telah resmi menjadi tersangka.

Hal tersebut kemudian membuat Heru Subagia memberikan tantangan kepada Dedi Mulyadi.

Namun, Heru mengaku tantangan tersebut belum mendapat respons dari KDM.

Artikel terkait lainnya