Sinyal Perang Dingin Elit Politik! Hubungan Prabowo dan Jokowi Retak, Siap Bersimpang Jalan Tahun 2028?

DEMOCRAZY.ID — Ketegangan di balik layar kekuasaan antara Presiden Prabowo Subianto dan pendahulunya, Joko Widodo, kian terbuka ke permukaan.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, blak-blakan membongkar bahwa retak di antara kedua kutub kekuatan tersebut sejatinya sudah mulai merembes sejak paruh tahun lalu dan diprediksi bakal benar-benar pecah pada 2028 mendatang.

Di tengah memanasnya relasi politik yang kian berjarak, manuver sang mantan presiden yang sudah mulai mencuri start melakukan safari politik ke berbagai daerah—seperti kunjungan terbarunya ke Lampung—dibaca sebagai bentuk kepanikan akut.

Pasalnya, kalkulasi politik di ring satu menunjukkan peluang Gibran Rakabuming Raka untuk kembali mendampingi Prabowo di Pilpres 2029 menyusut drastis, dengan probabilitas yang disebut-sebut hanya tersisa 30 persen saja.

“Hubungan Jokowi dan Pak Prabowo sudah retak sejak 6-7 bulan lalu, dan pecah 2028, yang kemungkinan beda jalan,” ungkap Ray dalam kanal YouTube Hendri Satrio.

“Pak Prabowo mungkin mencari pasangan (capres) lainnya. Karena itu, Pak Jokowi terlihat menyiapkan dua atau tiga skenario,” tambahnya.

Bongkar Pasang 3 Skenario Penyelamatan Dinasti

Menghadapi kenyataan bahwa petahana berpotensi besar melirik figur lain untuk posisi wakil presiden, kubu Solo diklaim tengah meracik tiga lapis skenario darurat demi mengamankan kelangsungan politik sang putra mahkota:

  1. Skenario Pertama: Tetap berupaya merapat dan berkompromi dalam gerbong koalisi Prabowo, kendati posisi Gibran sebagai cawapres nantinya harus tergeser oleh figur lain.
  2. Skenario Kedua: Mengambil jalur mandiri dengan mendorong Gibran maju sebagai calon presiden atau wakil presiden berpasangan dengan poros kekuatan politik alternatif di luar petahana.
  3. Skenario Ketiga: Mempersiapkan skema estafet kekuasaan jangka pendek dengan mengantisipasi segala kemungkinan darurat di tengah jalan.

“Skenario jangka pendek (ketiga), siapa yang tahu ada sesuatu yang membuat Pak Prabowo tidak bisa melanjutkan pemerintahannya,” beber Ray.

Beban Elektoral Gibran dan Bayang-Bayang Tragedi Politik

Langkah safari politik yang terlampau dini ini dinilai terpaksa dilakukan karena penerimaan publik terhadap figur Gibran kian menghadapi jalan terjal.

Sentimen negatif yang menghantam sang wakil presiden dinilai melekat erat secara simbiotik dengan sang ayah, berbeda jauh dengan dinamika transisi kepemimpinan masa lalu.

“Berbeda dengan Pak Soeharto dengan Pak Habibie dahulu. Kalau Pak Harto diminta mundur, belum tentu Pak Habibie juga (diminta mundur),” pungkasnya.

Dengan sisa waktu menuju paruh akhir dekade ini, pertarungan di lingkaran elite dipastikan bakal semakin sengit, di mana setiap langkah kecil di Istana kini dibaca sebagai persiapan menuju perpisahan jalan total antara petahana dan kekuatan lama.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya