DEMOCRAZY.ID – Permintaan maaf Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kepada siswa yang terdampak dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut menjadi bahan pembicaraan di tengah isu keretakan hubungan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Gibran sebelumnya mendatangi korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah sekaligus meminta orang tua memastikan kondisi anak benar-benar pulih sebelum kembali ke sekolah.
Gibran juga menyarankan siswa membawa bekal makanan dari rumah.
Sikap tersebut kemudian ditanggapi Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama.
Ia menilai permintaan maaf Gibran dan kampanye membawa bekal dari rumah tidak semestinya dibaca sebagai tanda keretakan dengan Prabowo.
Prabowo : keracunan itu sakit perut biasa ( Tanpa Permintaan maaf )
Sudaryono kepala MBG : Netizen & guru hingga wartawan bikin ramai MBG ( Tanpa Kata Maaf )
GIBRAN : KERACUNAN MBG KAMI YG SALAH IBU, KAMI YANG MOHON MAAF
Baca Juga2029 GIBRAN SELANGKAH DIDEPAN KETAR KETIR GAK LO WO 😂🫵 pic.twitter.com/wiNYzt3PKR
— CatatanAli7 (@Catatan_ali7) September 15, 2026
Dian terlebih dahulu menjelaskan konteks sikap Gibran ketika menemui para korban.
Menurutnya, permintaan maaf tersebut merupakan bentuk respons Wakil Presiden terhadap persoalan yang menimpa siswa penerima MBG.
“Mas Wapres meminta maaf karena ada keracunan pada MBG,” ujar Dian, dikutip fajar.co.id, Minggu (20/9/2026).
Gibran memang menyampaikan permohonan maaf atas nama pemerintah ketika menemui korban di Karo.
Ia juga menyatakan keluhan dan masukan keluarga korban akan diteruskan kepada pimpinan pemerintah untuk mendapat tindak lanjut.
PECAH KONGSI!
Ingat dgn waktu peringatan HUT-RI 81 di Istana Merdeka Prabowo Gibran Jokowi duduk sejajar di podium, itu jokowi unjuk gigi, bahwa dirinya msh berkuasa@NgkongRoses @newIding30@tokaidirecyclepic.twitter.com/AnUkFHJXTZhttps://t.co/uYelNoSSGXhttps://t.co/nGd94rHSvm pic.twitter.com/vx6JsJjZJW
— Widarto 🇮🇩 #IndonesiaMerdeka (@widarto63285827) August 26, 2026
Dian kemudian meminta publik melihat ke situasi berbeda, yakni sikap Presiden ke-7 RI Jokowi ketika berada di Nusa Tenggara Timur setelah gempa.
Menurut Dian, permintaan maaf dari seorang pejabat negara tidak selalu berkaitan dengan konflik politik, melainkan dapat menjadi bentuk empati ketika pemerintah menghadapi persoalan di lapangan.
“Pak Jokowi juga meminta maaf karena tidak bisa berbuat banyak untuk membantu korban gempa, Mas Kaesang mendampingi tidur di tenda,” bebernya.
Gibran sendiri juga pernah menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat terdampak gempa NTT.
Saat berada di posko pengungsian di Sikka pada 20 Agustus 2026, ia menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam penanganan darurat.
Dian selanjutnya menggambarkan aktivitas setelah kunjungan ke wilayah bencana tersebut.
Ia menilai suasana politik yang dihadiri para elite tidak serta-merta menghapus kepedulian terhadap masyarakat yang baru saja ditemui.
“Hadir dari NTT, hadiri HUT PAN. Ditengah gegap gempita, hatinya (Kaesang) masih tertinggal di Palue,” tandasnya.