Memprediksi Masa Depan Politik Jokowi dan Gibran: Tamat Riwayat Dinasti?

DEMOCRAZY.ID – Ketua Majelis Syura Partai Ummat Amien Rais memprediksi karier politik Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka akan berakhir pada 2029.

Ia meminta pihak yang menggugat status Gibran bersabar.

Prediksi itu disampaikan Amien lewat kanal YouTube pribadinya, yang diunggah Rabu (7/10/2026), menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal gugatan terhadap Gibran.

“Saya yakin hanya sampai 2029. Jadi Mas Denny dan kawan-kawan, kita harus bersabar. Tidak ada perjuangan tulus yang sia-sia,” kata Amien.

Menurut Amien, mustahil Gibran maju lagi sebagai calon presiden maupun wakil presiden.

Ia mengutip Surah Al-A’raf ayat 40 yang menggambarkan unta masuk ke lubang jarum.

Amien menyebut akhir karier politik Jokowi dan Gibran tinggal sekitar dua tahun dua bulan lagi.

“Seperti kisah pewayangan, Jokowi dan Gibran akan masuk kotak, dan dalang tidak akan mengeluarkan dua wayang ini lagi,” ujarnya.

Ia meyakini perpolitikan nasional akan lebih segar dan produktif setelah keduanya tidak lagi berada di panggung politik.

“Insya Allah, saya yakin Bapak Prabowo akan jauh lebih ringan tanpa Gibran, tidak lagi terbebani oleh Gibran yang memiliki ayahnya di belakangnya,” kata Amien.

Amien mengaitkan putusan MK dengan pertemuan Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto di Kertanegara pada malam yang sama dengan sidang.

Menurutnya, pertemuan itu semestinya dirahasiakan, tetapi tetap bocor karena diberitakan sejumlah media.

“Isi pertemuan rahasia ini bisa ditebak: menyelamatkan Gibran. Untuk sementara Gibran memang aman, tetapi sampai kapan?” ujarnya.

Amien mengaku heran Prabowo tampak sulit menolak permintaan Jokowi.

Ia membayangkan Prabowo luluh setiap kali Jokowi meminta sesuatu.

“Mungkin dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata, ‘Ya, Mas Mukidi, tenang saja, nanti saya instruksikan agar Mas Gibran bebas dari masalah dan tetap aman,’” katanya.

Amien juga menyarankan Prabowo melupakan Jokowi.

Ia menilai niat Jokowi tidak lebih dari mengganggu kepemimpinan Prabowo.

Amien bahkan menuding Jokowi menyimpan harapan buruk.

“Ia berharap Bapak Prabowo tidak dalam keadaan sehat atau lumpuh, sehingga ‘si berwajah kosong’ dapat menggantikan Bapak Prabowo. Ini sangat berbahaya, sangat jahat, dan sangat keji,” ucapnya.

Amien menambahkan, Prabowo sudah mulai membongkar warisan kekuasaan Jokowi, langkah yang ia nilai sangat menjanjikan.

Amien mengatakan sempat kecewa dengan pernyataan Gatot Nurmantyo bahwa MK akan menolak gugatan setelah menangkap sinyal dari istana.

Namun, menurutnya, intuisi politik Gatot ternyata benar.

Sehari sebelumnya, kata Amien, publik yang mengikuti perkara ini meyakini MK akan mendiskualifikasi Gibran.

Alasannya, Gibran disebut tidak memiliki ijazah SMA atau yang setara, sebagaimana diungkapkan pakar hukum tata negara Denny Indrayana dan sejumlah tokoh lain, termasuk purnawirawan TNI.

Amien menyebut dokumen yang diserahkan ke KPU hanya berupa sertifikat kehadiran dari UTS College di Sydney, Australia, tempat Gibran disebut menempuh kursus bahasa Inggris selama sekitar enam bulan pada 2004–2007.

“Gibran persis seperti ayahnya, menghina bangsa Indonesia,” kata Amien.

Denny dan rekan-rekannya kemudian mengajukan permohonan ke MK agar Gibran didiskualifikasi sebagai wakil presiden.

Pada Selasa (6/10/2026) pukul 20.00 WIB, MK memutuskan tidak berwenang mencampuri kedudukan Gibran.

Amien menilai sikap itu seperti peribahasa Jawa “malik gremyang”, yakni berbalik arah dan berpihak pada Gibran.

Artikel terkait lainnya