Rocky Gerung Bongkar Habis-Habisan Alasan Kenapa Gibran Disebut Idap ‘Incapacity’ Nyata

DEMOCRAZY.IDKritik tajam tanpa ampun kembali dilayangkan pengamat politik terkemuka, Rocky Gerung, terhadap jalannya roda pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Memasuki dua tahun masa kepemimpinan, Rocky menilai kabinet pemerintahan saat ini sudah berada dalam kondisi darurat kinerja dan membutuhkan perombakan atau overhaul secara menyeluruh.

Menurut Rocky, kompromi dan perjanjian politik yang menjadi fondasi koalisi partai pengusung pemerintah saat ini sudah kehilangan legitimasi substantifnya di hadapan akal sehat publik, lantaran para menteri yang ditempatkan terbukti gagal menunjukkan hasil kerja yang memuaskan.

Ia berpandangan bahwa semestinya sebuah kontrak politik antara presiden dan partai-partai pendukung memuat klausul evaluasi ketat terkait kapasitas para pembantu presiden setiap tahunnya.

Jika dalam perjalanannya kapabilitas para menteri tersebut nihil, maka secara otomatis perjanjian dan susunan kekuasaan tersebut wajib ditinjau ulang demi menjawab tuntutan rakyat.

“Isi dari perjanjian politik adalah kapasitas menteri-menteri ini diuji setiap tahun. Ini udah 2 tahun kapasitasnya enggak ada. Dengan sendirinya perjanjiannya mesti batal, batal demi akal sehat dong,” ujar Rocky dalam siniar bersama Hendri Satriyo, sebagaimana dikutip dari diskursus publik yang hangat dibahas, Sabtu (1/8/2026).

Desak Perombakan Tanpa Kompromi dan Sentil Isu Kapasitas Wapres

Lebih lanjut, Rocky menegaskan bahwa pemerintah tidak perlu ragu untuk melakukan pergantian figur secara besar-besaran di jajaran kabinet.

Tolok ukurnya bukan lagi sekadar bagi-bagi jatah kursi kekuasaan antarpartai koalisi, melainkan kehadiran figur-figur dengan kualitas dan kapasitas mumpuni yang benar-benar mampu menyelamatkan persoalan bangsa.

Suasana siniar mendadak kian panas ketika pengamat komunikasi politik Hendri Satriyo melempar pertanyaan khusus mengenai posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di tengah tuntutan perombakan besar-besaran tersebut.

Dengan gaya satire khasnya yang kerap memancing gelak tawa sekaligus kritik menohok, Rocky melontarkan sindiran telak yang menyasar langsung pada aspek legalitas dan kapasitas kepemimpinan di lingkar puncak kekuasaan.

“Overhaul kabinet, nah kalo Wapres bagian dari incapacity, gitu mudah-mudahan dia enggak ngerti bahasa Inggris,” sindir Rocky tajam.

Pernyataan menohok ini semakin mempertegas gelombang desakan dari berbagai kalangan pengamat agar Istana berani melakukan evaluasi total—bukan hanya terhadap para menteri di kabinet, tetapi juga menyoroti polemik legitimasi dan kompetensi yang terus melekat di pucuk pimpinan nasional.

Artikel terkait lainnya