

DEMOCRAZY.ID – Di tengah menguatnya isu pergantian Kapolri, Pemerhati Politik dan Kebangsaan, M Rizal Fadillah memberikan penilaiannya terhadap Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo.
Rizal menegaskan, sudah saatnya terjadi pergantian pucuk pimpinan Polri.
Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul selama kepemimpinan Listyo Sigit menjadi alasan perlunya penyegaran di tubuh Korps Bhayangkara.
Dikatakan Rizal, masa jabatan Listyo Sigit sebagai Kapolri sudah terlalu lama.
Ia bahkan menyebut kinerja orang nomor satu di Polri itu tidak memenuhi harapan publik.
“Listyo Sigit itu Kapolri terlalu lama, berkinerja buruk, rendah loyalitas, merasa mampu untuk berbuat semaunya, serta tidak takut pada Presiden,” ujar Rizal, Rabu (29/7/2026).
Ia juga menyinggung kedekatan Listyo Sigit dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
“Pengabdian kepada tuan lama Jokowi sangat keterlaluan. Kasus ijazah palsu terus ditutupi, dimanipulasi, dan direkayasa. Listyo Sigit bergerak senyap untuk menjadi king maker atau ruler of the king,” lanjutnya.
Tidak berhenti di situ, Rizal juga mengaitkan sejumlah isu yang selama ini menjadi perhatian publik.
Ia menyinggung janji penyelesaian kasus KM 50, wacana reformasi Polri, hingga hubungan Polri dengan Kejaksaan Agung.
“Janji membuka kasus KM 50 diingkari, aspirasi reformasi Polri digagalkan, konflik dengan Kejaksaan ulahnya, drama perdamaian pun manuver Listyo Sigit, ijazah Jokowi berbelit karena tipu-tipunya,” ucapnya.
Diungkapkan Rizal, citra Polri di mata masyarakat juga mengalami penurunan selama kepemimpinan Listyo Sigit.
“Polisi menjadi sasaran caci maki rakyat terjadi di era Listyo Sigit. Listyo Sigit adalah Kapolri terburuk dalam sejarah. Jika dibandingkan dengan Hoegeng Iman Santoso jauh bagai bumi dan langit,” tegasnya.
Rizal juga menyoroti sikap Presiden Prabowo Subianto yang hingga kini belum melakukan pergantian Kapolri.
Ia menilai muncul anggapan bahwa Presiden belum mengambil langkah tegas terhadap bawahannya tersebut.
“Prabowo seperti takut dan kecut digertak Listyo Sigit, terbuai janji pengawalan sukses 2029, dan percaya bahwa kecurangan kemenangan yang lalu akan ditutup,” tukasnya.
Ia melanjutkan kritiknya dengan menyebut posisi Kapolri seolah lebih dominan dibanding Presiden.
“Prabowo seperti kerbau dicucuk hidung, tak berdaya. Aneh, Kapolri adalah bawahan tetapi berperan sebagai atasan,” Rizal menuturkan.
“Menunduk dengar pidato Presiden, namun sanggup mengancam kursi Presiden. Ada Gibran di sana sebagai boneka mainan,” tambahnya.
Lebih jauh, Rizal secara terbuka mendesak Presiden Prabowo segera mengganti Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Ia juga mengingatkan agar perubahan regulasi tidak dijadikan dasar untuk memperpanjang masa jabatan Kapolri.
“Ganti Kapolri sekarang juga. Jangan gunakan Undang-Undang Polri yang baru untuk memperpanjang masa jabatan Listyo Sigit,” terangnya.
Baginya, pergantian Kapolri penting untuk menjawab keraguan publik terhadap independensi pemerintahan saat ini.
“Rakyat tidak suka dan dapat marah. Prasangka publik bahwa pemerintahan Prabowo tergantung pada Listyo Sigit, yang dibelakangnya ada Jokowi, harus ditepis dan dinafikan,” imbuhnya.
Dengan tegas, Rizal mendesak Presiden menunjukkan kewenangannya sebagai pemegang komando tertinggi.
“Buktikan bahwa Listyo Sigit bisa dipecat dan diganti. Komando tertinggi ada pada Presiden. It’s now or never, kata Elvis Presley,” tandasnya.
“Sekarang saatnya Prabowo merebut cinta rakyat. Ganti Listyo Sigit. Listyo, Jokowi, dan Gibran keburu gede atuh. Sekarang atau tidak sama sekali,” kuncinya.