Isi Kepala Jokowi Terungkap Usai Budi Arie Bicara Isu Prabowo ‘Jatuh’ Sebelum 2029!

DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan perubahan politik sebelum Pemilu 2029 memicu perdebatan.

Politikus PDIP Ferdinand Hutahaean mempertanyakan sikap Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi yang berada dalam forum tersebut.

Budi Arie sebelumnya berbicara mengenai kemungkinan terjadinya “percepatan” sebelum 2029.

Pernyataan itu disampaikan saat pertemuan Jokowi dengan sejumlah relawan dan kemudian beredar dalam bentuk video di media sosial.

Ferdinand menilai keberadaan Jokowi dalam forum tersebut menjadi alasan untuk mempertanyakan responsnya terhadap pernyataan Budi Arie.

Ferdinand Pertanyakan Sikap Jokowi

Ferdinand mempertanyakan mengapa Jokowi tidak memberikan tanggapan ketika Budi Arie membicarakan kemungkinan Pemilu berlangsung lebih cepat dari jadwal 2029.

“Mengapa Jokowi diam, membisu, dan tidak mencegah Budi Ari berbicara tentang potensi pemilu yang dipercepat sebelum 2029?” ujar Ferdinand, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurut Ferdinand, apabila Jokowi memang tidak menginginkan adanya perubahan politik sebelum 2029, ia semestinya dapat menyampaikan sikapnya dalam forum tersebut.

Ferdinand kemudian mempertanyakan apakah sikap diam Jokowi dapat ditafsirkan sebagai bentuk persetujuan.

“Mengapa Jokowi justru terkesan mengamini apa yang disampaikan oleh Budi Ari tentang kemungkinan potensi jatuhnya Prabowo Subianto?” katanya.

Namun, anggapan tersebut merupakan interpretasi Ferdinand terhadap situasi dalam video.

Sikap diam seseorang dalam sebuah forum tidak dengan sendirinya dapat membuktikan persetujuan terhadap suatu pernyataan.

Bandingkan dengan Isu Pemakzulan Gibran

Ferdinand kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan sikap Jokowi ketika sebelumnya muncul desakan agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dimakzulkan.

Ia mengingatkan pernyataan Jokowi bahwa Presiden dan Wakil Presiden merupakan satu paket.

Atas dasar itu, Ferdinand mempertanyakan konsistensi pandangan tersebut ketika muncul pembicaraan mengenai kemungkinan pemerintahan Prabowo berakhir sebelum 2029.

“Padahal seharusnya kalau kita mengikuti logika Jokowi selama ini ketika banyak kelompok yang meminta Gibran dimakzulkan,” ujar Ferdinand.

“Jokowi berbicara tidak bisa, ini satu paket. Tapi mengapa ketika Budi Arie Setiadi berbicara tentang potensi jatuhnya Prabowo?” lanjutnya.

Pernyataan Budi Arie Jadi Sorotan

Dalam video yang beredar, Budi Arie memang menyinggung kemungkinan dinamika politik berlangsung lebih cepat dari Pemilu 2029.

Ia mengatakan telah menyampaikan kepada Jokowi mengenai “insting” politiknya.

“Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029? Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029,” kata Budi Arie.

Ia kemudian bertanya kepada peserta forum mengenai kesiapan apabila terjadi percepatan. Peserta yang hadir menjawab secara serempak bahwa mereka siap.

Budi kemudian mengaitkan kemungkinan perubahan tersebut dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi.

Ia juga menyinggung perubahan politik yang terjadi menjelang Reformasi 1998.

Menurut dia, situasi sosial dan ekonomi dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan politik secara cepat.

Ferdinand Kaitkan dengan Kelompok “Solo”

Pernyataan Budi Arie tersebut kemudian digunakan Ferdinand untuk memperkuat dugaan politiknya mengenai adanya kelompok yang ia sebut sebagai “Solo” di balik dinamika politik nasional.

“Itu adalah bukti nyata bagi saya terkait dengan apa yang saya sampaikan selama ini bahwa memang Solo ada di balik semua kegaduhan nasional saat ini,” kata Ferdinand.

Ia bahkan mengaitkan dugaan tersebut dengan upaya untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto.

“Solo di balik upaya gerakan-gerakan mendongkel, menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Ferdinand tidak memberikan bukti baru untuk mendukung tudingan tersebut dalam pernyataannya.

Klaim mengenai adanya kelompok tertentu di balik gerakan politik tersebut merupakan pandangan politik Ferdinand.

Hubungkan dengan Posisi Gibran

Ferdinand kemudian menghubungkan skenario perubahan pemerintahan sebelum 2029 dengan posisi Gibran sebagai Wakil Presiden.

Menurut dia, apabila terjadi perubahan pemerintahan sebelum masa jabatan berakhir, posisi Gibran menjadi bagian dari perhitungan politik yang perlu diperhatikan.

“Kenapa demikian? Karena bocah yang bernama Gibran itu akan naik menggantikan Prabowo. Inikah yang kalian harapkan?” kata Ferdinand.

Ia juga mengaitkan pernyataan Budi Arie dengan rencana aksi demonstrasi yang disebut akan berlangsung pada 27 dan 28 Agustus.

Ferdinand menyebut adanya keterkaitan antara dinamika tersebut dengan kelompok yang ia sebut “Solo”.

Namun, ia tidak memaparkan bukti yang dapat memverifikasi keterkaitan tersebut.

Pernyataan Ferdinand menambah panjang perdebatan mengenai video Budi Arie.

👇👇

Sebelumnya, DPP Projo telah memberikan klarifikasi dan menyatakan video yang beredar merupakan potongan, bukan rekaman utuh.

Sekretaris Jenderal DPP Projo Freddy Alex Damanik mengatakan forum tersebut merupakan silaturahmi Jokowi dengan para relawan.

Dalam forum itu, kata Freddy, terdapat diskusi mengenai situasi kebangsaan dan berbagai masukan yang kemudian disampaikan kepada Jokowi.

Freddy juga mengatakan Jokowi mendengarkan pandangan para relawan sebelum meminta mereka tetap tenang.

Artikel terkait lainnya