

DEMOCRAZY.ID — Topeng kesederhanaan dan narasi anti-nepotisme yang selama ini dibangun oleh mantan Presiden Joko Widodo rontok tak bersisa di mata loyalis terdekatnya.
FX Hadi Rudyatmo, mantan Ketua DPC PDIP Solo sekaligus kawan seperjuangan yang merintis karir Jokowi dari nol, akhirnya membongkar borok awal mula retaknya hubungan mereka.
Semuanya berakar dari satu titik busuk: ambisi buta membangun dinasti politik lewat Gibran Rakabuming Raka.
Dalam pengakuan terbarunya di podcast Akbar Faizal Uncensored, Rudy mengungkap fakta mengejutkan bahwa dirinya telah memutus total komunikasi dengan Jokowi sejak Pilkada Solo 2020.
Ini menjadi bukti sahih bagaimana syahwat kekuasaan telah menghancurkan etika politik dan membuang kawan seiring demi karpet merah sang putra mahkota.
Rudy secara blak-blakan menceritakan momen kekecewaan terbesarnya ketika Jokowi menjilat ludahnya sendiri.
Di saat PDIP Solo telah melalui proses penjaringan yang demokratis dan memunculkan pasangan kader murni, Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa, tiba-tiba intervensi kekuasaan turun tangan memaksakan nama Gibran.
Bagi Rudy, manuver tersebut bukan sekadar pelecehan terhadap mekanisme partai, melainkan pengingkaran total terhadap janji manis Jokowi di hadapan publik masa lalu.
“Pak Jokowi sudah menyampaikan anaknya tidak akan berpolitik. Pertama kali di situ (kecewa),” ucap Rudy, membongkar kebohongan awal sang mantan presiden.
“Sejak beliau minta anaknya jadi wali kota itu saya sudah tidak berkomunikasi sampai sekarang,” tegasnya, dikutip Jumat (31/7/2026).
Meski pada akhirnya Rudy tetap patuh menjalankan instruksi rekomendasi Ketua Umum PDIP, luka akibat matinya proses meritokrasi di Solo itu menjadi titik nadir kehancuran hubungan keduanya.
Lebih ironis lagi, Rudy menyoroti betapa dipaksakannya langkah politik Gibran yang minim jam terbang.
Berbeda dengan kader-kader yang berdarah-darah dari bawah, Gibran dikarbit ke puncak kekuasaan tanpa pernah merasakan asam garam pengabdian masyarakat di tingkat akar rumput.
“Satu belum belajar. Yang kedua, Gibran kan belum pernah menjadi pengurus RT, pengurus RW, ketua LPMK kan belum pernah,” ungkap Rudy menguliti kompetensi riil Gibran.
Kehancuran etika ini pun berlanjut pada Pilpres 2024, ketika Gibran kembali dipaksakan naik kelas menjadi calon wakil presiden dengan membajak konstitusi melalui Putusan MK 90.
Rudy menyindir keras manipulasi hukum tersebut dengan merujuk pada roh konstitusi yang sejati.
“Konstitusi mengatakan harus pernah jadi gubernur, bukan wali kota,” imbuh Rudy menukik tajam ke arah legitimasi pencalonan Gibran.
Saking muaknya dengan pengkhianatan politik yang terjadi, Rudy mengaku bahkan tak sudi lagi bertatap muka dengan Jokowi.
Dalam sebuah insiden, ia secara sengaja melarikan diri dari lokasi acara sesaat sebelum mantan presiden tersebut menjejakkan kaki.
“Untung saja saya keluar, beliau masuk. Saya keluar, ya masuk ke parkir, beliau datang,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Rudy menitipkan sebuah pesan peringatan yang sangat fatal dan bernada ancaman moral jika kelak takdir mempertemukan mereka kembali.
Sebuah pesan tentang kesetiaan yang dikoyak dan balasan bagi seorang pengkhianat politik.
“Saya sudah berkali-kali menyampaikan jangan mengkhianati ketua umum. Kalau mengkhianati ketua umum itu hukumannya tidak ringan,” pungkas Rudy memberi peringatan pamungkas.
Kisah putus kongsi antara FX Rudy dan Jokowi ini menjadi monumen pengingat betapa brutalnya ambisi dinasti politik dalam menggilas kawan lama, konstitusi, dan etika bernegara.