DEMOCRAZY.ID – Kelompok yang menamakan diri Pejuang Merah Putih Indonesia mendatangi kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo alias Jokowi di Surakarta, Rabu (28/10/2026).
Kedatangan mereka untuk menyerahkan surat terbuka yang ditujukan kepada Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Surat tersebut dibacakan langsung oleh Juru Bicara Pejuang Merah Putih, Bangun Satoto.
Dalam surat pertama, Bangun meminta Jokowi untuk tidak lagi menuduh pihak yang mempertanyakan keabsahan ijazah sebagai operasi politik.
“Pak Joko Widodo, jangan lagi ada dusta dan cela di antara kita. Sesama anak bangsa Indonesia harus jujur dan terbuka. Pak Joko Widodo, janganlah menuduh pihak yang bertanya perihal status ijazah Bapak dan Saudara Gibran Rakabuming Raka dengan istilah operasi politik dan penumpang gelap,” ujar Bangun, dikutip dari tayangan Youtube Official iNews.
Pada surat kedua yang lebih panjang, Pejuang Merah Putih menyoroti ambisi politik Jokowi yang dinilai terus muncul di masyarakat.
Mereka menilai hal tersebut tidak etis dan tidak mendidik.
Menurut Bangun, berpolitik adalah hak setiap warga negara yang dilindungi konstitusi dan undang-undang.
Namun, politik harus dilakukan dengan mematuhi aturan hukum, bukan merekayasa politik, hukum, dan konstitusi.
“Mendudukkan anak Bapak Gibran Rakabuming Raka menjadi wakil presiden adalah salah satu bukti kejahatan hukum dan politik di Indonesia. Indonesia sudah mengalami pergantian Presiden sebanyak tujuh kali. Mereka telah meninggalkan kursi tersebut tanpa ada ambisi untuk merebut kembali pengaruh dan kekuasaannya. Tapi Bapak lain daripada yang lain,” kata Bangun saat membacakan surat tersebut.
Pejuang Merah Putih juga menduga ada agenda tersembunyi dari negara asing yang menghendaki rezim Jokowi tampil kembali karena kebijakan yang dinilai menguntungkan pihak asing saat Jokowi menjabat sebagai Presiden.
Bangun menambahkan, saat ini sudah banyak rakyat yang meminta Gibran untuk mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden.
“Oleh karena itu, kami meminta kepada Bapak untuk bersedia memaksa Saudara Gibran Rakabuming Raka turun dari kursi Wakil Presiden RI agar tidak terjadi pemakzulan yang tentunya akan sangat memalukan dan merendahkan harga diri,” tegasnya.
“Atas nama seluruh rakyat Indonesia dan konstitusi, kami meminta Bapak Joko Widodo dan Saudara Gibran Rakabuming Raka bersikap jujur dan cinta NKRI,” lanjutnya.
Bangun menjelaskan, kedatangan mereka ke kediaman Jokowi bukan untuk bertemu langsung, melainkan hanya untuk menyerahkan surat.
Surat tersebut diterima perwakilan di kediaman dan selanjutnya akan diteruskan kepada Jokowi.
“Agenda kami ke sini di kediaman beliau tidak ada agenda untuk bertemu dengan beliau, hanya menyerahkan surat. Karena siang ini kami sudah terjadwal untuk audiensi di DPRD Kota Surakarta,” ujar Bangun Satoto.
Aksi penyerahan surat tersebut berlangsung tertib dan diakhiri dengan foto bersama di depan kediaman Joko Widodo.
Sebelumnya, DPP PDI Perjuangan menerima surat terbuka dari Forum Guru Besar Indonesia yang menuntut Gibran Rakabuming Raka mundur dari Wakil Presiden.
Presiden Prabowo Subianto dan Partai Politik (Parpol) di parlemen diharapkan mendengar suara tuntutan dari para guru besar tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.
Ia menuturkan, surat terbuka yang menuntut Gibran mundur itu, bertajuk ‘Menjaga Marwah Konstitusi, Etika Bernegara, dan Legitimasi Kepemimpinan Nasional’.
“Suara-suara seperti inilah yang juga harus didengarkan oleh Presiden Prabowo, oleh partai-partai di DPR,” terang Hasto saat ditemui di Sekolah Rakyat PDI Perjuangan, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).
Hasto pun menguraikan peran dalam surat terbuka tersebut, pertama runtuhnya keteladanan dan etika bernegara.
Menurutnya, asas kepatutan, kejujuran, dan keteladanan telah runtuh akibat syarat minimal tentang seorang calon wakil presiden tidak dipenuhi dan dipaksakan dengan intervensi kekuasaan.