Bongkar Ekspektasi Rakyat: CELIOS Bedah Tuntas Kriteria ‘Pemimpin Ideal’ Pilihan Masyarakat 2029!

DEMOCRAZY.ID – Masyarakat menginginkan calon pemimpin Indonesia pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 merupakan sosok yang mau mendengarkan rakyat hingga tidak merupakan kader partai politik atau parpol.

Hal itu disampaikan lewat survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan yang dirilis daring pada Minggu (11/10/2026).

Berdasarkan hasil survei terhadap 1.142 responden masyarakat umum, sebanyak 80 persen menginginkan pemimpin yang mau mendengarkan rakyat.

“Untuk masyarakat umum, yang pertama mau mendengarkan rakyat,” kata Peneliti CELIOS Bhima Yudhistira dalam paparannya.

Sementara itu, 71 persen responden menilai komitmen terhadap pemberantasan korupsi menjadi kriteria penting bagi pemimpin Indonesia pada masa mendatang.

Kriteria berikutnya adalah sosok yang independen atau bukan kader partai politik.

Sebanyak 38 persen responden memilih kriteria tersebut.

“38 persen menjawab bahwa kriteria pemimpin masa depan Indonesia 2029 bukan dari kader parpol,” tutur Bhima.

Selain itu, 27 persen responden menginginkan pemimpin yang religius, sedangkan 18 persen memilih sosok berusia muda.

Adapun kriteria lain penampilan menarik (8 persen), latar belakang pengusaha (9 persen), berlatar militer (8 persen), dan kader partai politik (6 persen).

Kriteria Menurut Ahli

Selain masyarakat umum, CELIOS juga meminta pendapat 129 responden ahli mengenai kriteria calon pemimpin nasional pada Pilpres 2029.

Berbeda dengan masyarakat umum, kriteria yang paling banyak dipilih kalangan ahli adalah komitmen terhadap demokrasi, kebebasan sipil, dan hak asasi manusia (HAM), dengan persentase 54 persen.

“Kalau ahli bilangnya yang dibutuhkan adalah komitmen pada demokrasi, kebebasan sipil, dan HAM,” jelas Bhima.

Selanjutnya, 53 persen ahli menilai komitmen terhadap pemberantasan korupsi sebagai kriteria penting.

Sebanyak 49 persen ahli juga menekankan kompetensi teknokratik dan penguasaan substansi kebijakan.

Sementara itu, 46 persen menilai rekam jejak kebijakan yang terukur menjadi kriteria penting bagi calon pemimpin nasional.

Adapun kesediaan mendengarkan dan merespons aspirasi masyarakat dipilih oleh 32 persen responden ahli.

Menyusul independen dan bukan kader parpol (11 persen), taat beragama (4 persen), mampu tampil dan berkomunikasi di hadapan publik (4 persen), usia muda (2 persen), dan berlatar belakang militer (1 persen).

Survei tersebut menggunakan metode non-probability sampling melalui Meta Ads untuk masyarakat umum.

Sedangkan pengumpulan data dari kalangan ahli menggunakan metode snowball sampling.

Artikel terkait lainnya