DEMOCRAZY.ID – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan status Joko Widodo sebagai alumnus Fakultas Kehutanan UGM.
Penegasan itu disampaikan di tengah kembali mencuatnya keraguan sejumlah pihak mengenai keaslian ijazah dan skripsi Presiden ke-7 RI tersebut.
Sekretaris Universitas Gadjah Mada, Dr. Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, mengatakan tudingan yang meragukan status Jokowi sebagai lulusan UGM tidak sejalan dengan data serta bukti akademik yang dimiliki Fakultas Kehutanan.
“Mengenai ijazah atas nama Saudara Joko Widodo, UGM tetap pada pernyataan yang disampaikan dalam siaran pers 15 April 2025,” kata Andi Sandi dalam keterangan tertulis yang dimuat di situs resmi UGM, Senin, 17 Agustus 2026.
Dalam pernyataan tersebut, UGM menyebut Jokowi merupakan alumnus Fakultas Kehutanan.
Ia tercatat mulai menjalani studi pada 1980 dengan nomor mahasiswa 80/34416/KT/1681 dan dinyatakan lulus pada 5 November 1985.
UGM juga menegaskan tidak berada dalam konflik atau kepentingan tertentu dalam polemik yang melibatkan Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) dengan Jokowi.
“Sekali lagi, UGM menegaskan tidak terkait konflik kepentingan antara Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) dengan Saudara Joko Widodo,” ujar Andi Sandi.
Dalam menghadapi polemik tersebut, UGM juga menjelaskan batasan informasi yang dapat disampaikan kepada publik.
Andi Sandi mengatakan UGM merupakan institusi publik yang menjalankan sistem pendidikan tinggi di Indonesia.
Karena itu, kampus terikat pada ketentuan mengenai perlindungan data pribadi dan keterbukaan informasi publik.
Atas dasar itu, UGM hanya akan membuka data yang masuk kategori informasi publik.
Adapun data yang bersifat pribadi tidak dapat diberikan secara bebas kepada pihak lain.
“Oleh sebab itu, UGM hanya bersedia menunjukkan data yang bersifat publik sedangkan data yang bersifat pribadi hanya akan diberikan jika diminta secara resmi oleh aparat penegak hukum,” katanya.
Penegasan UGM tersebut mendapat penguatan dari kesaksian Frono Jiwo, salah seorang teman seangkatan Jokowi ketika menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan UGM.
Frono mengaku prihatin melihat informasi di media sosial yang meragukan keaslian ijazah maupun skripsi Jokowi.
Ia mengatakan dirinya masuk kuliah bersama Jokowi pada 1980 dan menyelesaikan pendidikan pada periode yang sama.
“Kami seangkatan dengan Pak Jokowi, masuk tahun 1980,” kata Frono.
Menurut dia, bentuk ijazah yang diterimanya tidak jauh berbeda dengan ijazah milik Jokowi.
Ia bahkan mengatakan ijazah keduanya menggunakan jenis huruf yang sama serta ditandatangani pejabat universitas dan fakultas yang sama.
Frono menyebut ijazah tersebut ditandatangani Rektor UGM Prof. T. Jacob dan Dekan Fakultas Kehutanan Prof. Soenardi Prawirohatmodjo.
“Ijazah saya bisa dibandingkan dengan ijazahnya Pak Jokowi. Semua sama kecuali nomor kelulusan ijazah dari Universitas dan Fakultas,” ujarnya.
Frono juga menjelaskan kondisi pembuatan skripsi pada masa mereka berkuliah.
Menurut dia, penggunaan komputer pada awal 1980-an belum umum di kalangan mahasiswa.
Karena itu, mahasiswa satu angkatan dengannya, termasuk Jokowi, mengerjakan skripsi menggunakan mesin ketik.
“Pembuatan skripsi semua pakai mesin ketik, walaupun sudah ada komputer tapi jarang sekali yang bisa,” katanya.
Ia mengatakan proses akhir pembuatan skripsi, mulai dari pembuatan sampul, lembar pengesahan hingga penjilidan, umumnya dilakukan melalui percetakan.
“Kalau sampul, lembar pengesahan, penjilidan skripsi semua di percetakan,” ujar Frono.
Kesaksian tersebut menjadi bagian dari perdebatan yang kembali muncul mengenai dokumen akademik Jokowi.
Di sisi lain, UGM tetap mempertahankan keterangan resminya bahwa Jokowi merupakan alumnus Fakultas Kehutanan dan telah menyelesaikan seluruh proses studinya.
UGM juga menegaskan bahwa informasi akademik yang bersifat pribadi tidak dapat dibuka kepada publik secara bebas dan hanya dapat diberikan melalui mekanisme resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.