DEMOCRAZY.ID – Setelah Pakar Hukum Tata Negara, Prof Denny Indrayana, menaikkan sayembara untuk mencari ijazah SMA atau sederajat milik Wapres Gibran Rakabuming Raka, kini muncul tantangan agar persoalan serupa juga diarahkan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Tantangan itu datang dari pegiat media sosial, Ferry Koto.
Ia mempertanyakan apakah Denny Indrayana juga tertarik mengulik dokumen pendidikan yang digunakan Prabowo ketika mendaftarkan diri sebagai calon presiden.
Dikatakan Ferry, pertanyaan mengenai latar belakang pendidikan seorang pejabat publik semestinya diterapkan secara konsisten dan tidak hanya diarahkan kepada satu pihak.
Ferry mengaku penasaran dengan sikap Denny yang begitu aktif mempersoalkan ijazah Gibran.
Ia kemudian melempar pertanyaan apakah Denny juga bersedia melakukan pengecekan terhadap ijazah yang digunakan Prabowo dalam proses pencalonannya sebagai Presiden RI.
“Saya penasaran, Prof Denny apakah tidak tertarik melakukan pengecekan juga soal ijazah yg digunanakan Presiden Prabowo?,” ujar Ferry, Minggu (16/8/2026).
Ferry bahkan meminta Denny menjelaskan dokumen pendidikan mana yang menjadi dasar ketika Prabowo mendaftarkan diri sebagai calon presiden.
“Ijazah apa yg dipakai daftar Capres? Apakah ijazah SMAnya yang dari Luar Neger? Sudah disetarakan? atau Ijazah lulusan AKABRI?,” tukasnya.
Blak-blakan, Ferry turut menyinggung riwayat pendidikan Prabowo yang pernah menempuh pendidikan militer.
Ia mengingatkan adanya persoalan mengenai status kesetaraan pendidikan lulusan AKABRI pada masa tersebut.
“Ingat masa itu lulusan AKABRI belum disetarakan dengan D3 ataupun D4 apalagi S1,” sebutnya.
Ferry kemudian menuturkan bahwa Prabowo tidak menempuh pendidikan akademik di luar jalur pendidikan militernya.
“Dan pak Prabowo tidak pernah menempuh pendidikan akademik di luar pendidikan militer,” jelasnya.
Untuk memperjelas pertanyaannya, Ferry membandingkan latar belakang pendidikan Prabowo dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Diungkapkan Ferry, SBY memiliki latar belakang pendidikan akademik yang berbeda karena telah memperoleh gelar pascasarjana sebelum menjabat sebagai presiden.
“Berbeda dengan Pak SBY misalnya, beliau berijazah S2 resmi yang sudah diakui sebelum jadi Presiden dari Webster Uni dan S3 dari IPB,” terangnya.
Ferry kemudian kembali menantang Denny agar tidak hanya berfokus pada dokumen pendidikan Gibran.
Ia meminta Denny turut mempertanyakan dasar pendidikan Prabowo, termasuk apakah dokumen yang digunakan adalah ijazah SMA yang telah melalui proses penyetaraan atau justru dikaitkan dengan jenjang pendidikan lainnya.
“Coba kalau berani Prof pertanyakan itu, apakah Presiden kita saat ini hanya diakui pendidikan SMA nya dgn lampirkan penyetaraan ijazah SMA? atau diakui S1?,” tandasnya.
Sebelumnya, sayembara untuk menemukan ijazah SMA atau sederajat milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mengalami penambahan nilai.
Pakar Hukum Tata Negara, Prof Denny Indrayana, mengumumkan kenaikan nilai hadiah hingga mencapai Rp300 juta.
Denny menyebut kenaikan tersebut terjadi dalam waktu kurang dari sepekan sejak sayembara diumumkan.
Ia juga mengklaim sampai saat ini belum ada peserta yang berhasil menunjukkan ijazah SMA atau dokumen pendidikan setara milik Gibran.
Denny mengatakan dana hadiah yang terkumpul mengalami peningkatan signifikan.
Ia menegaskan, nilai hadiah kini mencapai Rp300 juta atau meningkat 300 persen dibandingkan nilai awal yang diumumkan.
“Update sayembara ijazah SMA Gibran, yang dicari Ijazah SMA, yang ketemu karet gelang,” ujar Denny, Minggu (16/8/2026).
Ia kemudian menyebut belum ada pihak yang berhasil memenuhi tantangan tersebut.
“Belum seminggu, sumbangan untuk hadiah sayembara menemukan Ijazah Gibran sudah naik 300 persen,” Denny menuturkan.
“Per detik ini, hadiahnya sudah naik menjadi Rp 300 Juta,” tambahnya.
Denny melanjutkan, hingga saat ini belum ada peserta sayembara yang berhasil menunjukkan ijazah SMA atau dokumen yang disebutnya setara dengan ijazah tersebut.
“Sejauh ini tidak ada satupun peserta yang berhasil menemukan ijazah SMA atau sederajat Mas Wapres,” tukasnya.
Ia kemudian mengaitkan pernyataannya dengan video Gibran yang sebelumnya menjadi perhatian publik karena terlihat memainkan karet gelang ketika berdialog dengan warga.
“Mas Wapres sendiri malah menenukan permainan karet gelang,” jelasnya.
Denny kemudian menarik kesimpulan politik dari polemik tersebut.
Ia menyatakan apabila ijazah SMA atau sederajat yang dimaksud memang tidak ada, maka menurutnya Gibran semestinya mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden.
“Jika tidak ada ijazah SMA atau sederajat, Gibran layak mundur, atau dimundurkan,” imbuhnya.
Selain memperbarui nominal hadiah, Denny juga membuka kesempatan bagi pihak lain yang ingin ikut menyumbang untuk sayembara tersebut.
“Catatan, tertarik menyumbang silakan japri saya. Penyumbang dirahasiakan,” terangnya.
Denny menegaskan dana tidak perlu diberikan terlebih dahulu. Baginya, pembayaran hadiah baru dilakukan apabila dokumen yang dicari berhasil ditemukan dan terdapat pihak yang dinyatakan sebagai pemenang.
“Dana tidak perlu dikirimkan, kecuali Ijazah ditemukan, dan ada pemenang,” tandasnya.