

DEMOCRAZY.ID – Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada Jumat (31/7/2026).
Dalam ceramahnya, Amien menuding sejumlah pihak di lingkaran kekuasaan bersikap “munafik” atau bermuka dua, serta mendesak Prabowo merampingkan kabinet dan mengganti Kepala Polri.
Amien mengawali pernyataannya dengan menyoroti fenomena kemunafikan atau “nifak” yang menurutnya kian meluas di kalangan pemimpin, jenderal, intelektual, hingga tokoh agama.
Ia menyebut kondisi itu membuat berbagai program pemerintah hanya berhenti pada level wacana.
“Sehingga banyak programnya yang kedengarannya hebat, ternyata hanya sampai pada tingkat omon-omon,” ujar Amien.
Ia juga menyinggung janji pemberantasan korupsi yang digaungkan di awal masa kekuasaan, namun dinilai tidak membawa perubahan berarti dibanding pemerintahan sebelumnya.
“Mak plekenthi jebul sami mawon. The game is still the same, exactly the same, only the players change, god damn it,” katanya, sembari menerjemahkan sendiri ucapannya itu ke bahasa Indonesia: “permainan masih sama persis, cuma pemainnya yang ganti.”
Amien turut mengutip ayat-ayat Alquuran, termasuk Surah Al-Baqarah dan Surah At-Taubah ayat 67, untuk menggambarkan watak orang munafik yang menurutnya saling melindungi dalam kejahatan, mencegah kebaikan, kikir, serta melupakan Tuhan.
“Artinya orang-orang munafik laki-laki dan munafik perempuan itu satu sama lain saling bantu-membantu,” kata Amien menafsirkan ayat tersebut, seraya menyebut kelompok yang dimaksud sebagai “orang-orang yang fasik”.
Amien mengusulkan agar Prabowo merampingkan Kabinet Merah Putih dan menempatkan menteri sesuai kompetensinya masing-masing, dengan prinsip “the right man for the right job”.
Ia secara khusus meminta agar menteri-menteri yang disebutnya sebagai “titipan Jokowi”, yang dalam pernyataannya disebut dengan sapaan “Mulyono/Mulkidi”, disingkirkan dari kabinet.
“Tendang jauh-jauh menteri titipan Mukidi,” tegasnya, sembari menuduh kelompok tersebut berupaya “menjegal Prabowo supaya cepat jatuh” agar posisi presiden dapat digantikan oleh wakil presiden yang dalam ceramahnya disebut dengan istilah merendahkan, “plunga-plongo”.
Ia juga menyerukan agar slogan dukungan terhadap sosok yang disebutnya “Mukidi” itu diubah menjadi seruan agar yang bersangkutan tidak lagi ikut campur dalam pemerintahan.
Amien turut mengomentari relasi antara Presiden Prabowo dan Kepala Polri, yang menurutnya perlu segera diganti.
Ia menilai ada kejanggalan dalam pola relasi kekuasaan antara presiden dan institusi kepolisian di Indonesia.
“Prabowo ternyata takut sama Kapolri. Di dunia ini kalau ada presiden takut sama polisi, barangkali hanya ada di Indonesia,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa masa jabatan Prabowo sebagai presiden tersisa sekitar tiga tahun tiga bulan, dan waktu tersebut akan berlalu dengan cepat jika tidak dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan.
Sebagai penutup, Amien mengutip hasil survei simulasi kepala-ke-kepala (head to head) capres 2029 yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), yang menurutnya menunjukkan elektabilitas Dedi Mulyadi jauh mengungguli Prabowo Subianto.
“Ternyata Dedi Mulyadi memperoleh 59 persen, Pak Prabowo cuma 28,3 persen,” ujar Amien.
Berdasarkan data tersebut, ia menyarankan agar publik mulai mempertimbangkan kandidat presiden alternatif untuk Pemilu 2029 jika Prabowo tidak mencalonkan diri kembali.
“Jangan sampai terlambat. Ini masukan sederhana saya,” pungkas Amien Rais mengakhiri ceramahnya.