

DEMOCRAZY.ID — Fenomena antusiasme warga yang memadati kediaman pribadi mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Gang Kutai Utara Nomor 1, Sumber, Solo, terus memicu polemik.
Di balik citra ramainya kunjungan yang kerap viral—bahkan sempat dijuluki warganet sebagai “Tembok Ratapan Solo”—muncul klaim mengejutkan dari mantan Wali Kota Solo, Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo alias FX Rudy.
Dalam wawancara eksplosif di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored yang tayang pada Selasa (28/7/2026), FX Rudy secara terbuka mengeklaim bahwa keramaian di kediaman Jokowi tidak sepenuhnya lahir dari inisiatif murni masyarakat.
Ia menyebut ada mobilisasi terstruktur di balik kunjungan tersebut.
“Oh, yang perlu saya sampaikan juga yang sering datang ke sana itu ada yang diberi uang saku dan sebagainya itu kan pengakuan itu ada juga,” ungkap FX Rudy.
Politisi senior tersebut menyoroti adanya anomali pola kunjungan yang menunjukkan inkonsistensi antusiasme warga.
Menurutnya, lonjakan massa yang mendatangi rumah Jokowi sangat bergantung pada momentum liburan, sementara pada hari-hari biasa situasi di sekitar lokasi terpantau jauh lebih lengang.
“Kalau dilihat saja ketika ada liburan ramai. Namun kalau tidak ada liburan kan sepi,” ujarnya.
Lebih lanjut, FX Rudy membeberkan modus operandi di balik pengerahan massa tersebut.
Ia mengklaim bahwa sebagian pengunjung yang memadati kediaman Jokowi merupakan pelancong yang disengaja untuk dialihkan rutenya dari destinasi wisata religi populer di Solo, yakni Masjid Sheikh Zayed.
Ketika dicecar pertanyaan secara langsung oleh Akbar Faizal mengenai kebenaran adanya pihak yang menggerakkan dan membiayai para pengunjung, FX Rudy memberikan konfirmasi tegas tanpa ragu.
Apakah ada yang mengarahkan? “Ada yang mengarahkan.”
Apakah pengunjung diberi uang saku? “Ada yang memberi uang sakunya.”
Tidak hanya berhenti pada fenomena “Wisata Jokowi”, FX Rudy menarik garis lurus antara praktik mobilisasi massa berbalut pencitraan tersebut dengan potensi bahaya politik uang (money politics) menjelang kontestasi demokrasi mendatang.
Ia memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak mudah terbuai oleh imbalan finansial jangka pendek yang justru mengorbankan masa depan bangsa.
“Jangan sampai hanya menikmati ratusan ribu, namun kita kecewa dan sengsara selama lima tahun,” tegasnya mengingatkan.
Meski mengeklaim praktik bagi-bagi uang tersebut bukan hal baru dalam sejarah pemilu maupun pilkada sebelumnya, FX Rudy menyerahkan sepenuhnya penegakan aturan dan sanksi kepada lembaga penyelenggara serta pengawas pemilu.
“Kembali lagi kepada KPU dan Bawaslu. Kalau itu memang dilakukan betul, money politics itu kan sudah melanggar aturan,” pungkasnya.
Pernyataan blak-blakan dari tokoh lokal Solo ini dipastikan bakal semakin memantik perdebatan publik ihwal motif di balik langgengnya kultus individu dan panggung pencitraan para mantan penguasa.