

DEMOCRAZY.ID — Tirai kepalsuan yang menutupi sisa-sisa pamor kekuasaan mantan Presiden Joko Widodo akhirnya dikoyak habis-habisan.
Fenomena membeludaknya warga yang seolah berbondong-bondong mengunjungi kediaman pribadi Jokowi di Solo belakangan ini, ternyata tak lebih dari sekadar operasi pengerahan massa secara artifisial.
Mantan Wali Kota Solo yang juga eks kompatriot Jokowi, FX Hadi Rudyatmo alias FX Rudy, dengan lantang membongkar bahwa ada pihak penggerak yang sengaja memobilisasi orang-orang untuk menciptakan ilusi kecintaan rakyat terhadap sang mantan penguasa.
Modusnya terbilang licik: wisatawan yang awalnya berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, justru dibelokkan arahnya ke rumah Jokowi dengan iming-iming imbalan.
“Lihat saja, saat liburan ramai dan tidak ada libur kan sepi. Ada yang mengarahkan, ada yang memberi uang saku,” bongkar FX Rudy secara blak-blakan dalam tayangan di kanal YouTube Akbar Faizal, dikutip Kamis (30/7/2026).
Lebih jauh, FX Rudy membeberkan bahwa muara dari segala manuver kotor dan pengkhianatan politik ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2019.
Tepatnya ketika Jokowi secara telanjang bermanuver memaksakan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, untuk merebut kursi Wali Kota Surakarta.
Kala itu, struktur DPC PDIP Solo sejatinya telah melalui proses penjaringan demokratis dan memiliki calon sendiri.
Namun, demi melanggengkan embrio dinasti politiknya, Jokowi nekat potong kompas dan mendaftarkan sang anak melalui DPD PDIP Jawa Tengah.
Rudy mengaku sempat menentang keras pencalonan tersebut lantaran Gibran sama sekali tidak memiliki kapasitas, rekam jejak, apalagi pengalaman mengurus birokrasi paling bawah sekalipun.
Janji manis Jokowi di masa lalu pun terbukti hanya kebohongan publik belaka.
“Gibran belum belajar, belum pernah menjadi pengurus RT maupun RW. Pak Jokowi juga pernah menyampaikan, anaknya tidak akan berpolitik,” sentil Rudy menagih rekam jejak janji palsu sang mantan presiden.
Meski pada akhirnya Rudy terpaksa menelan pil pahit dan tunduk pada instruksi pusat setelah Gibran mendapat “karpet merah” rekomendasi dari DPP PDIP, luka pengkhianatan itu tak pernah sembuh.
Ambisi buta membangun dinasti “Geng Solo” telah menghancurkan total hubungan batin antara kedua tokoh tersebut.
Rudy mengaku kecewa berat dan secara sadar memutus total tali komunikasi dengan Jokowi sejak manuver culas pemaksaan Gibran itu terjadi.
“Sejak dia (Jokowi) minta anaknya menjadi wali kota, saya tidak pernah komunikasi. Jika terpaksa bertemu, mungkin Tuhan yang mengatur,” ucapnya tegas.
Pengakuan FX Rudy ini kian mempertegas bahwa segala glorifikasi dan dukungan terhadap trah Jokowi hanyalah fatamorgana yang dirancang melalui rekayasa kekuasaan, pembajakan konstitusi, dan mobilisasi berbayar.