DEMOCRAZY.ID – Konon, di abad ke-7, 8, dan sekitarnya, Baginda Sri dari Kerajaan Sriwijaya mengirim rombongan penting untuk mendatangi tempat yang juga sangat penting.
“Hari ini, aku melepas kalian.” Sabda Baginda, “Maka berangkatlah wahai panglimaku, bersama pasukan dan pemuda-pemuda terpilih, kunjungilah tempat suci di utara, Candi Muara Takus, untuk belajar agama.”
“Siap laksanakan, Baginda.”
“Berhati-hatilah di perjalanan. Hutan lebat. Harimau. Gajah-gajah. Bahkan babi hutan bisa membuat bahaya.” Titah Baginda Sri.
“Eh, maaf Baginda.” Menteri transportasi berbisik, “Perjalanan aman-aman saja.”
“Loh kok bisa?”
“Tidak ada lagi hutan lebat.”
“Hah?”
“Sudah berubah jadi kebun kelapa sawit soalnya.”
Baginda Sri terdiam.
“Tapi sawit ini pohon, bukan?”
“Katanya begitu sih, Baginda. Paling masalahnya sekarang asap saja.”
“Hah?”
“Iya, Baginda, asap kebakaran hutan.”
Demikianlah, zaman telah berubah.
Kerajaan Sriwijaya yang begitu luas dan megah, telah menjadi sawit dimana-mana.
Lantas bagaimana nasib sungai-sungai, yang dulu bisa dilewati kapal-kapal besar hingga berlabuh di dekat candi Muara Takus?
Juga telah berubah.
(Tere Liye, penulis novel “YANG TELAH LAMA PERGI” novel tentang sejarah Kerajaan Sriwijaya)
Potret Candi Muara Takus yang di kelilingi Perkebunan sawit.
menurut kalian miris tidak ? https://t.co/JcG0xPEkl6 pic.twitter.com/EgKIHLXoYG
— Ganda (@Leoruz) September 3, 2026