DEMOCRAZY.ID – Aktivis Muhammad Said Didu menilai ada tiga menteri di Kabinet Presiden Prabowo Subianto yang seharusnya sudah diganti.
Ketiganya adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, serta Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Menurut Said Didu, pergantian ketiga menteri tersebut perlu dipertimbangkan pada tahun kedua pemerintahan Prabowo Subianto.
Langkah itu dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
“Menteri ESDM simbol Solo dan sepertinya menyatakan tetap setia pada Solo dalam kasus Gibran ini saya dengar-dengar isunya,” kata Said Didu, dalam podcast Refly Harun Official, Senin (19/10/2026).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belakangan menjadi sorotan publik menyusul polemik ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji 3 kilogram (kg) yang dilaporkan langka di sejumlah wilayah Indonesia.
Persoalan tersebut memicu perhatian masyarakat karena BBM dan LPG 3 kg merupakan kebutuhan penting bagi aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga mendapat sorotan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Said Didu menyinggung persoalan karhutla yang disebut berlangsung selama berbulan-bulan dan menimbulkan dampak asap di berbagai wilayah.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian serius pemerintah.
Adapun Menteri ATR/BPN Nusron Wahid turut disorot terkait perkara korupsi yang disebut berkaitan dengan lingkungan kementeriannya.
Dalam informasi yang disampaikan, orang kepercayaan Nusron disebut pernah terkena operasi tangkap tangan (OTT).
Nusron juga disebut telah dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan terkait persoalan yang berkaitan dengan kementeriannya.
Namun, pemanggilan untuk pemeriksaan tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan seseorang dalam tindak pidana.
Status hukum dan konteks perkara tersebut perlu merujuk pada keterangan resmi KPK.
Prabowo Sudah Delapan Kali Reshuffle KabinetSejak dilantik pada 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto telah melakukan sejumlah perombakan kabinet atau reshuffle.
Dalam data yang disebutkan, jumlah reshuffle tersebut mencapai delapan kali.
Survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) merekam tingkat persetujuan publik terhadap keputusan Prabowo merombak kabinet.
Sebanyak 62,2 persen responden menyatakan setuju dengan langkah tersebut.
Survei itu dilaksanakan pada 26 September hingga 6 Oktober 2026 melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.
Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,83 persen.
Berikut daftar pejabat yang disebut dilantik Presiden Prabowo pada perombakan kabinet terakhir:
Penilaian Said Didu mengenai tiga menteri yang seharusnya diganti tersebut menambah sorotan terhadap kinerja kabinet Prabowo di tengah berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik.