Peringatan Keras Tokoh Senior: ‘Manuver Politik’ Jokowi Bisa Memakan Banyak Korban Jiwa!

DEMOCRAZY.ID – Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat Amien Rais kembali melontarkan kritik terhadap mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Ia menilai sejumlah manuver politik Jokowi berpotensi memicu gejolak yang lebih besar.

Amien bahkan mengaitkan dinamika tersebut dengan kemungkinan munculnya gerakan people power seperti yang terjadi pada 1998.

“Saya ingin mengingatkan Mas Jokowi tentang bahaya politik dari move-move politiknya yang berbahaya,” kata Amien, dikutip fajar.co.id, Rabu (9/9/2026).

Menurut Amien, Jokowi merupakan figur politik yang sulit melepaskan diri dari kekuasaan.

Ia menilai mantan presiden itu masih berupaya mempertahankan pengaruh politiknya setelah tidak lagi menduduki kursi kepresidenan.

“Jokowi adalah sosok politik yang haus dan lapar kekuasaan tanpa batas,” ujar Amien.

Ia menduga ambisi tersebut juga berkaitan dengan masa depan politik keluarga Jokowi.

“Nah Jokowi memegang teguh ilmu pokoknya, pokoknya saya harus tetap bisa mengendalikan Indonesia, pokoknya anak saya harus berada di puncak piramid kekuasaan,” katanya.

Amien kemudian menyoroti pernyataan Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan Pemilihan Presiden atau Pilpres dipercepat dan tidak menunggu 2029.

Menurut dia, pernyataan tersebut tidak dapat dipandang sebagai ucapan biasa di tengah dinamika politik saat ini.

“Nah omongan Budi Arie yang tidak begitu cerdas didampingi Jokowi bahwa kalau bisa pilpres dipercepat tidak usah menunggu tahun 2029, saya merasa itu sangat mengerikan,” kata Amien.

Budi Arie, kata mantan Ketua MPR RI ini, memang telah meminta maaf setelah pernyataannya menuai sorotan.

Namun Amien menilai permintaan maaf tersebut tidak serta-merta menghapus kecurigaan yang telanjur muncul di masyarakat.

“Sehari kemudian penjahat judol ini minta maaf tetapi tidak ada gunanya. Karena masyarakat sudah menyimpulkan ada makar besar yang sudah disiapkan Jokowi,” ujarnya.

Amien memperkirakan situasi politik dapat berkembang di luar kendali apabila manuver politik tersebut terus berlanjut.

“Tetapi kalau kondisi dan situasinya makin keruh akibat political engineering para pendukung Jokowi yang kebelet ingin berkuasa kembali, perkembangan di lapangan bisa lepas kendali,” katanya.

Ia kemudian mengingatkan kemungkinan munculnya gerakan massa besar seperti pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto.

“Bisa saja terjadi kembali semacam people power yang memuncak pada 21 Mei tahun 1998. Kalau sampai ini terjadi lagi, mungkin akan memakan korban jiwa yang jauh lebih besar,” ujar Amien.

Istilah people power sebelumnya juga pernah digunakan Amien dalam konteks politik Indonesia pada 2019.

Saat itu, ia menjelaskan istilah tersebut bukan berarti perang atau perkelahian antarsesama warga.

Kritik Amien tak hanya diarahkan kepada Jokowi.

Ia juga mempertanyakan sikap Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya belum mengganti Kapolri dan Panglima TNI.

“Pertanyaan besar dan mendasar saya adalah mengapa Presiden Prabowo yang sudah hampir dua tahun berkuasa tidak berani mengganti Kapolri dan Panglima TNI,” kata Amien.

Ia menduga kedua pejabat tersebut masih memiliki kedekatan dengan Jokowi.

“Dua tokoh kita ini menurut saya, ya saya bisa keliru, lahir batin hidup mati demi Jokowi,” ujarnya.

Amien kemudian melontarkan kritik keras terhadap Prabowo.

Ia mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap kepentingan bangsa apabila pergantian pejabat strategis tersebut tak kunjung dilakukan.

Menurut Amien, keberadaan Kapolri dan Panglima TNI yang dianggap masih dekat dengan Jokowi dapat menjadi salah satu faktor yang membuat pengaruh politik mantan presiden itu tetap kuat.

Amien menilai Jokowi belum menunjukkan tanda-tanda berhenti melakukan manuver politik.

“Apakah Jokowi sudah edan? Jokowi tidak edan tetapi nekat dan kenekatannya belum sampai titik saturasi. Titik jenuh belum, masih terus-terus berpencaksilat politik yang berbahaya buat kelanjutan Indonesia,” tuturnya.

Meski mengkritik keras, Amien mengatakan tetap menghargai pihak yang memiliki pandangan berbeda.

Ia menyerukan agar demokrasi tetap dipertahankan.

Namun, Amien juga mengusulkan apa yang ia sebut sebagai “dijokowisasi” menjadi agenda politik.

“Kita hidupkan terus demokrasi, tetapi dijokowisasi harus kita jadikan agenda politik demi masa depan bangsa dan negara Indonesia,” kata Amien.

Artikel terkait lainnya