DEMOCRAZY.ID — Peta relasi kekuasaan di lingkaran elite nasional kembali memanas.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti, blak-blakan membongkar indikasi kuat bahwa mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini mulai ditinggalkan oleh Presiden Prabowo Subianto hingga Partai Golkar.
Menurut Ray, keretakan antara kubu Prabowo dan Jokowi sejatinya sudah mulai merembes sejak beberapa bulan lalu.
Alih-alih merapat, hubungan kedua tokoh tersebut dinilai semakin berjarak seiring berjalannya waktu.
“Ini retak menuju terbelah. Pak Prabowo tarik ulur terus, dan sekarang lebih banyak dilepas,” ujar Ray dalam kanal YouTube Hendri Satrio.
Ray membeberkan sejumlah sinyal kasatmata yang menunjukkan melemahnya pengaruh Jokowi di ring satu kekuasaan saat ini.
Salah satu indikator paling mencolok adalah sikap diam membisu Presiden Prabowo dalam menyikapi pusaran kasus ijazah palsu yang terus mendera sang mantan presiden.
Selain itu, dinamika penegakan hukum turut menjadi sorotan tajam.
Langkah aparat kepolisian yang sempat melakukan penahanan secara dramatis terhadap figur-figur kritikus seperti Roy Suryo dan Dokter Tifa, namun mendadak melunak dan melepaskan mereka usai dilimpahkan ke kejaksaan, dibaca sebagai bentuk lepas tangan kekuasaan terhadap sentimen masa lalu.
Tidak hanya di lingkaran Istana, gelombang pergeseran dukungan juga diklaim mulai terjadi di internal partai berlambang pohon beringin.
Golkar yang sebelumnya diidentifikasikan berada dalam kendali orbit kekuasaan Jokowi melalui figur Ketua Umum Bahlil Lahadalia—yang sempat viral meniru gaya blusukan menyapa warga—kini disebut-sebut mulai beralih haluan.
“Golkar yang Jokowi menempatkan orangnya menjadi ketua umum sekarang, juga mulai beralih,” tutur Ray.
Menghadapi kenyataan kian menyusutnya pengaruh politik di tingkat pusat, Ray menilai langkah safari politik yang akhir-akhir ini kerap dilakukan Jokowi sebenarnya tidak lebih dari upaya penyelamatan darurat.
Manuver tersebut dibaca sebagai strategi mendongkrak kembali popularitas guna memaksa Prabowo agar tetap melirik Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden di Pilpres 2029 mendatang.
Kendati demikian, kalkulasi politik tersebut dinilai kian terjal.
Mengingat rekam jejak historis tatkala Jokowi meninggalkan Megawati Soekarnoputri demi kepentingan kuasa keluarga di masa lalu, kini siklus serupa seolah berputar kembali menghantam posisinya sendiri di hadapan petahana.
“Karena itu, dia safari politik untuk meningkatkan popularitasnya, supaya Gibran tetap dilirik,” pungkasnya.
[FULL VIDEO]