DEMOCRAZY.ID – Analis Politik dan Militer Universitas Nasional Selamat Ginting menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) akan berupaya agar Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapat lolos ke parlemen pada Pemilu 2029.
Menurut Selamat, keberhasilan PSI masuk parlemen menjadi salah satu hal penting bagi kelanjutan pengaruh politik Jokowi.
“Tentu saja Jokowi apa pun dia akan lakukan agar PSI, Partai Solidaritas Indonesia segera masuk di dalam parlemen, karena kalau tidak, wassalam,” kata Selamat, dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (19/8/2026).
Selamat menilai Jokowi telah melakukan persiapan untuk menghadapi Pemilu 2029, termasuk dari sisi finansial.
“Kalau soal dana, Jokowi banyak sekali dananya. Artinya, dalam perang politik itu kan butuh logistik,” imbuhnya.
Menurutnya, Pemilu 2029 akan menjadi momentum penting yang menentukan keberlanjutan pengaruh politik keluarga Jokowi.
“Jadi ini 2029, menurut saya penentuan bagi klan Jokowi. Jadi dari dinasti Jokowi itu akan ditentukan di 2029 ini,” terangnya.
Di sisi lain, Selamat menilai tidak semua partai politik akan membiarkan PSI melenggang begitu saja menuju parlemen.
Menurutnya, sejumlah partai yang memiliki basis pemilih beririsan dengan PSI berpotensi merasa terancam jika PSI berhasil meraih kursi di DPR.
“Tentu saja banyak orang yang nggak nyaman kalau PSI itu muncul di parlemen. Ya, partai di bawah atau menengah itu kan tentu saja akan merasa digerogoti,” ungkapnya.
Ia kemudian menyinggung sejumlah partai yang dinilai memiliki basis pemilih yang berpotensi bersinggungan.
“Terutama seperti PDIP, basis konstituennya sama. Juga Nasdem, apalagi Golkar yang pragmatis pendukungnya. Artinya, siapa yang memberi itu dipilih,” ucapnya.
Selamat menilai keberhasilan PSI masuk parlemen dapat memengaruhi perolehan suara partai lain.
“Saya kira masing-masing partai sedang meneropong PSI, meneropong Jokowi, karena kalau ini naik ke parlemen, mereka siap-siap saja,” imbuhnya.
Selamat juga menilai Presiden Prabowo Subianto terus memperhitungkan langkah politik Jokowi menjelang Pemilu 2029.
“Prabowo pasti berhitung, tidak mungkin Prabowo tidak menghitung Jokowi,” ucapnya.
Ia menilai pertemuan antara Prabowo dan Jokowi di Istana merupakan bagian dari kalkulasi politik.
“Pertemuan di Istana, menurut saya perhitungan politik yang sangat cermat. Terutama supaya pendukung Jokowi juga tidak menyerang Prabowo,” imbuhnya.
Menurut Selamat, perbedaan pandangan politik antara kedua kubu tidak semestinya berkembang menjadi serangan terbuka, terutama di media sosial.
“Walaupun beda pandangan, tapi jangan sampai menyerang. Pertarungan narasi di medsos kan seperti itu,” sambungnya.