Operasi Rahasia Terbongkar? Geng SOP Pimpinan Jokowi Disebut Sukses ‘Lumpuhkan’ Pusat Komando Prabowo!

DEMOCRAZY.ID — Dinamika politik nasional menjelang kontestasi jangka panjang kembali memanas menyusul lontaran kritik tajam dari mantan Menteri BUMN, Muhammad Said Didu, yang menyoroti manuver para elit partai politik koalisi serta cengkeraman kelompok yang diistilahkannya sebagai “Geng SOP” (Solo, Oligarki, dan Parcok).

Tudingan Said Didu: Lumpuhnya Satgas PKH dan Kasat-Kusutnya Parpol Koalisi

Melalui akun X pribadinya pada Minggu (16/8/2026), Said Didu mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi terkini di lingkaran kekuasaan pusat.

Ia menilai bahwa pascaterlumpuhkannya Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH)—yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto melalui Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 untuk memberantas mafia lahan dan menyelamatkan aset negara—peta kekuatan politik mengalami pergeseran signifikan.

“Setelah Geng SOP ‘berhasil’ melumpuhkan pusat Komando Presiden @prabowo yaitu PKH, saat ini pimpinan Parpol koalisi sedang kasat-kusut untuk memaksakan melanjutkan pasangan Prabowo-Gibran 2029 – tentu untuk memenuhi kepentingan SOP,” tulis Said Didu.

Kondisi tersebut dikaitkan dengan goncangan internal di dalam Satgas PKH menyusul penetapan tersangka terhadap Febrie Adriansyah (yang saat itu menjabat Ketua Pelaksana Satgas PKH sekaligus Jampidsus) atas kasus dugaan korupsi dan TPPU, yang dinilai melemahkan daya gedor penegakan hukum terhadap para pelanggar kawasan hutan.

👇👇

Instruksi Jokowi ke PSI: Kawal Prabowo-Gibran Dua Periode

Di sisi lain, arah dukungan politik jangka panjang terhadap kepemimpinan nasional tampak ditegaskan kembali oleh lingkaran terdekat mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, sebelumnya mengungkapkan bahwa Jokowi secara langsung memberikan instruksi kepada jajaran PSI saat melakukan pertemuan di Solo pada Kamis (18/6/2026) lalu.

Instruksi tersebut menggarisbawahi komitmen partai untuk mengawal jalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara berkesinambungan.

“Kepada kami beliau menyampaikan kok bahwa kita itu diminta untuk mengawal Pak Prabowo-Gibran ini, bahkan ya, bahkan, bahkan sampai dua periode. Jadi nggak ada itu fitnahan, fitnahan tentang bakal ada dua matahari. Matahari gimana bisa dua? ada-ada aja,” ujar Bestari, Jumat (18/6/2026).

Pernyataan ini sekaligus merefleksikan tarik-menarik diskursus politik di ruang publik, di mana upaya konsolidasi dukungan koalisi untuk keberlanjutan kepemimpinan petahana beriringan dengan kritik tajam dari para tokoh independen dan pengamat terhadap konfigurasi kekuasaan saat ini.

Artikel terkait lainnya