Chaos Besar Pecah! Rencana Presiden Jabat 3 Periode Picu Amukan Massa Turun ke Jalan Lawan Konstitusi

DEMOCRAZY.ID – Puluhan orang ditangkap dalam demonstrasi menentang rencana perubahan konstitusi di Republik Demokratik Kongo, yang membuka jalan bagi Presiden Felix Tshisekedi untuk mencalonkan diri ke masa jabatan ketiga.

Demonstrasi digelar di Ibu Kota Kinshasa dan sejumlah kota besar lainnya.

Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Kantor berita Reuters juga melaporkan polisi melepaskan tembakan peringatan di Kinshasa.

Aksi tersebut digelar atas seruan Coalition Article 64 (C64), aliansi oposisi yang menentang perubahan konstitusi yang dapat memperpanjang masa kekuasaan Tshisekedi.

Di Kinshasa, ratusan demonstran turun ke jalan sambil membawa bendera berbagai partai politik.

Menurut saksi Reuters, demonstrasi awalnya berlangsung damai sebelum bentrokan terjadi antara pendukung oposisi dan kelompok pendukung pemerintah.

Jean-Marc Kabund, salah satu anggota C64, menuduh anggota Force for Progress, kelompok pemuda informal yang terkait dengan partai berkuasa, menyerang demonstran menggunakan parang dan senjata tajam lainnya.

Polisi kemudian membubarkan aksi tersebut.

Timothee Mbuya dari lembaga swadaya masyarakat Justicia mengatakan sekitar 70 orang ditangkap di Provinsi Haut-Katanga.

Koordinator Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Haut-Katanga, Joseph Kongolo, mengatakan polisi yang didampingi tentara membubarkan demonstrasi di Lubumbashi, pusat pertambangan di tenggara Kongo, serta di Likasi dan Kasumbalesa.

“Pasukan polisi dalam jumlah besar ditempatkan di seluruh titik pertemuan para demonstran,” kata Kongolo kepada wartawan, dikutip dari media Anadolu Agency, Rabu, 16 September 2026.

Namun, Komandan Polisi Provinsi Katanga Blaise Kilimbalimba membantah laporan mengenai penangkapan demonstran yang melakukan aksi secara damai.

Di Mbandaka, ibu kota Provinsi Equateur di barat laut Kongo, aktivis mengatakan sekitar 10 orang ditangkap, sementara sekitar 100 aktivis dibubarkan aparat.

Gentil Nsefu dari gerakan warga Struggle for Change mengatakan pasukan polisi dalam jumlah besar telah dikerahkan sejak dini hari di sejumlah titik strategis di Mbandaka.

Aksi serupa juga dilaporkan dibubarkan di Kisangani, ibu kota Provinsi Tshopo.

Polemik Tiga Periode

Mantan calon presiden Martin Fayulu, salah satu pemimpin C64, mengatakan pihak oposisi mempertimbangkan mengajukan pengaduan internasional terhadap Tshisekedi terkait kekerasan yang dialami aktivis oposisi.

“Dia ingin tetap berkuasa selama mungkin. Itu tidak akan berhasil,” kata Fayulu kepada wartawan.

Konstitusi Kongo saat ini membatasi presiden untuk menjalani maksimal dua masa jabatan selama lima tahun.

Parlemen pada Juni mengesahkan rancangan undang-undang yang memungkinkan perubahan konstitusi diajukan melalui referendum.

Anggota koalisi pendukung Tshisekedi telah mendukung perubahan yang dapat memungkinkan presiden tetap menjabat.

Tshisekedi sendiri menjabat sejak 2019 dan terpilih kembali pada 2023.

Ia sebelumnya menyatakan terbuka untuk mencalonkan diri kembali apabila perubahan tersebut mendapat persetujuan melalui referendum.

Pemerintah menyatakan hak untuk melakukan demonstrasi diakui dalam konstitusi, tetapi harus dilakukan sesuai ketentuan.

Juru bicara pemerintah Patrick Muyaya juga menuduh oposisi menyebarkan informasi keliru dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Protes terbaru berlangsung ketika Kongo juga menghadapi sejumlah persoalan lain, termasuk wabah Ebola serta konflik berkepanjangan di wilayah timur negara tersebut.

Sebelumnya, pada Juni, sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya terluka ketika aparat keamanan melepaskan tembakan untuk membubarkan demonstrasi yang menentang rencana perubahan konstitusi.

Artikel terkait lainnya