DEMOCRAZY.ID – Foto Presiden Prabowo Subianto berjalan bersama sejumlah pemimpin dunia di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 justru menjadi bahan sindiran sutradara dokumenter Dandhy Dwi Laksono.
Melalui akun X pribadinya, Dandhy mengunggah foto yang memperlihatkan Prabowo berjalan bersama Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden China Xi Jinping.
Di atas unggahan tersebut, Dandhy menulis kalimat singkat namun tajam: “Tidak relevan, tidak signifikan, tak terlihat,” tulis Dandhy, Senin (14/9/2026).
Dalam unggahan lainnya, Dandhy menulis lebih provokatif:
“Macan Asia ❌
Micin Asia ✅”
Unggahan tersebut kemudian menarik perhatian besar pengguna media sosial.
Tangkapan layar yang beredar menunjukkan unggahan Dandhy mendapat ribuan interaksi dan ratusan ribu tayangan.
👇👇
Macan Asia ❌
Micin Asia ✅
— Dandhy Laksono (@Dandhy_Laksono) September 13, 2026
Sindiran itu muncul ketika Prabowo memang tengah berada di panggung diplomasi internasional.
Presiden menghadiri KTT ke-18 BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada 12–13 September 2026 sebagai anggota penuh BRICS.
Menariknya, foto yang digunakan Dandhy bukan sekadar pertemuan biasa.
Pemerintah Indonesia sendiri sebelumnya menyoroti momen keakraban Prabowo dengan Modi, Putin, dan Xi Jinping menjelang pembukaan KTT BRICS.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak mau menjadi bangsa yang didikte oleh bangsa lain. Ia menyampaikan itu pada rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026). Sesi itu diikuti para pemimpin negara… pic.twitter.com/AqUEtHwEtV
— BeritaSatu (@Beritasatu) September 13, 2026
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut keempat pemimpin tersebut berbincang dalam suasana hangat dan bersahabat sebelum sesi pembukaan dimulai.
ANTARA juga memberitakan momen tersebut sebagai perbincangan hangat Prabowo dengan tiga pemimpin negara besar.
Namun, bagi Dandhy, visual tersebut tampaknya tidak otomatis menjadi bukti bahwa Indonesia telah tampil sebagai kekuatan besar di Asia.
Frasa “Macan Asia” yang selama ini digunakan untuk menggambarkan ambisi kebangkitan Indonesia justru ia balik menjadi “Micin Asia”, sebuah sindiran yang mempertanyakan substansi di balik pencitraan kekuatan Indonesia.
HADIRI KTT BRICS PRESIDEN PRABOWO BERI PESAN UNTUK DUNIA
Baca JugaMusibah di dalam negeri juga ditangani pemerintah secara paralel, sementara kepentingan strategis bangsa di luar negeri juga tidak boleh ditinggalkan.#Marinal Mari Kita Nalar!
Source : Tiktok @pugarnalar pic.twitter.com/ERB2bYvOYn
— Fíat volúntas túa (@segaratimor) September 14, 2026
Istilah “Macan Asia” sendiri bukan narasi yang muncul begitu saja.
Sejumlah pihak di pemerintahan sebelumnya memang menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan target Indonesia kembali menjadi kekuatan ekonomi dan politik penting di kawasan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, misalnya, pada Desember 2025 menyebut kebijakan pemerintahan Prabowo dan pembentukan Danantara diarahkan untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi Indonesia agar kembali menjadi “Macan Asia”.
ANTARA bahkan memuat telaah berjudul “Macan Asia: Presiden Prabowo di mata Trump” setelah pertemuan Prabowo dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Februari 2026.
MOMEN PRESIDEN PRABOWO IKUT MENYIRAM BIBIT POHON PADA KTT BRICS DI INDIA HARI INI (12/09/2026)
Baca JugaApakah beliau langsung mengingat KALIMANTAN yang masih TERBAKAR dan butuh disiram juga?😭😭 https://t.co/s7s37bkWMX pic.twitter.com/QsnhubzJcW
— komisaris netizen (@komisarisnetzen) September 12, 2026
Dalam tulisan tersebut, Prabowo digambarkan semakin memperoleh posisi strategis dalam diplomasi internasional.
Tetapi tidak semua pengamat melihat ambisi “Macan Asia” sebagai ukuran yang tepat.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal sebelumnya justru mengingatkan agar Indonesia tidak terlalu mengejar citra sebagai “Macan Asia”.
Menurut Dino, ruang yang lebih realistis bagi Indonesia untuk menjadi kekuatan utama adalah ASEAN.
“Kita tidak perlu jadi macan Asia, kita perlu jadi mesin ASEAN,” kata Dino sebagaimana dikutip ANTARA.
Ia menilai Indonesia mempunyai peluang lebih besar memimpin kawasan Asia Tenggara dibanding mengejar posisi dominan di forum global.
” Kami tidak suka didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu. Kita harus tangguh dan kemudian kita akan benar-benar mandiri. Kami telah memperkuat fondasi kami untuk menjaga perdamaian dan membangun kepercayaan.” Prabowo Subianto.
Gampangnya, Presiden Prabowo mau bilang kalau… pic.twitter.com/NaNpYLnTfM
— key (@99propaganda) September 13, 2026
Di sisi lain, pemerintah menilai kehadiran Prabowo di KTT BRICS mempunyai arti strategis.
Sekretariat Negara menyebut keikutsertaan Indonesia sebagai anggota penuh BRICS merupakan bagian dari upaya memperkuat peran aktif Indonesia dalam kerja sama multilateral sekaligus mendorong tatanan ekonomi global yang lebih seimbang dan inklusif.
Dalam KTT tersebut, Prabowo membawa sejumlah pesan mengenai kemandirian dan ketahanan nasional, persatuan Global South, serta penguatan kerja sama BRICS dan tata kelola global yang lebih adil.
Janji Manis Prabowo di BRICS: Mengubah Kerentanan Iklim Menjadi Peluang Ekonomi
Prabowo secara eksplisit menyebut Indonesia berada di Ring of Fire, menghadapi bencana alam, kenaikan permukaan laut, dan cuaca ekstrem, tetapi langsung mengaitkannya dengan potensi mineral kritis,… pic.twitter.com/4wabISuJwC
— Jawa (@independentjawa) September 13, 2026
Prabowo juga menyampaikan bahwa BRICS dapat memberikan suara yang lebih kuat bagi negara-negara Global South dalam pembentukan tata dunia.
KTT BRICS 2026 sendiri berlangsung di tengah perubahan peta geopolitik dunia.
Reuters melaporkan bahwa Presiden Xi Jinping mendorong penguatan “Greater BRICS”, termasuk kerja sama AI, perdagangan, politik dan keuangan.
BRICS kini beranggotakan 11 negara, termasuk Indonesia.
Karena itu, unggahan Dandhy memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah keakraban dengan pemimpin dunia dan keanggotaan Indonesia di BRICS sudah cukup untuk menyebut Indonesia sebagai “Macan Asia”, atau kekuatan tersebut harus dibuktikan melalui capaian ekonomi, teknologi, industri, militer, dan pengaruh diplomatik yang nyata?
Dandhy sendiri tidak menjelaskan lebih panjang maksud kalimat “Tidak relevan, tidak signifikan, tak terlihat” dalam unggahan tersebut.
Namun, pilihan kata “Macan Asia” yang dicoret dan diganti menjadi “Micin Asia” menunjukkan kritik tajam terhadap narasi kebesaran Indonesia di tengah panggung geopolitik global.
Dengan kata lain, foto Prabowo berdiri bersama Modi, Putin dan Xi boleh terlihat megah.
Tetapi bagi Dandhy Laksono, persoalannya bukan siapa yang berdiri di dalam foto, melainkan seberapa besar kekuatan Indonesia yang benar-benar terlihat di balik foto tersebut.