Soroti Pengakuan Prabowo Soal Syahadat, Goenawan Mohamad: Menarik dan Aneh!

Signature: kW2GA8Y9LPiIePe7p2flnfMwUDH9cZb9kIvLUZZsgt+kGtbH7S/XxRcuMFPE3ChgynwB4PY0NgdlPXQHjGX3r39pKdSQER07WPPUfELNkdCQ1HtUSBsQ+Nw+71ycDSN8Y5tvhxT7lgLVgA2rx7y4xIIirnlSX74Bu6dst+k1hUc/ucObDbvThkTAHmdt7UZGK72TarD+vY0ZxMOrAXZu/zGLP2sefUdflAA7vsf7T3rxUZTLFSevDMyB86HbB5Oub9IoZHqSQ2QPbaNiaB1QaLWn/ZYaoVkWUFYzGzW1w1DX+4/yQKWogyU8+SpGshkvjWFbP1coVdSHkrCTs1UJYDFTw8wKnkQ1wtFIpU4GdkIhX3Otcge+1DRVccHNHeYGzoqZUA+EfziEaM/i3TD6RYhcxewhxXMgnHPAixcYOkOxhBcZxAfuH3T6nPfunLCw9T9/I0aR5SuTUn2fn5rnteDE3ATV9lnDCnRI9FIQGcQOnYQ9Ir/co1xtDX2ldx4oftlBszgy1+P+jqKqjDJhhW/mQvW6FzWfk91IDJiOZub1nXLD3rsaIyf/kmOFoAcq1M4NpCfFSEC38dGeX5fWk0nhAiUrA7gvzzOGwNdYZ/zRcDTkLX6uO+LHuay0I6/2tu+/xkqJtVojvcze4pN1cEM8xSizLf8Bw/r1pM6jfw6+rqRyaAuFwcLj76rzbefbTkxSkmEPzaEwo5QK/Xh2pL2z4gJm6Sk+MEQtsaiaEZxCoCuKPCt5QnTMnHtpv8pjq4YAC4JeNqy0M/GB98A5SFXLRVs1IrWJgN0RLLlugOqnz6dGy0qjDKKbDYBjIe4ppPoabWpJhgGBhBBCKoWP5K4+M2J1qLhytJ6DsKrdquIrh4wjkC1Qb3LarbK1o59Te5HpmDZarzeZwgKcgLUdrqzRQFCpjgv/q0d7eBzktZeC3tU9VtzsimSvYmEzuiHgJETR3Y5mfPyq6cHUdCMvLYOS2C1OwT0fJILq2wtfC20=

DEMOCRAZY.ID – Wartawan senior Goenawan Mohamad menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku sepanjang hayatnya baru tiga atau empat kali mengucapkan kalimat syahadat.

Goenawan menilai pernyataan tersebut menarik sekaligus aneh.

Ia mempertanyakan pengakuan itu jika dikaitkan dengan praktik ibadah seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

“Presiden Prabowo menyatakan dengan lantang—dengan menepuk dada—bahwa sepanjang hayatnya ia sudah tiga atau empat kali mengucapkan kalimat syahadat. Ini pernyataan yang menarik—dan aneh,” tulis Goenawan di akun X (Twitter), Senin (14/9/2026).

Menurut Goenawan, mengucapkan kalimat syahadat bagi seorang Muslim di Indonesia abad ke-21 bukanlah sesuatu yang semestinya menjadi hal yang dibanggakan.

Terlebih, menurut dia, tempat untuk melaksanakan salat kini tersedia hampir di mana-mana.

Ia menjelaskan, syahadat merupakan bagian yang melekat dalam rangkaian ibadah umat Islam.

Kalimat syahadat dibaca dua kali dalam setiap azan dan satu kali dalam iqamah.

“Sehabis itu, syahadat—sebuah kesaksian batin, sebuah pernyataan iman yang dalam—dibisikkan dengan khusyuk dalam proses sembahyang. Orang yang duduk di sebelah pun tak akan mendengarnya,” ujar Goenawan.

Dengan demikian, Goenawan membuat perhitungan bahwa seorang Muslim yang menjalankan salat setiap hari pada dasarnya mengucapkan syahadat berkali-kali.

“Dengan kata lain, tiap hari, tiap shalat, seorang muslim membisikkan­nya minimal sebanyak sembilan kali,” tulisnya.

Atas dasar itu, Goenawan menganggap pengakuan Prabowo tersebut menjadi sesuatu yang menarik untuk dicermati.

Sebab, jika Prabowo yang kini berusia mendekati 75 tahun menyatakan sepanjang hayatnya hanya tiga atau empat kali mengucapkan syahadat, angka tersebut tampak sangat berbeda dengan kebiasaan ibadah seorang Muslim yang menjalankan salat secara rutin.

“Karena itu menarik jika seorang lansia berusia mendekati 75 tahun, sepanjang hayatnya hanya mengucapkan syahadat sebanyak tiga atau empat kali saja,” kata Goenawan.

Meski demikian, Goenawan menyatakan tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan atau memberikan penilaian terhadap pernyataan Presiden Prabowo tersebut.

Ia justru membuka kemungkinan bahwa perhitungan ataupun pemahamannya sendiri yang keliru.

“Tapi sebaiknya saya tak tergesa-gesa menilai. Siapa tahu hitungan saya salah,” tulisnya.

Pernyataan itu kemudian disampaikan Goenawan dengan nada satiris.

Ia mengaitkannya dengan munculnya istilah “Islam ala Prabowo” serta pernyataan-pernyataan Prabowo sebelumnya yang menurutnya menunjukkan adanya cara berhitung yang khas.

“Sebab kini diumumkan ada ‘Islam ala Prabowo’ dan belum lama ini diketahui ada ‘ilmu hitung’ ala Prabowo,” tulis Goenawan.

👇👇

Artikel terkait lainnya