DEMOCRAZY.ID – Penulis kondang Tere Liye melontarkan kritik pedas terhadap Pidato Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS yang menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah membangun bangsa mandiri.
Melalui unggahan di akun media sosialnya, Tere Liye membeberkan data dan fakta bahwa negara-negara pendiri BRICS sejatinya sudah menerapkan program serupa jauh sebelum Indonesia.
“BRICS itu anggota awalnya: Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan,” ungkap Tere Liye, Minggu (13/9/2026).
Pria yang dikenal sebagai akuntan ini pun membeberkan seperti apa program MBG di negara-negara tersebut.
1. India, mulai sejak 1995, secara nasional. Namanya PM POSHAN. Berapa jumlah penerimanya? 120 juta anak sekolah. Nyaris semua anak dikasih.
2. China, mulai sejak 2011, dengan jumlah penerima 40 juta. Namanya Yíngyǎng Cān. Selektif. Pedalaman dan desa tertinggal. Di kota-kota besar dan maju, program makan siangnya mandiri.
3. Brasil, sejak 1955, namanya PNAE. Penerima 40 juta. Juga hampir semua anak dikasih.Afrika Selatan, sejak 1994, namanya NSNP, penerimanya 9 juta. Selektif anak-anak dari keluarga miskin.
Selain membandingkan sejarah penanganan gizi anak di negara-negara anggota BRICS, Tere Liye juga menyentil berbagai persoalan teknis pelaksanaan MBG di dalam negeri.
Alumni Fakultas Ekonomi UI itu menyoroti kasus keracunan makanan yang sempat menimpa puluhan ribu anak sekolah serta efisiensi anggaran dan keterlibatan lembaga penegak hukum dalam pengelolaan dapur umum.
“Entahlah, apa poinnya membangga-banggakan MBG ini ke negara-negara lain yang jelas-jelas sudah lama melakukannya. Kecuali elu mau membanggakan: betapa korupnya MBG di sini, puluhan ribu anak keracunan, makanan seupil entah apa gizinya. Yayasan Polisi dan Tentara sejahtera banget dengan kocoran duit triliunan. Yes, yang satu ini kok nggak dibahas di BRICS?” tanya Tere Liye.
Unggahan tersebut mendulang beragam respons dari warganet yang memperdebatkan efektivitas serta evaluasi pelaksanaan program MBG ke depan.
👇👇
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bangsa yang tangguh dan mandiri berawal dari pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).
KTT yang dihadiri PM India Narendra Modi, Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan para pemimpin negara Global South lainnya itu membahas penguatan kerja sama dan suara negara-negara selatan.
Ingatkan Semangat KAA 1955Dalam sesi terbatas, Prabowo mengawali pidatonya dengan mengingatkan pentingnya persatuan negara-negara belahan bumi selatan.
Ia mencontohkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 yang membuat suara negara-negara baru merdeka didengar dunia.
“Suara Indonesia di belahan bumi selatan kini didengar setelah KAA 1955. Negara-negara yang saat itu baru meraih kemerdekaan bersatu sebagai mitra setara. Dengan bersatu, suara kami terdengar lebih luas,” kata Prabowo dalam siaran YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (13/9/2026).
“Kepentingan kami dapat lebih terlindungi dan diperjuangkan. Pelajaran ini tetap sangat penting. Dengan bersatu, kami juga menjadi lebih kuat,” lanjutnya.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak mau menjadi bangsa yang didikte oleh bangsa lain. Ia menyampaikan itu pada rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026). Sesi itu diikuti para pemimpin negara… pic.twitter.com/AqUEtHwEtV
— BeritaSatu (@Beritasatu) September 13, 2026
Kekuatan Dimulai dari Dalam NegeriPrabowo menekankan, kekuatan suatu bangsa selalu berawal dari kondisi di dalam negeri.
Negara harus mampu memberi makan, energi, pendidikan, dan kesejahteraan kepada rakyatnya.
“Kekuatan selalu berawal dari rumah, dari rakyat kita, dari kemampuan kita untuk memberi makan rakyat kita, untuk menyediakan energi yang mereka butuhkan, untuk mendidik anak-anak kita, dan untuk memberi mereka kesempatan untuk sejahtera. Itulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan benar-benar mandiri,” ujarnya.
Ia juga menegaskan Indonesia tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan mana pun.
⚠️ 𝗣𝗿𝗮𝗯𝗼𝘄𝗼 𝗧𝗼𝗹𝗮𝗸 𝗗𝗶𝗸𝘁𝗮𝘁𝗲 𝗔𝘀𝗶𝗻𝗴, 𝗨𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗟𝘂𝗮𝗿 𝗡𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗻𝘁𝘂𝗶‼️
Pidato Presiden Prabowo di KTT ke-18 BRICS, New Delhi, 12 September 2026, menuai kritik.
Pengamat HI Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai BRICS harus menjadi… pic.twitter.com/2wdqqz5qvY
— RL (@RA_leather) September 13, 2026
Menurutnya, ketangguhan dalam negeri adalah fondasi untuk menjaga perdamaian dan membangun kepercayaan.
“Dengan fondasi yang begitu kuat, saya yakin BRICS akan terus memperkuat kerja sama di bidang-bidang yang berdampak langsung pada ketangguhan kita,” kata Prabowo.
Salah satu contoh kerja sama konkret yang disebut Prabowo adalah di sektor energi.
Indonesia, kata dia, tengah mendorong konektivitas sistem energi dan memperkuat ketahanan energi di kawasan.
“Kami sedang menghubungkan sistem energi dan memperkuat ketahanan energi di seluruh kawasan kami untuk menggerakkan ekonomi serta membangun ketangguhan jangka panjang,” imbuhnya.
Di KTT Brics Prabowo menyiram bibit pohon simbolis menjaga kelestarian alam
Baca JugaMeanwhile di negaranya sendiri alam di rusak untuk diganti sawit!! pic.twitter.com/U3EmLTOleY
— boi (@osamudajaii) September 12, 2026