Sentilan Pedas Budayawan Senior Sujiwo Tejo: Prabowo Itu Enggak Cocok Jadi Presiden!

Signature: tbm1G1nfTKNIWR43V/DhBL+QbUvEznTARdi1XCZRy1PPRCyioYvzWsiS2BlTbQb4YIPXKTuiMRvMiz2jckesxq3DuPpUHl7Bv1MwjRftxXBhaKvijT9FV/4jdcJZz0xGlLLGWP+UDYD5IDgXvbg6GPr0ymOhpztSMudxC21dGa68YHZoYx+PAi6TDpQSOnZ57I+7k5TdEXWtwRuejtFwLnfmTXLNAmxw0vUs6Y8sx1sUKU3+Ks4PtCLpzumqFvqcevNhwEMZuE87OFA83PygG/VhYYk35h1/8jaSW9MWTiVXrEac7QuDtiS9wVd4V5I4zWxSDrj+DOhP/1h908CIKrh6+clRbav5WWcOQLp+8Ji1MSRTNltZkNMnNLFIbmx7pbbSQHaC1luGr4YTkPCRzucJ7iEnwe2ltv6lJ4r20wAqY/5FF76TR8uxYezntvfHABdwMdsOY41WqxRaZaWTVxdoxnCSiQJ9cfcjTFtaypyLmrF0fdNDOYfdUQYXFPbipUlbW2dC5HabG5tjixa39s+ZS9QklFfGJBmBu7vE+updNrmp1sMU0Mt5II8vJLr+36MVRz99kquIDZEKR6hFYmnyxdveo5LggTXyE3tCvzb+xiXf+r+RCs0wT1UKS6p42jZAoBmf+AxLkz9EUQqBcS8ai+EoP/+Ci2WJ6V1UIsO2Dix1VyQcqx5i3Wodf/4PGiQcIeNIzPIP0wloofMAWm6AGkqUoaHYHLjnePFW14VWo3ZOGvqFKcU+ZC0Mcv4pUzF3HTSrKVQGW3cS76xxqjG2MCLUL7BRzlSZqL6HK/3k4lQiFcryPW3pABC/8DbS093xqA5Gtzem/weZYdpk7iiWCxoJppvewrtAvuSX+bwltTBLkrlJH5SomNUuh5FzkYaxQ/v76b+0o8osKq+o11cSC7MTDz5rXdnIAatAvbFGag2SW6u/AnmJbH1OuVZSIjgrp36ExE/cBYwDqgpQBbOidL1kD0l9fibGrGeEF9k=

DEMOCRAZY.IDBudayawan, Sujiwo Tejo, menggunakan pendekatan budaya Jawa dan kisah pewayangan untuk membaca karakter kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam sebuah podcast, Sujiwo mengibaratkan sosok Prabowo dengan Boma Narakasura, tokoh pewayangan yang merupakan putra Kresna.

Dolayısıyla Sujiwo, karakter Boma tidak hanya dikenal memiliki kesaktian, tetapi juga memiliki perjalanan hidup yang penuh dengan penderitaan.

Pandangan tersebut disampaikan Sujiwo dalam podcast Gaspol People yang tayang di YouTube Kompas.com, Sabtu (13/6/2026) lalu.

Prabowo Diibaratkan Boma Narakasura

Sujiwo terlebih dahulu menjelaskan alasan dirinya memilih Boma Narakasura sebagai gambaran untuk melihat sosok Prabowo.

Ia menyebut tokoh tersebut memiliki hubungan dengan Kresna sekaligus Dewi Pertiwi.

“Aku membayangkan bahwa Prabowo itu kalau di wayang seperti anaknya Kresna namanya Boma, Boma Narakasura,” ujar Sujiwo, Minggu (13/9/2026).

Hanya saja, di balik kekuatannya, Boma juga digambarkan memiliki perjalanan hidup yang tidak mudah.

“Itu sangat sakti, karena Boma Narakasura itu ibunya adalah Dewi Pertiwi. Ibunya ibu bumi, tapi hidupnya banyak ngenesnya,” tukasnya.

Pemimpin Perlu Berkorban

Dari karakter Boma Narakasura tersebut, Sujiwo kemudian mengaitkannya dengan tantangan yang dihadapi seorang pemimpin.

Menurut dia, seorang kepala negara terkadang perlu menunjukkan pengorbanan secara langsung di hadapan rakyat.

Sikap tersebut dianggap dapat membentuk persepsi publik terhadap pemimpin.

Sujiwo kemudian memberikan pandangannya mengenai bentuk pengorbanan yang menurutnya perlu ditunjukkan seorang pemimpin.

“Jangan-jangan Pak Prabowo perlu melakukan itu. Berdarah-darah korbankan dirinya di depan mata rakyat,” jelasnya.

Sentil Aktivitas Presiden di Luar Negeri

Sujiwo juga membawa pembahasannya pada persepsi masyarakat terhadap aktivitas seorang presiden.

Salah satunya berkaitan dengan perjalanan kepala negara ke luar negeri yang kerap menjadi bagian dari sorotan publik.

Ia memberikan ilustrasi mengenai sikap seorang pemimpin yang memilih membatasi aktivitas tertentu sebagai bentuk pengorbanan atau pertapaan politik.

“Misalkan enggak pernah ke luar negeri, misalkan aku Tak Tapa Amukti Palapa, misalkan, misalkan Amukti Palapanya ya karena aku dikritik presiden yang terbanyak ke luar negeri,” tandasnya.

Selain menggunakan perspektif pewayangan, Sujiwo juga memberikan penilaian terhadap karakter Prabowo dalam menjalankan kepemimpinan.

Ia menekankan bahwa ada sisi emosional dalam diri Prabowo yang menurutnya berpengaruh terhadap cara mengambil keputusan sebagai presiden.

“Prabowo itu enggak cocok jadi presiden, banyak enggak tegaannya,” kuncinya.

👇👇

Artikel terkait lainnya