DEMOCRAZY.ID – Pendiri Partai Ummat Amien Rais menyebut Presiden Prabowo segera mencopot Kapolri Listyo Sigit dan Panglima TNI Agus Subiyanto.
“Saya bisa simpulkan, bahwa Prabowo tidak berani mengganti Kapolri dan Panglima, selama itu pula Jokowi terus menggebu untuk terus berkuasa,” kata Amien Rais dikutip dari YouTube Amien Rais Official, Sabtu (12/9/2026).
Tidak digantinya dua sosok itu, menurutnya menjadi pertanyaan besar.
“Pertanyaan besar dan mendasar saya adalah mengapa Presiden Prabowo yang sudah hampir dua tahun berkuasa, tidak berani mengganti Kapolri Sigit Listyo dan Panglima TNI Mas Agus Subiyanto,” paparnya.
Padahal, menurutnya dua pimpinan lembaga negara tersebut merupakan loyalis Jokowi.
“Dua tokoh kita ini menurut saya. Saya bisa keliru, lahir batin hidup mati demi Jokowi,” ucapnya.
Di sisi lain, Amien Rais mengatakan banyak pihak menyebut Jokowi edan.
Namun menurutnya tidak, hanya nekat saja.
“Apakah Jokowi edan? Jokowi tidak edan, tapi nekat. Dan kenekatannya belum sampai titik saturasi, titik jenuh. Belum,” terangnya.
Ke depan, dia memprediksi manuver politik Jokowi akan terus berbahaya.
“Masih terus berpencak silat politik yang berbahaya bagi kelanjutan Indonesia,” ucapnya.
Karenanya, dia menyerukan de-Jokowisasi.
Agar pengaruh Jokowi tidak lagi kuat.
“Kita hidupkan demokrasi. Tetapi De-Jokowisasi harus kita jadikan agenda politik demi masa depan bangsa,” pungkasnya.
Lebih jauh, dia melihat Jokowi sekarang telah menyiapkan makar sebelum Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.
Hal tersebut menurutnya tercermin dari pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi di hadapan Jokowi, yang sempat viral beberapa waktu lalu.
“Omongan budi Arie Setiadi yang tidak begitu cerdas didampingi Jokowi, bahwa kalau bisa Pilpres dipercepat tidak usah menunggu tahun 2029, merasa itu sangat mengerikan,” kata Amien Rais.
Bahkan sekalipun pihak Budi Arie sudah minta maaf.
“Kemudian penjahat judol ini minta maaf, tetapi tidak ada gunanya karena ada makar besar yang sudah disiapkan Jokowi,” terangnya.
Dia meramal adanya potensi adanya political enginering yang dirancang agar poros Jokowi kembali berkuasa.
“Tetapi kalau kondisinya masih terjadi political enginering, para pendukung Jokowi yang ingin berkuasa kembali, perkembangan di lapangan bisa lepas kendali,” ucapnya.